Fotografer Dalam Peristiwa

Judul di atas mungkin bisa memunculkan pertanyaan bagi fotografer, apakah Ia mewakili mata publik atas satu kejadian atau menjadi bagian dari kejadian? Bila jawaban lebih mengarah pada keadaan kedua, maka perlu direnungkan lagi fungsi keberadaan fotografer bagi masyarakat.

Pada satu peristiwa, keberadaan fotografer sering tertangkap kamera saat mengerjakan tugasnya. Mereka banyak bermunculan dalam bingkai-bingkai gambar. Banyaknya jumlah fotografer di lapangan dipicu tren media berbasis online di era multimedia. Peralatan fotografi yang semakin murah juga memungkinkan banyak orang “seketika” menjadi fotografer.

Peristiwa yang melibatkan massa menjadikan manusia dalam cakupan wilayah di mana mereka berkonsentrasi adalah bagiannya. Kadang karena jumlah yang begitu banyak, fotografer menjadi bagian skala massa itu sendiri. Pada kalimat berita “Massa berjumlah sekitar 400 orang…” bisa jadi sebenarnya 10 persen dari jumlah tersebut adalah fotografer. Apalagi bila peristiwa yang berlangsung adalah isu panas yang membangkitkan animo fotografer.

Selain mewartakan, seringkali fotografer justru menjadi berita. Entah terpukul, dihalangi tugasnya, diancam, dan seterusnya.

Gambar dari portal online berikut mengilustrasikan betapa agresifnya fotografer saat memotret kericuhan aksi lempar batu dalam satu demonstrasi. Dalam foto tersebut terdapat dua fotografer.

Alih-alih ingin menyajikan gambar peristiwa pemukulan misalnya, aksi fotografer yang berkerumun di depan suatu momen pemukulan justru kesulitan memotret karena berdesakan dengan banyak fotografer lain. Hal ini menjadi tantangan baru bagi fotografer. Jurnalis tulis yang mengamati aksi dari kejauhan juga sangat mungkin kesulitan saat hendak membuat laporan yang harus menggambarkan peristiwa lebih detil, karena pandangannya terhalang.

Apa kerugiannya buat pemirsa? Warga yang ingin memeroleh informasi tentang suatu peristiwa melalui televisi harus mengeluarkan energi ekstra untuk mengamati tiap sekuen, karena video yang tersaji banyak tertutup oleh anggota badan fotografer dan juru rekam yang berebut tempat.

Perilaku fotografer yang berkerumun secara berlebihan pada suatu peristiwa juga memperbesar risiko keselamatan fotografer sendiri. Pada situasi bentrokan misalnya, aksi fotografer yang terlalu dekat dapat menjadikannya korban. Ingat, batu, pedang, dan peluru tak memiliki mata untuk memilih sasaran.

Dari film War Photographer yang mengambil tokoh sentral James Nachtwey, kita bisa mengamati bagaimana jurnalis konflik asing bekerja. Sebagian memang sangat dekat, tapi terukur. Pun begitu, Nachtwey tak ayal terkena gas air mata. Di film The Bang Bang Club, kita juga dapat melihat bagaimana fotografer Ken Oosterbroek berakhir menjadi raga yang terkulai.

Bila kita mengamati fotografer dalam negeri bekerja, meliput demonstrasi, dan berandai-andai jika itu dalam situai perang mungkin akan lebih banyak fotografer jatuh korban.

Telah banyak jurnalis visual yang meninggal. Lebih dari setengah abad silam, cerita pelahir semboyan “If your picture aren’t good enough, you’re not close enough.”, Robert Capa terhenti.

Di hari Selasa 25 Mei 1954 yang nahas, Capa ikut resimen Prancis bersama jurnalis Time dan LIFE, John Mecklin dan Jim Lucas. Dalam kecamuk perang Indocina, di Thai Binh, Vietnam. Saat menjelang sore, dalam satu perjalanan menggunakan Jeep, Capa meminta turun untuk mendekati sesuatu yang menarik perhatiannya. Lima menit berselang, sebuah ledakan terdengar. Mecklin segera menyusul Capa dan mendapati koleganya telah bersimbah darah terkena ranjau. Capa segera dilarikan ke klinik terdekat namun hidupnya tak tertolong. Capa tewas dengan kamera tergenggam di tangan kirinya.

Tahun lalu jurnalis foto Tim Hetherington dan Chris Hondros tewas di kota Misrata, Libya. Tim Hetherington adalah peraih penghargaan WPP sekaligus sutradara film dokumenter yang saat itu mengerjakan penugasan untuk majalah Vanity Fair, sedangkan Chris Hondros bekerja untuk Getty Images yang berbasis di New York.

Selain menewaskan Tim Hetherington dan Chris Hondros, perang di Libya mengakibatkan fotografer Guy Martin yang bekerja untuk agensi Panos Pictures dan Michael Christopher Brown terluka.

Terakhir di Homs, Suriah, fotografer William Daniels dan Paul Conroy berhasil dievakusi atas bantuan pemberontak. Itu sesudah fotografer Prancis, Remi Ochlik tewas dan jenazahnya tak bisa dibawa pulang.

Mungkin arwah mereka bisa berbangga bila kematian itu dibarengi semangat yang tulus untuk mewartakan kegetiran perang. Tapi bila misi “nekad” lebih banyak dilandasi motivasi membuat gambar yang spektakuler atau ingin dihujani pujian, maka sungguh disayangkan.

Indonesia saat ini tidak sedang dilanda perang, hanya demonstrasi yang menolak rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Protes terhadap kebijakan, bukan demonstrasi penggulingan pemerintahan seperti tahun 1966 untuk Orde Lama dan tahun 1998 pada Orde Baru.

Alangkah sia-sianya bila fotografer mengalami cedera atau bahkan menjadi korban tewas untuk suatu aksi yang bukan momen genting. Sejarah mungkin hanya akan mencatat sepintas fotografer yang nyawanya terenggut akibat lemparan batu demonstran. Sudikah Anda fotografer? Semoga tidak.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan. Bookmark the permalink.

One Response to Fotografer Dalam Peristiwa

  1. Mas Taufan, jika melihat fenomena jurnalisme warga (citizen journalism/public journalism), terutama warga yg memotret peristiwa dan dibagikan via jejaring sosial, apakah hsil foto mereka itu dapat dikatakan foto berita?.
    Btw, sya sdh baca buku mas Taufan “fotojurnalistik: dalam dimensi utuh”.
    menurut sy bku itu sangat bagus untuk referensi pengetahuan ttg fotojurnalistik di masa skrng.
    Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s