Pancasila dan Sunatan

Ada yang baru ketika Pancasila yang sebenarnya cukup digdaya untuk meredam konflik sosial-keagamaan di Indonesia, menjadi “mantra” pereduksi sakit di kuncup kemaluan Wahyu (10) saat disunat. Ini bukan pelecehan, tapi bagian cerita di paragraf berikutnya.

Kantor perusahaan gas negara (PGN) di Jalan Glugur di Medan Barat, Medan, Sumut, sehari-harinya kaku. Sebagian bangunan masih dipertahankan bergaya art deco peninggalan kolonial bercat putih yang dingin. Petugas keamanan pun masih terlalu formal untuk acara HUT yang diisi sunatan massal bagi anak-anak tak mampu.

Namun pemandangan berbeda terlihat di aula dengan satu tenda tertopang tiang besi di depannya. Tak kurang seratus anak duduk, hilir mudik, tiduran dengan menggenggam sarung, dan sebagian pulang menyisakan seringai sakit dan kelegaan di wajah.

Sunat atau khitan, bagi penganut Islam memang wajib hukumnya. Sebelum era Muhammad, nabi Ibrahim telah bersunat. Kemudian sunat terbukti baik dari segi medis—dan itu sebabnya paman saya yang Nasrani lalu bersunat seminggu sebelum menikah. Tapi bagi warga yang kurang mampu, sunat menjadi beban tersendiri karena untuk melakukannya diperlukan biaya Rp 300 ribu hingga Rp 1 juta.

Maka sunatan massal tentu menjadi perhelatan yang menguntungkan bagi golongan miskin ini. Mulai pagi di minggu kedua di bulan Mei ini puluhan anak yang rata-rata usia sekolah dasar telah selesai disunat. Di aula PGN yang disulap menjadi delapan bilik operasi, kemaluan mereka menjalani takdirnya.

Memang, sunat tidak sesakral zaman saya kecil dulu. Di mana kerabat berkumpul berbagi doa. Di aula ini, anak-anak hanya ditemani satu orangtua atau kerabatnya. Beragam ekspresi yang memantik empati menguap dari penghuni yang rebah di bilik-bilik itu. Ada yang mendekap bantal, menutup mata menggunakan kopiah, dan yang menangis terisak-isak. Satu yang memancing minat kami adalah Wahyu.

Wahyu terus bertanya pada dokter kapan sunatnya selesai. “Aduuhh.. duh.. duh.. udah bu?”, “Sebentar lagi,” jawab bu dokter tenang. Kemudian aduh aduh itu ditingkahi tangisnya yang sedu sedan. Tangisnya menggoncang tubuh hingga mempersulit dokter menjahit luka potongan frenulum. Sepanjang waktu itu, beberapa dari kami termasuk saya ikut menenangkannya. Saya tak ingin, sircumsisi ini mengasilkan jahitan yang jelek, yang mungkin menurunkan rasa percaya dirinya kelak setelah dewasa.

Tapi mendadak perut saya mengejan menahan tawa saat seorang teman berceletuk, “Wahyu, katanya ketua kelas.. ayo sebutkan Pancasila”. Entah apa yang membuat Wahyu menurut, dengan terisak Ia bersuara, “Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa. Dua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab,…” hingga sila kelima.

Dalam masa itu, setengah tertawa dan tak percaya kugoncang bahu teman, “Itu dia baca Pancasila beneran!”. Teman saya menjawab, “Lho maksudku biar dia lupa rasa sakitnya.” Kegetiran di depan saya sungguh terasa absurd. Saya merasa anestesi si dokter tidak optimal, Wahyu kesakitan di organ yang paling tak tahan menahan sakit, dan teman saya memberi pereda nyeri dengan Pancasila.

Wahyu menangis

Beberapa golongan di Indonesia berkeyakinan agamanya paling benar, sehingga seolah-olah tiada yang lebih benar, kemudian memaksakan kebenaran itu. Padahal Pancasila telah memberi ruang yang luas bagi perbedaan.

Pancasila yang termaktub pada pidato Soekarno di Dokuritsu Junbi Cosakai pada tanggal 1 Juni 1945 harusnya sakti. Bila kemudian Pancasila tak bisa menjadi solusi atas carut marut di negeri ini, setidaknya bisa meredakan sekian menit sakit si Wahyu. Saat pulang, dalam hati saya mencoba memanggil ingatan lima sila yang tiap Senin selama belasan tahun didengungkan pada upacara bendera.

Foto-foto Sunat

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan. Bookmark the permalink.

2 Responses to Pancasila dan Sunatan

  1. hilmifaiq says:

    Paling tidak, cerita ini membuktikan bahwa Pancasila masih punya tajih…:)🙂🙂

  2. veri boeloe says:

    sedap…tambah ilmu awak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s