Drama Leukemia Yang Salah

Foto ilustrasi leukemia oleh Taufan Wijaya

Foto ilustrasi leukemia oleh Taufan Wijaya

Banyak orang terenyak saat tersiar kabar anak di Intensive Care Unit (ICU) meninggal, dan tempat penananganan intensif medis tersebut terganggu aktivitas syuting sinetron.

Ayu Tria (9) meninggal di ICU Rumah Sakit (RS) Harapan Kita saat
sebelumnya kritis akibat leukemia, Kamis (27/12). Ia mengalami pendaharan di lambung. Ketika kanker ini menyerang, biasanya penderita mengalami pendarahan di gusi, di anus, atau mimisan.

Bila benar Ayu berada di ICU dengan kru produksi sinetron. Itu adalah kelalaian yang fatal. Penderita kanker darah sangat mudah “terganggu” lingkungan karena sistem imun mereka yang mendekati nol. Apalagi bila keberadaan kru dan peralatan video sampai mengganggu penanganan pasien.

Secara umum leukemia dibedakan dalam AML dan ACL. Informasi seluk beluk leukemia bisa diperoleh dari Leukemia Lymphoma Society (LLS). Lamannya berisi diskusi tentang leukemia dan limfoma, dua kanker yang terapinya mirip.

Saya hidup dengan survivor leukemia. Ia membantu saya mengerjakan project tentang kanker. Setiap kali kami bertemu survivor atau dokter, mereka seperti kagum mendapati survivor leukemia dewasa. Kemungkinan selamat dari leukemia memang lebih kecil pada orang dewasa ketimbang anak-anak. Saat kami mengumpulkan materi di Malaysia, ia bahkan ditawari bekerja di rumah sakit sebagai konselor kanker.

Leukemianya terdeteksi saat berusia 25 tahun. Dalam kemo induksi pada fase tiga bulan pertama menggunakan methotrexate, rambutnya rontok. Ia menggunduli rambutnya sendiri dengan mesin cukur di depan cermin. Sebuah kateter yang memiliki empat port dipasang di dadanya.

Obat kemo yang menyakitkan membuatnya allowed menggunakan morfin. Dokter membolehkannya memasukkan morfin melalui kateter bila sakit yang mendera tak tertahankan. Tapi ia tak pernah sekalipun menggunakannya.

Leukemia atau kanker darah memang mematikan. Sehingga terapi kemonya “membabat” sel-sel baik. Sebagian harus mengimplan sumsum. Lalu biopsi yang menyakitkan karena mengambil sampel sumsum tulang belakang tanpa anastesi. Sebelum formula baru terapi leukemia ditemukan, dahulu arsenik digunakan sebagai salah satu obatnya.

Ia bekerja dengan mengenakan kateter di dada setelah kemo intensif. Kateter ini terus terpasang selama sepuluh bulan. Terapi pil ATRA terus dilangsungkan selama setahun.

Darinya saya jadi tahu bahwa penggambaran leukemia di sinetron dan film sering salah. Dalam masa pengobatan leukemia, bahkan makanan dari luar rumah sakit tak boleh sembarangan dimakan. Dokter dan pengunjung harus mengenakan baju steril dengan penutup mulut.

Apalagi bila ada adegan minum obat saat di pinggir jalan atau di taman, itu hampir tak mungkin karena pil ATRA tak boleh terpapar sinar matahari langsung. Lebih dari itu semua, leukemia bukanlah sebuah vonis mati. Tuhan lah yang punya kuasa atas hayat manusia.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Drama Leukemia Yang Salah

  1. HeruLS says:

    Taufan,
    Kau berbagi informasi penting yang sungguh tak kuketahui sebelumnya.
    Kesalahan penggambaran leukemia di TV atau sinetron tak boleh terjadi lagi, itu sungguh menyesatkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s