Menyapa Orangutan di Bukit Lawang

Hutan tropis yang lebat serta sungai berair sejuk yang berhulu di perbukitan Leuser di Bukit Lawang adalah tempat keluarga orangutan sumatera melanjutkan kisahnya. Di sini, upaya untuk mempertahankan keberadaan primata yang jumlahnya terus menyusut serta peningkatan ekonomi kerakyatan berbasis pariwisata digerakkan.

Orangutan di alam liar ada yang bersifat pemalu dan cenderung menghindari manusia, sebagian agresif, dan beberapa punya ketertarikan pada makanan pengunjung. Orangutan di Bukit Lawang adalah sebagian dari Taman Nasional Gunung Leuser yang mencakup kawasan di Sumut dan Aceh.

Di hutan ini, selain orangutan sumatera (pongo abelii) hidup pula kedih (presbytis thomasi), gibbon, kera ekor panjang (macaca fascicularis), dan burung rangkong. Trekking atau perjalanan kaki menembus hutan menjadi kegiatan yang memungkinkan wisatawan menemukan beragam satwa itu di sana.

Melihat orangutan di alam liar serta memenuhi paru-paru dengan oksigen segar adalah kelebihan trekking. Berjalan naik-turun lembah, memanjat di antara akar tunggang, menapaki tanah campuran pelapukan flora, menyeberang aliran sungai-sungai kecil dalam naungan rerimbunan daun menjadi pengalaman yang menyenangkan. Terutama bagi mereka yang tiap hari sibuk bekerja di gedung perkantoran.

Dalam satu perjalanan di akhir Desember 2011 saya beruntung menemui burung cenrawasih betina di dalam hutan. Di titik yang sama di mana dua rombongan trekking berhasil menemui orangutan, saya ditambah seorang jurnalis lokal serta beberapa turis asing kemudian sibuk memotret unggas ini.

Orangutan biasa ditemui setelah melakukan trekking sekitar 2.5-3.5 jam ke dalam rerimbunan hutan. Trekking dilakukan atas panduan guide yang biayanya dihitung per hari. Kegiatan ini masih didominasi turis mancanegara. Pemandu mudah ditemui di restoran yang merangkap penginapan yang banyak tersebar di pinggir sungai di kawasan pintu masuk Bukit Lawang.

Kawasan pintu masuk Bukit Lawang berupa sedikit “daratan” di bibir sungai. Di daerah ini, kios cendera mata berjajar berselang-seling dengan warung. Di bawahnya, masuk ke bagian sungai yang kering, gubuk-gubuk beratap rumbia bertiang bambu menjadi tempat favorit wisatawan lokal menikmati keindahan alam.

Semakin ke dalam mendekati kawasan taman nasional, adalah deretan penginapan. Ujung areal ini adalah gerbang Taman Nasional Gunung Leuser tempat “feeding”, pemberian makan orangutan konservasi yang dilakukan pukul 09.00 dan 14.00 WIB setiap harinya.

Menginap di Hutan

Menginap di dalam taman nasional hanya mungkin bila pengunjung melakukan trekking atas panduan guide. Di bibir sungai di kaki bukit, tenda dari plastik yang dilengkapi tenda masak didirikan para pemandu di sini. Turis mancanegara bisa menginap hingga tiga malam di dalam hutan. Pulang dari menginap, mereka biasanya menaiki ban terpompa yang berfungsi sebagai cano untuk meluncur di arus sungai kembali ke penginapan.

Trekking yang saya lakukan bersama Gerold Muller (Austria), Mahmoud Khadraoui (Prancis), Emi Chiba dan Yuka Nakamura (Jepang), serta Sonia Ananda (Indonesia) dimulai saat hari menjelang siang. Idealnya perjalanan dimulai pagi hari. Keterlambatan ini membuat jam makan siang kami mundur.

Awal perjalanan ke Bukit Lawang yang masuk wilayah administatif Kabupaten Langkat dimulai dari Medan. Tersedia dua pilihan transportasi umum dari Medan: bus dan minibus, masing-masing bertarif  Rp 12 ribu dan Rp 15 ribu. Angkutan jenis ini mangkal di Simpang Kampung Lalang dari pagi hingga sore.

Di Sumatera Utara pastikan semua tarifnya sesuai sebelum menggunakan jasa, terutama jasa transportasi. Saya belajar dari Yuka Nakamura soal keteguhan membayar ongkos minibus sesuai tarif. Ia mengancam kernet untuk turun dari mobil karena dikenakan tarif  dua kali lipat. Yuka melunak setelah saya rela membayar Rp 20 ribu per orang, ia pun mau membayar tarif yang sama.

Banyak penyedia jasa asal-asalan menerapkan tarif pada pelancong. Padahal traveler seperti Yuka telah memiliki data yang cukup sebelum memulai perjalanan. Ia menunjukkan pada saya buku berbahasa Jepang yang judulnya bermakna “How to Walk on The Earth”. Di buku tersebut semua destinasi wisata di Indonesia dijabarkan lengkap termasuk tarif-tarifnya.

Sesampai di Bukit Lawang telah ada Sonia, Gerold, dan Mahmoud yang telah sepakat melakukan trekking bersama. Setelah menitipkan barang bawaan yang tak perlu, perjalanan menembus hutanpun dimulai.

Dari siang hingga sore hari berjalan kaki —dipotong waktu makan siang—banyak hal menarik bagi kami di dalam hutan. Hal paling menarik tentu saja bertemu orangutan di habitat aslinya. Hal paling mendebarkan kami alami saat pemandu kami justru ketakutan saat bertemu orangutan agresif bernama Minah. Menurutnya, Minah telah sering menyerang pemandu dan pengunjung.

Sore hari sampai juga di pinggir sungai yang berada di kaki bukit. Untuk melepas lelah dan menghapus keringat bercampur tanah kami mandi di sungai. Usai berganti pakaian dan berlindung dari hujan di dalam tenda, kami menikmati teh panas yang dimasak pemandu.

Sore berganti malam. Saat makan malam tiba. Kami makan nasi ditambah oseng-oseng kentang-tempe, sayur sop bersantan, dan ayam masak manis. Menu itu terasa makanan terenak yang pernah saya makan seumur hidup. Hahaha. Usai makan kami bermain kartu “Uno”. Beberapa permainan lain dan lelucon menjadi pengisi malam yang bernyamuk di hutan.

Saya terbangun saat arloji menunjuk 06.04 WIB. Saya memutuskan keluar tenda meski langit masih gelap. Saya baru mendapat teman menikmati aliran sungai satu jam kemudian. Dan saat teman-teman seperjalanan lain terbangun, sekelompok kera ekor panjang mengelilingi tenda kami. Kera-kera tersebut berayun, mengendap-endap mencari barang apa saja yang bisa diambil atau dimakan. Seekor kera berhasil membawa lari sebungkus margarin milik pemandu kami.

Rencananya kami akan meluncur dengan ban tiup saat pulang ke penginapan. Tapi saya pulang lebih awal karena harus mengerjakan tugas di Medan. Usai sarapan roti bakar  saya berjalan kaki menyusuri sungai. Perjalanan itu memaksa saya empat kali menyeberang arus sungai yang cukup deras. Cukup deras bagi saya karena gaya gravitasi yang kecil oleh tubuh kurus tak cukup berandil melawan daya dorong air.

Selama menyusuri sungai saya menemui lima air terjun berukuran sedang dan kecil dari dinding bukit. Kesegaran seketika merambat dari kulit menembus daging saat membasuh muka, tangan, dan kaki. Merasakan air yang langsung tertumpah dari dinding bebatuan.

Lewat tulisan ini saya mengenang kembali kesan mengunjungi ecowisata Bukit Lawang dan orangutan di dalamnya.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan. Bookmark the permalink.

2 Responses to Menyapa Orangutan di Bukit Lawang

  1. Sonia Ananda says:

    What a nice stories, blog and life you have Taufan! Great to have you mate in our trekking team in Sumatra Jungle. See you in another adventure, Tiger Group! hahaha

  2. veri boeloe says:

    Kalau trekking…ajak-ajak ya mas…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s