Pendakian Sinabung

Srett… bukk! Suara kaki tergelincir diikuti jatuh berdebum. Saya bersama empat teman sekantor yang mendaki gunung stratovolcano Sinabung satu-persatu terpeleset. Curah hujan tinggi di bulan Desember membuat pendakian lebih sulit.

Lumut, batang-batang pohon tumbang, serta tanah yang gembur membuat lintasan pendakian ke Gunung Sinabung di Kabupaten Karo serasa labil. Belum lagi tegakan batu bercampur air yang licin untuk ditaklukkan.

Kami memulai pendakian dari Danau Lau Kawar. Danau yang berupa ceruk di kaki Gunung Sinabung. Puncak Sinabung berada sejauh lima kilometer dan terus menanjak dari danau ini.

Karena tiga orang dari kami tidak memiliki pengalaman pendakian, maka kami memutuskan untuk membuat estimasi waktu tempuh pendakian yang hampir dua kali waktu pendakian normal.

Waktu tempuh yang biasanya hanya tiga jam, menjadi enam jam menurut perkiraan kami. Dan waktu perjalanan diputuskan dilakukan saat tengah malam agar bisa menikmati matahari terbit di ketinggian 2.541 di atas permukaan laut.

Setiba di Lau Kawar pada sore, kami langsung mendirikan tenda. Pendaki biasa menginap di tenda yang dipasang di badan gunung atau puncak, tapi untuk menghemat tenaga diputuskan mendirikan tenda di tepi danau. Selain bisa menikmati danau, tenda sekaligus digunakan untuk menyimpan barang-barang sehingga mengurangi beban bawaan.

Tengah malam tiba dan pendakianpun dimulai. Persis seperti dugaan, teman-teman yang belum pernah naik gunung mulai ngos-ngosan. Tak terhitung berapa kali kami rehat di perjalanan. Ada yang nafasnya sesak, ada yang kakinya kram, perut soak, dan beberapa keluhan lain. Saya sendiri mengalami dua kali pendarahan akibat ulah lintah di kaki.

Setelah berupaya sekuat tenaga, kami yang kemudian terbagi dalam dua regu akhirnya bisa menapaki puncak. Semburat cahaya kuning keemasan bertumpang tindih dengan awan di ufuk timur menandai datangnya pagi. Dua orang mahasiswa pecinta alam yang turut dalam pendakian kami berujar bahwa sangat jarang langit di atas puncak gunung-gunung di Sumut indah, dan kami beruntung menyaksikannya pagi itu.

Rasa lelah terbayar. Saya seperti balita menemukan mainan saat berlari mencari sudut pemotretan yang tempat karena tak ingin menunggu cahaya mentari yang berangsur pucat.

Puas menikmati keelokan kubah baru Sinabung hasil erupsi 2010, kami memasak air untuk ngopi kemudian memakan bekal makanan sebagai sarapan.

Usai sarapan, sebelum siang kami turun. Turun gunung menjadi lebih sulit diabanding saat naik karena satu teman kami sakit. Berita lebih tak mengenakan kami dapati saat tiba di tenda, barang-barang kami disatroni maling. Maling berhasil menggasak dua ponsel, sebuah jaket, dan dua potong celana dalam. Maling yang aneh.

Belum cukup kejengkelan kami terhadap ulah maling, datang seorang perempuan berwajah ketus yang menagih biaya entry pendakian ditambah ongkos kebersihan. Yah, meskipun banyak hal yang tidak mengenakkan dialami namun mengingat saat berada di puncak Sinabung membuat kami tersenyum.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan. Bookmark the permalink.

One Response to Pendakian Sinabung

  1. Deby says:

    wow…coool

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s