OB = Office “bad luck” Boy

Melihat pekerjaan sehari-hari office boy (OB) di kantor membuat saya teringat pesan ibu belasan tahun lalu. Tentang bagaimana bersikap pada hidup, yang berdampak bagi orang lain.

Saya dititipkan tinggal di rumah eyang waktu SMP. Pada hari sekolah saya tinggal di rumah eyang supaya tidak perlu menempuh perjalanan jauh tiap pagi ke sekolah.  Suatu hari saya pulang ke rumah di akhir pekan. Sampai di rumah saya makan kemudian mencari barang-barang untuk bermain.

Saya mengotak-atik barang apa saja untuk menyalurkan kreativitasku. Mulai membongkar tape recorder, membuat percobaan fermentasi, sampai membuat sangkar burung. Saat usai, sayapun meninggalkan barang-barang itu berantakan. Obeng, kabel, bungkus makanan, tang, paku, palu, potongan kayu, dan gergaji tergeletak begitu saja.

Sekitar pukul 13.00 ibu pulang dari tempat kerjanya. Beliau lalu membereskan barang-barang yang berserakan itu. Karena terlampau berantakan dan kotor, tempat itu perlu disapu. Ibu memintaku untuk membantunya. “Ayo Fan, ini dikembalikan ke tempat semula,” pinta ibu, tapi saya malas. “Biar Mbak Narti aja bu,” jawabku. Mbak Narti adalah pembantu di rumah kami.

Saat itu saya berpikir toh Mbak Narti dibayar untuk mengerjakan hal-hal semacam itu. Mendengar jawabanku ibu mendekat ke tempatku duduk. Beliau lalu menjelaskan bahwa tugas pembantu adalah membantu, jadi selama kita bisa melakukan suatu pekerjaan sendiri tanpa bantuan maka kerjakanlah, tak perlu menyuruh pembantu.

“Kalau kamu memudahkan orang lain maka Allah akan memudahkan persoalanmu,” kata ibu. Hatiku tersentak. Saat itu saya merasa bersalah dan berdosa. Kalimat ibu membuatku sadar dan terus kuingat hingga sekarang. Dan saat melihat OB harus banyak bekerja karena ulah staf kantor, kalimat ibu kembali terngiang.

Di pantry banyak gelas dan piring kotor sisa kopi, teh, susu, dan makan siang. Mereka yang meninggalkan gelas dan piring kotor itu tak sadar bahwa hanya dengan beberapa detik saja mencucinya telah meringankan beban OB. Di toilet, seringkali tisu dibuang begitu saja, padahal dengan sedikit gerakan akan tertampung di kotak sampah di pojok. Janganlah terlampau tega mengucurkan keringat OB, dong!

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s