Simfoni Ketelanjangan Sukuh

Seorang turis mancanegara mengarahkan lensa kameranya pada satu arca yang memegang kemaluan, sementara temannya tersenyum geli. Tak berapa lama dua remaja juga bergantian berfoto. Di belakangnya, candi utama berupa susunan batu yang kesederhanaannya begitu kentara. Ada semacam simfoni dari kejujuran terdalam bersenandung lewat bentuk arca dan relief tanpa busana.

Perasaan ganjil dari rupa-rupa bentuk yang tak biasa ditemui di kebanyakan candi Hindu sejenak mencair. Inilah bagian kompleks Candi Sukuh yang berada di ketinggian 1.186 mdpl di lereng Gunung Lawu. Hawa sejuk dan jajaran pohon cemara seakan menambah ketenangan berada di candi yang diisi simbol kesuburan ini.

Candi Sukuh sepintas mengesankan erotisme lewat relief, patung, serta bentuk lingga dan yoni. Tapi dialektika tentang kehidupan muncul di sini. Bahwa jalan kehidupan adalah pertemuan keduanya, dan manusia, dengan perantaranya dapat “mencicipi” nirwana. Lingga dan yoni adalah keagungan yang sakral—dan tentu suci—di situs ini. Saat saya sampai di pelataran candi, beberapa umat Hindu berbaju putih dengan ikat kepala yang jamak ditemui di Bali baru usai berdoa.

Memasuki wilayah candi kita akan menemui gapura utama yang menjadi pintu gerbang. Letaknya berada di teras pertama dan pengunjung akan menapaki tataran kedua kompleks ini. Di gapura, pada lantai terdapat lingga (atau Swalingga sebagai penggambaran falus/penis) yang berada di mulut yoni dengan jalinan yang menyatu. Keberadaan lingga dan yoni ini dipagari kayu dan uang recehan ditebar di atasnya. Konon, perempuan perawan yang melewati gapura ini akan berdarah kemaluannya.

Candi utama terletak di teras terakhir atau ketiga. Sebentuk susunan batu setengah piramida atau trapesium mendominasi tataran ini. Sebelum mencapainya deretan relief di sisi kiri dan patung di sisi kanan seakan menjadi “pengantar” untuk dibaca, guna memahami filosofi situs ini. Ada rangkaian relief dalam cerita Kidung Sudamala dan arca garuda sesuai dengan cerita pencarian Tirta Amerta dalam Adiparwa.

Di kompleks itu terdapat sebaran relief Garudeya, Bima Suci, Ramayana, Swargarohanaparwa,  serta bentuk Samuderamanthana. Lalu setelah mencapai pelataran puncak candi melalui undakan, dengan membalik badan, keseluruhan situs ini terlihat. Di kejauhan, kebun penduduk di dataran tinggi dan kabupaten Karanganyar menghampar.

Relief dan arca di Candi Sukuh memang terlihat kasar. Bahan utama candi yang berupa andesit atau batuan beku vulkanik yang banyak ditemukan di daerah subsduksi tektonik memang menuntut pengerjaan yang telaten dan lama. Sedikit ketidakrapian dalam detail pada relief dan arca menurut arkeolog W.F. Stutterheim (penelitiannya tahun 1930an) karena andil situasi era menjelang keruntuhan Majapahit. Kesederhanaan bentuk Candi Sukuh menyerupai zaman megalitikum meski merupakan candi abad ke-15.

Candi Sukuh berada di kawasan destinasi candi yang berdekatan dengan Candi Cetho. Terdapat juga perkebunan teh Kemuning yang asri melalui satu kelokan berbeda. Dengan menggunakan kendaraan pribadi, kawasan ini dapat dicapai dari kota Solo selama 40an menit. Namun memasuki kompleks candi, sudut tanjakan yang terlalu tinggi menuntut kapasitas mesin besar yang prima. Bila ingin menggunakan transportasi umum, pelancong dapat memilih rute bus dari Solo menuju Tawangmangu dan turun di terminal Karang Pandan. Dari sini bisa saja menyewa mobil atau ojek.

Saat mencapai Sukuh biarkan indera kita terbuka. Mendengar desau angin, merasakan kesejukan yang menyelinap di leher atau menembus dari lengan kaus, dan menerima sapaan ramah warga di pinggiran Jawa Tengah. Sejenak lepaskan urusan keduniawian dan resapi kedamaian ilahiah. Sukuh berbicara kepada kita tentang kemanusian yang utuh dan kejujuran, hal yang semakin jauh dalam keseharian kita.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s