Sibayak yang Anggun

Udara dingin segera menjejali celah-celah kulit yang tak terlindung pakaian saat sampai di Berastagi, dataran tinggi di kaki gunung Sibayak di Kabupaten Karo, Sumut. Udara dingin di Berastagi merambat dari dua gunung api yang menaunginya: Sinabung dan Sibayak.

Sebelum mencapai Sibayak, Berastagi dapat dijangkau menggunakan angkutan umum selama sekitar 1 jam 45 menit arah selatan dari Medan. Sesampainya di Tugu—sebuah monumen terkenal bermotif ukiran Karo—pendaki dapat berganti angkot menuju Desa Jaranguda yang berada tepat di punggung gunung.

Gunung Sibayak (2,066 mdpl) termasuk gunung api tipe B yang beraktivitas terakhir pada 1600. Tanah yang subur hasil pelapukan material vulkanik serta kucuran air pegunungan yang melimpah membuat Karo sebagai pemasok utama buah dan sayuran lokal bagi Sumatera Utara. Dua pertiga penduduk di kawasan ini hidup sebagai petani.

Tak perlu menjadi pendaki gunung sejati untuk menyapa puncak Sibayak. Otoritas daerah rupanya telah mengemas gunung ini sebagai satu destinasi wisata alternatif di Karo. Ini terbukti dengan jalan beraspal disambung undakan beton yang meniti lebih dari separuh ngarai untuk mencapai kubah.

Pengunjung dapat menyewa kendaraan untuk mencapai jalan paling ujung menuju rute pendakian. Dari sini, dengan berjalan santai pendaki dapat mencapai puncak dengan waktu tempuh sekitar satu jam.

Puncak Sibayak berbentuk kaldera dengan dasar yang memiliki ceruk kecil. Ceruk ini menjadi serupa danau saat terisi air yang bercampur belerang. Bunyi uap panas bumi yang mengepul serupa ratusan ketel air mendidih, suaranya memenuhi seisi kaldera. Di satu dindingnya, beberapa batuan dan belerang berusia ribuan tahun menjadi penanda kekuatan gunung ini.

Di kaldera ini pula pendaki sering mendirikan tenda. Tiap tahun puluhan mahasiswa pecinta alam di Medan bahkan rutin menggelar upacara bendera di tengahnya. Sibayak juga dianggap sebagai satu episentrum spiritual bagi masyarakat tradisional Karo.

Pagi di awal November ini Sibayak terlihat anggun dan kokoh. Mendung kemudian meluruhkan rintik hujan yang segera berhenti.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s