Tak Henti Danau Toba

Ceruk purba berkerut ini Danau Toba. Dengan sebuah daratan di tengahnya bernama Samosir. Belasan stiker perkumpulan dari negara asing yang tertempel di satu kaca pintu restoran menunjukkan ketenaran danau ini.

Danau Toba telah ratusan kali ditulis. Pelancong menyampaikan pengalaman mereka lewat mulut dan catatan, merekamnya lewat foto. Keindahan kawasan danau membimbing estetika juru foto melahiran ribuan imaji sejak manusia modern menciptakan perekam dua dimensi.

Hamparan air dan kungkungan tebing yang di beberapa bagian serupa gundukan karpet hijau mengundang takjub. Tebing yang mengelilingi danau ini adalah kaldera raksasa. Dorongan perut bumi yang terhenti memunculkan daratan kecil Samosir yang kemudian berpenghuni.

Samosir, yang kemudian disebut “pulau” sebenarnya bisa dijangkau melalui jalan darat dari arah Tele—ujung Samosir yang menyambung ke daratan Sumatera Utara. Namun umumnya wisatawan melalui penyeberangan di Parapat dengan perahu mesin atau kapal Feri selama setengah hingga satu jam.

Di awal Februari ini saya kembali mengunjungi Danau Toba. Menikmati embusan angin sejuk yang membawa butiran air permukaan danau yang beriak. Dan saat memandang sekeliling, guratan tebing yang hijau menghapus kepenatan sisa bekerja.

Mendengar tempias air yang memukul-mukul lambung perahu menjadi musik pengiring perjalanan. Dan setelah menjejak Samosir, saatnya menikmati alam yang terbentuk dari perut gunung. Letusannya di masa prasejarah yang memengaruhi musim panas Eropa menggambarkan betapa perkasanya Toba.

Di tengah pulau, muasal suku Batak meninggalkan artefaknya. Rumah adat, kain ulos, dan makam para raja dapat ditemui di sini. Tarian Sigale-gale biasa dimainkan di museum Hota Bolon Simanindo untuk menyambut wisatawan dengan dikenakan tarif.

Perempuan tua atau “inang” yang mengenakan lipatan kain di kepala biasa berlalu-lalang di pasar atau saat pergi ke ladang. Anak-anak mengabiskan waktu sore di tepi danau, menggembalakan kerbau, atau menggiring babi kembali ke kolong rumah.

Saat menjelajah Samosir, kita akan menemui persawahan di dataran rendah dan kebun kopi rakyat yang diselingi kakao di ngarai. Lanskap dan budaya yang ditemui di Samosir adalah citra yang menarik.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s