Dalam Genggaman Rindu Pulau Pinang

penang_taufanwijayaKisah cintaku yang terpisah
Terhalang di pantai membentang
Antara Jakarta dan Penang membelenggu rindu

Itulah sebait lirik lagu yang dinyanyikan Poppy Yusfidawaty, gadis Bandung pada medio 1991. Penyanyi yang meraih penghargaan, tapi harus menamatkan perjalanannya di rumah sakit Hasan Sadikin di usia sangat belia 21 tahun.

Saya masih anak-anak saat lagu itu sering menggema di radio. Tapi lemahnya industri musik tanah air kala itu membuat lagu yang menyentuh segera meledak dan lama bertengger di tangga hits. Setelah berselang 20 tahun, lagu itu lamat-lamat kembali terdengar lagi saat daratan Penang terlihat dari jendela. Saya lebih memilih mengeluarkan kamera saku ketimbang kamera besar untuk memotretnya.

Penang atau disebut penguasa setempat sebagai Pulau Pinang adalah kota yang tenang. Ketenangan ini seakan menjadi pilar bagi fasilitas kesehatan lengkap yang disediakan negeri ini. Beragam rumah sakit dengan spesialisasinya seperti kanker (Mount Miriam Hospital), bisa ditemukan di kota sekaligus heritage ini.

Penang hidup dan masyarakatnya ditopang oleh perekonomian yang menyejahterakan. Pekerja dibayar dengan upah lebih dari dua kali lipat  gaji di Indonesia namun biaya hidup murah. Transportasi massal nyaman, infrasuktur baik, fashion terbaru, dan makanan melimpah.

Bayangkan, bila satu porsi bihun goreng 1.5 RM (1 RM sekitar Rp 3.000), berapa yang bisa ditabung seorang buruh cleaning service bila bergaji 1000 Ringgit per bulan? Alasan ini pula yang melandasi sebagian orang sakit di Medan, Sumatera Utara, memilih berobat ke Penang. Seorang pasien menuturkan, biaya rumah sakit ditambah obat, serta akomodasi pendamping dan biaya menginap di hotel di Penang bila ditotal lebih rendah ketimbang biaya pengobatan satu rumah sakit swasta terkemuka di Medan. Itupun masih ditambah kualitas medis yang lebih baik di Penang.

Meski menjadi kota cagar budaya Penang adalah kota kosmopolitan. Di sini hidup beragam ras termasuk keturunan Eropa yang lahir sebagai generasi baru warga Penang. Di George Town, satu pemakaman yahudi ada sejak zaman kolonial. George Town adalah ikon Penang.  Di sini terdapat Municipal Council atau City Hall yang dibangun tahun 1857.

Transportasi umum berupa bus Rapid Penang bisa diandalkan untuk menjangkau beragam tempat eksotis di kota ini. Rute shuttle bus yang tertempel di setiap shelter membuat siapa saja mudah menemukan tempat tujuannya. Terdapat akses lewat jembatan dan penyeberangan ferry menuju Butterworth untuk melanjutkan perjalanan ke Thailand atau kota lain di Malaysia.

Setelah puas menikmati atmosfer kota tua di George Town, kawasan Gurney yang juga terdapat pusat perbelanjaan bisa menjadi pilihan tujuan. Tak jauh dari pusat perbelanjaan itu, di sebelahnya yang tepat di sisi bendungan tepi pantai, aneka kuliner nikmat menanti saat malam hari. Mulai masakan ikan segar hingga sate sapi.

Sekembalinya dari kota ini, saya tak menyangka sebulan sesudahnya saya kembali mengunjungi Penang. Ada perasaan yang sentimental di kota ini. Seseorang membawa perubahan besar dalam hidup, di antaranya membuat saya mau menyantap kwetiau. Konflik dan hal-hal yang mengharukan memang bisa menjadi tangkupan rindu yang kuat.

penang2_taufanwijaya

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s