Panjat Pinang Nias

Pada perayaan kemerdekaan tahun ini saya memilih mengunjungi Nias. Saya membayangkan  pulau yang desa adatnya eksotis seperti gambaran saya tentang desa dimana lompat batu dilakukan. Betapa menarik upacara 17 Agustus di desa dengan lantai batu berlatar rumah adat seperti foto-foto dalam brosur wisata.

Harapan saya tidak terbayar. Gunung Sitoli adalah kota kecil biasa tanpa ornamen etnik. Dan sepanjang perjalanan saya menuju Teluk Dalam di Kabupaten Nias Selatan, upacara bendera hanya dilakukan di lapangan kecamatan dan sekolah-sekolah kecil.

Saya tak berhenti untuk mencari kegiatan menarik yang dilakukan warga di Nias pada perayaan 17an. Sore hari, saat waktu penurunan bendera saya mencari lapangan tempat dilangsungkan upacara bendera di Teluk Dalam. Sayangnya penurunan bendera rupanya dilakukan lebih awal. Tapi ada yang menarik, ratusan bahkan mungkin lebih dari seribu manusia berkumpul di lapangan.ImageSembilan pohon pinang berdiri menjulang dengan bendera  di ujung teratas dan amplop-amplop bergantungan. Suara pembawa acara memekik melalui pengeras suara bahwa perlombaan panjat pinang segera dimulai. Regu pemanjat di masing-masing pinang berlumur oli telah dipanggil. Warga riuh memberi semangat timnya. Mereka berteriak dari atap rumah, di pagar, hingga di atas back hoe.

Konon perlombaan ini dimulai zaman kolonial Belanda di Indonesia. Pada era penjajahan itu pohon pinang yang dilumuri pelumas dipasangi hadiah berupa keju, gula, dan pakaian. Kalangan kulit putih yang menganggap ini sebagai permainan menyaksikan masyarakat pribumi berjibaku, jatuh bangun, berusaha menggapai hadiah. Semua itu menyajikan banyak tingkah lucu—itulah kenapa sebagian kalangan menganggap perlombaan ini melecehkan harkat kemanusiaan. Sejarah lomba panjat pinang juga ditengarai dimulai di zaman dinasti Ming di Cina. Yang masih populer di Fujian, Guangdong dan Taiwan.

Lomba dimulai. Satu persatu regu gagal memanjat karena dukungan penopang yang tak mampu menahan berat atau tergelincir karena licin. Setelah melewati setengah ketinggian mereka kembali melorot. Tapi perjuangan terus berlangsung hingga akhirnya satu regu dapat meraih puncak kemudian disusul regu-regu yang lain.

Saat itu yang ada di benak saya hanyalah lomba ini menghibur. Meski begitu, saya menangkap relevansi panjat pinang dalam perayaan kemerdekaan ini adalah upaya mencapai tujuan, ujian pada semangat, serta kemauan untuk saling mendukung dalam tim. Saya kemudian teringat Sisil, pada hal-hal lucu yang kami lewati, pada upaya untuk saling mendukung, pada semangat pantang menyerah. Image

Image

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s