Menguntai Serpihan Batam

Saat mentari menyurut menuju senja, untaian pulau-pulau di Batam laksana mozaik sel spora lewat mata mikroskop. Batam adalah kota yang berbatasan dengan dua negara tetangga, Singapura dan Malaysia. Mengenal Batam adalah mengenal wajah negeri kita sekaligus batas kepemilikan tanah yang berdaulat.Foto-foto: Taufan Wijaya

Foto-foto: Taufan Wijaya

Batam sesungguhnya terdiri dari tiga pulau, yaitu Batam, Rempang dan Galang yang dihubungkan oleh jembatan Barelang. Namun dari tiga pulau tersebut terdapat pulau-pulau kecil yang tersebar.

Batam hanya bagian kecil dalam gugusan lebih dari dua ribu pulau di pemerintahan Kepulauan Riau. Sejarah mencatat keteguhan Suku Laut dari abad ketujuh yang hidup di perairan Batam. Mereka menjadi penakluk ombak, angin, dan perubahan iklim di jalur pelayaran Singapura yang ramai.

Terdiri dari 12 kecamatan dan ditetapkan sebagai kawasan perdagangan bebas (Free Trade Zone), Batam kemudian tumbuh menjadi kota urban yang sibuk.

Kiranya hanya Batam yang memiliki tiga pelabuhan internasional yang modern dalam satu kota (Pelabuhan Batam Center, Sekupang, dan Harbour Bay). Pelabuhan yang melayani rute domestik antarpulau jumlahnya lebih banyak.

Di satu siang yang terik di tengah Februari, dengan menumpang kapal milik pemerintah Batam saya melihat pulau Batu Berantai. Pulau ini adalah pulau terluar Indonesia yang berjarak sangat dekat dengan Singapura. Pulau yang hanya diisi satu bangunan suar ini telah rampung direklamasi. Sehingga meski dalam pasang laut tertinggi, daratan di pulau yang berisi bebatuan ini masih tampak.

Saat mengelilingi pulau ini, kapal kami berpapasan dengan patroli laut Singapura di perairan internasional. Ketika memutar, sinyal telepon selular masih menunjuk operator telepon Singapura dengan berbasis 3G. Dalam perjalanan itu kami mengunjungi Pulau Pelampong yang hanya dihuni sepuluh keluarga. Juga Pulau Pemping yang berisi genset raksasa sebagai penyuplai listrik.

Mengenal jalinan pulau-pulau di Batam yang tersebar di seantero selat adalah belajar mencintai tanah air. Martabat negeri tak hanya hidup dari heroisme Hang Nadim, tokoh Melayu yang melawan Portugis di Melaka. Tapi juga menghayati keindahan dan kehidupan yang tersemat di dalamnya.
pulau-batam_taufanwijaya2013Kawasan Indonesiabatam_laut_taufanwijaya

About these ads

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s