Saatnya Yang Berpuasa Menghormati Yang Tidak

Tiap kali bulan Ramadhan tiba, kesulitan perihal makan-minum selalu menghinggapi teman dan saudara yang bukan Islam. Banyak warung makan tutup dan mereka tidak leluasa menikmati makanan karena terdapat orang yang sedang berpuasa.

Teman saya sering merasa segan ketika makan dan mendapati saya berpuasa. Mereka biasanya meminta maaf, atau segera menghindar sebagai wujud toleransi. Tapi tidakkah kita berpikir terbalik, seharusnya kita yang memberi ruang bagi mereka karena kita telah merampas kebebasan untuk makan? Mempersempit pilihannya makan karena warung dan resto terbatas?

Saya selalu mempersilakan orang yang tidak berpuasa makan di depan saya. Saya menganggap itu ujian yang memperkukuh esensi ibadah “manahan nafsu” ini. Apa artinya menahan diri atas kendali nafsu bila tak ada yang perlu ditahan? Bila godaan itu tak ada bukankah puasa sama saja dengan hanya menghabiskan waktu?

Data statistik BPS hingga tahun 2010 menunjukan persentase umat muslim di Indonesia sebesar 87,18% atau bila dihitung berdasar jumlah populasi lebih dari 210 juta orang. Muslim adalah mayoritas.

Sebagai umat mayoritas sudah sepantasnyalah umat Islam di Indonesia menjalankan peran pengayom. Mayoritas adalah dominasi, ia lebih kuat. Relasi kuat dan lemah yang bijaksana adalah si kuat melindungi yang lemah. Seperti lelaki yang melindungi perempuan. Apalagi untuk urusan beribadah, Allah mengajarkan umat Islam untuk tidak arogan seperti dalam ayat ini:

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A’raaf: 55).

Berbicara soal fungsi pengayom dan toleransi ini kita harus mengenang almarhum Gus Dur. Jiwa pluralitas Gus Dur membuat pemimpin tertinggi Gereja Katolik Paus Benediktus XVI mengirim belasungkawa saat kematiannya, “All loving God, we have lost a great statesman who taught about plurality. You have called our father Abdurrahman Wahid who had always taught about peace. This nation needs him,”

Alangkah dangkalnya sekelompok orang yg mengaku muslim melakukan pemaksaan pada orang lain—baik non muslim atau muslim—untuk “berpuasa”, misalnya menutup warungnya. Sementara Allah berfirman, “Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan” (QS. An-Naba, 78:11).

Bila kita mau merenung kembali, keinginan akan penghargaan dan penghormatan pada ibadah kita adalah wujud kelemahan iman. Menurut gagasan Romo Franz Magnis-Suseno, agama seseorang yang telah mantap membuat ia tidak perlu defensif dan tidak takut bahwa agamanya dirugikan kalau ia terbuka terhadap mereka yang berbeda.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s