Memotret dan Bersenang-senanglah

George Eastman dengan Kodak Eastman-nya pada akhir abad ke-19 tak pernah menyangka fotografi bisa maju sepesat satu dekade ini. Pada Rabu (5/9), sekelompok orang dalam komunitas Medan Street Hunting menumpang odong-odong memotret perkotaan di malam hari. Mereka memotret bersama, ceria dalam satu suasana persahabatan.

Seorang teman, Kristupa Saragih yang sukses dengan portal fotografer.net-nya, sempat membuat kaus untuk para pehobi foto bertuliskan “Motret Gak Motret Yang Penting Makan”. Semboyan yang terinspirasi dari kebiasaan kami di Solo pada sekitar 2005 yang biasa makan soto di sela-sela hunting foto. Memotret, mengobrol, lalu makan bersama adalah kegiatan yang menyenangkan. Menjadi medium rekreasi bagi kami yang hidup terjebak dalam rutinitas.

Ada juga Lomografi dimana pecintanya memotret untuk kesenangan. Dengan kamera lomo yang bisa dibeli mulai harga puluhan ribu rupiah, mereka bisa menghasilkan karya foto yang unik. Foto hasil kualitas lensa yang tidak konsisten membuat fotografer lomo “mendadak”menjadi seniman.

Hasil foto pada pita seluloid kamera lomo tak bisa diprediksi. Semua itu memunculkan rasa penasaran, dan kejutan pada hasil fotonya menjadi hal yang menyenangkan.

Saya menyesal di 2009 saat bekerja menulis di Bandung hanya sekali memotret, yaitu waktu digelar pawai Bandung Blossom. Tapi penyesalan itu saya lunasi saat mengunjungi kota kembang itu lagi tahun lalu. Saya memotret sesuka hati Pasar Baru—yang terkenal dengan pakaian murah. Saya percaya wajah Pasar Baru sepuluh tahun mendatang akan berubah.

Sekarang saya bergelut dengan dunia fotografi. Meski hari libur, saya hampir tak pernah pergi ke luar rumah tanpa kamera. Memotret bukan semata bagian dari pekerjaan dan minat yang tinggi pada documentary, tapi memotret adalah kesenangan.

Memotret tidak harus selalu bertujuan untuk membuat foto yang bagus dan menarik. Memotret untuk sebuah gambar, itu saja. Anjing di dalam becak, bunga di taman, pacar yang sedang mandi, hingga jempol kaki di puncak gunung…. foto dan kenangan di balik gambar, itu saja.

Dengan memotret seringkali kita—sengaja atau tidak—menyenangkan orang lain. Bukankah membahagiakan saat orang jadi tersenyum karena foto yang kita buat? Bahkan pasangan saya cukup senang hanya melihat, “It’s fun to be a bystander, an audience, watching you work. Something that wouldn’t have happened if I start taking photos too.”

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Memotret dan Bersenang-senanglah

  1. Tulisan yg inspiratif, tq for share bang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s