Saya dan Presiden

Kalau ditanya kesan pada Presiden Republik Indonesia, saya akan memulai dari Megawati. Penghormatan terbesar saya pada Megawati adalah caranya memperlakukan saya, sebagai rakyat jelata di dalam Istana Negara. Yang kedua, sebagai presiden perempuan.

Saya masih kuliah waktu itu saat perayaan Idul Fitri di Jakarta. Saya, bersama adik, kakak, ibu, dan nenek mengikuti salat Ied di Masjid Istiglal. Jakarta terasa nyaman saat hari raya seperti ini, lalu lintas lengang. Sebelum meninggalkan masjid, beberapa orang bercerita tentang open house presiden di Istana Negara, yang jaraknya hanya sepelemparan batu.

Saya iseng ingin mencoba ikut. Saya, seperti biasanya bila ke masjid, hanya mengenakan sandal jepit. Dan parahnya, karena pagi harus bergegas, saya memakai sandal swallow yang biasa dipakai di taman yang usang kehitaman. Tapi rasa penasaran membimbing untuk tetap ke istana.

Setelah menunggu tak terlalu lama, tibalah giliran saya masuk ruang tengah istana, melewati karpet merah, sendiri dalam jarak kosong sejauh lima meter menghampiri presiden. Paspampres berdiri di tepi ruangan. Megawati sempat melirik ke bawah ke arah sandal, tapi segera kembali menatap tegak sembari tersenyum. Saat tangan saya sodorkan, Ia menjabat dengan erat. Kuat bahkan. Detik itu saya merasa sangat bersalah menghargai simbol negara dengan mengunjunginya bersandal jepit butut!

Penyesalan terbesar saya tentang presiden adalah tak sempat memotret Gus Dur secara personal. Saya, meski bukan santri atau Nahdliyin, belajar nilai-nilai aswaja dari ceramahnya. Gagasannya terlalu modern dan susah diikuti umat Islam di Indonesia yang lamban berpikir.

Di saat Gus Dur dan saya hidup di alam yang sama, saya tak memeroleh kesempatan memotret itu. Pelan-pelan saya melupakan penyesalan itu. Saya percaya ada hal-hal di luar kuasa manusia.

Waktu saya kecil, ayah saya yang seorang guru sempat menjadikan BJ Habibie sebagai simbol ilmu pengetahuan dan pencapaian terbesar Indonesia dalam bidang teknologi. Dan saat saya dewasa dan bekerja di Bandung, Habibie yang telah lengser sebagai presiden mengunjungi Institut Teknologi Bandung (ITB). Waktu itu Ia akan memberi kuliah umum.

Pagi sebelum kuliah umum, saya berniat mewawancarai dosen di ITB tentang astronomi. Saya telah berencana mengikuti kuliah umum sesudahnya dan akan menemui Habibie. Tapi apa lacur, lagi-lagi “kuasa di luar kuasa kita” membuat saya harus meninggalkan ITB karena penugasan lain. Gagallah upaya berbicara dengan Habibie.

Untuk Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saya hanya memiliki kesan minim, di antaranya adalah pasukan pengamanannya yang menjengkelkan. Memotret SBY adalah hal yang tidak menyenangkan dan menyita banyak waktu.

Bercerita tentang presiden, selain Soekarno Sang Proklamator, juga ada Soeharto yang menorehkan sejarah panjang. Selain fotonya terpampang paling lama di dinding tempat saya menuntut ilmu dari balita hingga bisa pacaran, Soeharto adalah sosok yang istimewa bagi orang-orang di pedesaan.

Terlepas dari apa perannya dalam hiruk-pikuk tragedi ’65 dan serangkaian korupsi yang mengarah pada keluarganya, Ia adalah presiden yang membuat kestabilan nasional relatif terjaga. Bagi orang yang hidupnya hanya sekadar bekerja, makan, dan beristirahat seperti Ibu saya, mudah sekali mendengar komentar ini, “Lebih enak zaman Pak Harto…”

Satu-satunya artefak dari Presiden Soeharto yang kumiliki adalah piagam lomba melukis yang ditandatanganinya waktu saya kelas 2 sekolah dasar. Waktu reformasi bergulir dan saya menemukan piagam itu di antara surat-surat yang disimpan Ibu, saya sempat mau membuangnya. Kini saya hanya bisa cengengesan bila tak sengaja melihat piagam itu.

Dua malam lalu saya bermimpi bertemu Pak Harto dan Ibu Tien. Mereka duduk di kursi rotan di dekat pos di pasar. Pemandangannya seperti acara ramah tamah. Mereka selalu tersenyum, keduanya terlihat lebih tua dan lebih kurus. Satu-dua orang datang menyalami tapi kebanyakan hanya melihat dari kejauhan. Saya menghampiri dan bersalaman dimulai dari Ibu Tien. Ibu Tien memeluk dan mengatakan Ia terharu. Saat giliran Pak Harto, sambil berjabat saya bercerita bahwa kakek saya pernah menjamunya saat masih menjadi tentara dan masuk ke pedesaan. Soeharto berkaca-kaca dan memeluk saya.

Siang itu saya tak sampai hati meninggalkan Pak Harto dan Ibu Tien. Jadilah saya duduk menemani mereka. Pengawalnya terlihat tak terurus dan lengannya banyak panu. Tapi mereka semua sungguh bersahabat.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s