Cerita Teh Terakhir di Sidamanik

Mobil yang kutumpangi mulai memasuki jalan tanah di area perkebunan teh di Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara di awal bulan Juli yang lembab. Sisa hujan sebelumnya mencipta kubangan lumpur hingga membuat laju roda sesekali tergelincir.

Setelah benar-benar masuk ke dalam perkebunan, harum yang menyegarkan menyelinap melalui jendela kaca yang sengaja kuturunkan. Jalan di dalam perkebunan berada lebih rendah dari lahan tanaman teh. Aku ditemani dua warga Sidamanik serasa melewati lekuk persegi yang memanjang berkelok-kelok. Aku teringat jalanan di Ubud yang berdinding bebatuan dinaungi pepohonan.

Dahan pohon-pohon teh menggelayut sangat dekat pada jendela. Ingin rasanya kujulurkan tangganku menggapai pucuk-pucuk daun yang pekat dibungkus malam. Di mana permukaannya yang basah berkilap tertimpa pantulan sinar lampu. Niat meraih daun-daun teh dalam laju kendaraan kuurungkan karena aku tak ingin terlihat kekanak-kanakan.

Kami menuju ke rumah orangtua temanku. Aku akan menumpang menginap di rumahnya. Setelah satu setengah kilometer masuk di antara hamparan teh, sampailah kami di perkampungan yang isinya adalah pekerja di PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV). Sebagian besar menempati rumah berdinding papan yang disediakan oleh pihak perkebunan.

Ibu temanku berprofesi sebagai bidan. Rupanya menjadi bidan di perkampungan di tengah kebun seperti ini sekaligus sebagai dokter umum. Fungsinya mirip mantri kesehatan di zaman dulu. Tak hanya mengurusi persalinan, ia juga menangani seluruh keluhan sakit pasien, laki-laki maupun perempuan.

Kami mengobrol usai makan malam. Ia bercerita tentang pasien kritis yang akhirnya meninggal siang tadi. Tapi hari ini adalah hari spesial buat ibu temanku. Bu Bidan merayakan ulang tahunnya yang ke-50. Sang suami membelikan roti ganda—roti khas Siantar—sore sebelumnya. Kami bernyanyi “Selamat Ulang Tahun” sebelum aku permisi ke kamar untuk bertelepon.

Tepat pukul enam pagi aku terbangun tergugah bunyi alarm. Setelah mencuci muka dengan air yang sedingin es aku berangkat menuju kebun teh hendak memotret pemetik teh. Aku ditemani adik temanku bernama Flora, awalnya aku berpikir namanya terinspirasi dari hijaunya perbukitan ini. Belakangan ibunya bercerita nama Flora adalah nama sekolah kebidanan di Medan.

Aku sampai lebih dulu sebelum para pemetik datang. Pekerja pemetik teh satu per satu menuju zona petik yang telah ditentukan. Sebagian naik sepeda motor dan sisanya menumpang truk pengangkut teh. Mereka bersiap dengan perlengkapan sebelum segera bekerja. Mengenakan kaus tangan, keranjang gendong dari anyaman bambu, sepatu boot karet, topi atau caping, dan plastik pelindung dari perut ke bawah.

Pemetik teh di Sidamanik tak seperti di Kemuning di Jawa Tengah. Di Kemuning, pemetik menggunakan jemari kedua tangan untuk memilih kuncup daun yang ranum. Sehingga hasil petikan benar-benar hanya daun dini yang hijau muda. Di Sidamanik mereka menggunakan gunting taman yang dimodifikasi dengan tambahan kotak plastik penampung guntingan teh. Sebagian zona tanam malah menggunakan mesin untuk memetik teh.

Pekerja pemetik teh bekerja ligat. Ranting dan daun muda yang berselimut embun memercikkan air saat tercabik gunting. Mereka sesekali bercanda dan bertukar cerita. Dalam setengah jam mereka rata-rata mampu mengisi penuh keranjang bambu.

Sidamanik terkenal dengan produksi tehnya sejak awal dekade abad ke-20. Tapi dari tiga pabrik yang mengolah daun teh yaitu Tobasari, Sidamanik, dan Bah Butong kini hanya menyisakan satu. Yang masih beroperasi tinggal Bah Butong yang menghasilkan setidaknya 10 jenis teh mutu sedang.

Matahari mulai merangkak ke singgasana siang. Sebelum jam makan siang aku harus kembali ke Medan untuk bekerja. Belum puas rasanya menikmati keasrian kebun teh Sidamanik; perbukitan hijau bergaris-garis. Belum juga meninggalkannya, aku sudah merindukan gemericik air sebening kristal yang murni. Menikmati seduhan teh di pagi hari di depan rumah yang kutumpangi. Sarapan di atas meja kayu tanpa vernis dengan hamparan tanaman di satu sisinya. Semuanya itu sembari menghirup oksigen yang melimpah.

Terbersit kekhawatiran akankah kuncup-kuncup daun teh ini menjadi petikan terakhir di Sidamanik. Obrolan tentang rencana alih fungsi kebun teh ini telah menjadi perbincangan pria-pria di warung kopi. Uang memang menjadi yang terpenting yang bisa menaklukan segala hal dalam hidup. Perkebunan teh ini segera disulap menjadi kebun sawit karena terus merugi.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s