Larut Bersama Survivor Kanker

Lampion-lampion survivor kanker. Foto-foto: Taufan Wijaya

Lampion-lampion survivor kanker. Foto-foto: Taufan Wijaya

Keseriusan saya mengerjakan Women Cancer – photo project membawa pada hal tak terduga; bersama 41 survivor kanker dari 10 kota di Indonesia di Bali akhir pekan lalu.

Kepastian saya diajak turut serta datang sebulan lalu. Meski melakukan tugas liputan dan telah mengantongi izin dari atasan yang waktu itu berada di Rusia, agak tidak enak meninggalkan koran yang baru terbit dalam hitungan hari.

Undangan itu masuk melalui surel. Pasangan saya yang bertemu banyak orang untuk Women Cancer, menghubungkan saya pada penyelenggara Cancer Survivor Camp 2013 dari Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI). Di Bali saya bertemu jurnalis Tempo dan Suara Pembaruan yang ikut camp.

Keikutsertaan camp itu membuka kesadaran baru di kepala saya. Pandangan saya tentang survivor kanker anak ternyata jauh berbeda dengan yang saya temui selama di Bali pada 6-9 Juni lalu.

Hanya satu-dua di antara mereka yang meninggalkan jejak sebagai orang yang “pernah sakit”. Kenyataan bahwa sebelumnya mereka pernah bergelut dengan semacam penyakit yang ganas, tak lagi nampak.

Survivor kanker anak adalah mereka yang selamat dari kanker sewaktu kanak-kanak, kini mereka menjadi remaja dan sebagian cukup dewasa. Mereka berasal dari Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Manado, Pontianak, Medan, dan Pekanbaru. Mereka ceria, aktif, dan penuh semangat. Secara psikis, saya tak merasakan kanker meninggalkan luka di hati mereka. Tak ada secuilpun perasaan minder.

Konseling dan banyak kegiatan yang diadakan YOAI melalui Cancer Buster Community (CBC) secara berkala bersama mereka benar-benar menjadi penyembuh yang ampuh. Mereka bisa bercanda soal kematian yang bagi orang kebanyakan menakutkan. Kejadiannya bermula saat beberapa survivor bertanya soal umur, Mufti (23) menyebutkan sebentar lagi ia akan 24 tahun. Lalu temannya nyeletuk, “Yakin lu sampe 24?” Tapi Mufti hanya terkekeh.

Ada juga Willi (21), yang saat berada di Bali ujian kuliahnya berlangsung di Jakarta. Sebagai mahasiswa yang mengambil jurusan teknologi informasi, ia hanya cukup mengikuti ujian secara online. Saat teman-temannya asyik menikmati tarian kecak di Uluwatu, Willi serius mengerjakan ujian di depan laptop. Pun begitu di hari berikutnya saat teman-temannya sibuk berbelanja oleh-oleh.

Sembari kuliah Willi menyalurkan karya fotonya ke majalah penerbangan. Selama kegiatan camp, ia adalah orang yang paling bersemangat mendokumentasikan setiap momen. Apa yang dilakukan Willi lebih besar ketimbang apa yang bisa dilakukan banyak orang non-survivor.

Di Indonesia, rasio penderita kanker anak yang menjadi survivor dan kemudian dewasa “hanya” 1:320. Sebagian penderita kanker tak bertahan sesampai di kemoterapi atau setelah survive terhenti waktu mengalami kekambuhan (relapse).

survivor_taufanwijaya3survivor_taufanwijaya

Workshop dan Talkshow

Setelah puas berjalan-jalan di Bali, di hari ketiga, peserta camp mengikuti workshop dan talkshow. Pengobatan yang panjang dan melelahkan memerlukan penyembuhan di luar medis. Tujuannya membuat mereka lebih percaya diri untuk menapaki hidup di masa depan. Maka di sesi pertama, psikolog DR. Gamayanti M.Si, Psi. membawakan materi bertema Masa Lalu, Masa Sekarang, Masa Depan.

“Orang yg bahagia adalah orang yang berdamai dengan masa lalu. Bukan berarti melupakan, tapi menerima,” kata Gamayanti. Untuk berdamai dengan masa lalu dan berdamai dengan kekurangan, kita bisa melepas topeng-topeng dan mengingat hal-hal yang menumbuhkan semangat.

Dalam sesi ini Gamayanti memutar video-video yang membangkitkan semangat seperti orang cacat yang berupaya mandiri dan ada yang mampu membuat pertunjukan tari yang memukau.

Nabilah (18) saat sesi sharing bertanya, “Bahagia itu apa kebahagian diri kita sendiri atau kebahagiaan menurut orang lain? Karena kadang kita tidak bisa menjadi keduanya.” Pertanyaan yang cukup membuat peserta talkshow terhenyak. Tapi peserta kemudian menemukan jawaban yang ditafsirkan sendiri-sendiri.

Gamayanti bercerita, ada survivor yang sewaktu masih sakit terpuruk waktu melihat dirinya menjadi botak. Lebih buruk lagi, teman sekolahnya yang jahil menarik wig nya hingga menampakkan gundulnya. Saat itu ia merasa seandainya tanah bisa terbelah, ia ingin saat itu masuk dan betsembunyi di sana. Tapi kemudian survivor ini menyadari bahwa ia pernah punya rambut bagus dan wajah yang cantik. Ia kemudian menjadi dewasa dan menyimpan foto itu. Ia melihat foto itu kembali bila terjatuh, dan tergugah bahwa setiap hal buruk dalam hidupnya adalah satu kondisi yang ia bisa bangkit dari sana. Ia kini telah sukses dan sekarang memiliki dua anak.

Ada peserta yang pernah ditanya gurunya, “Lho katanya udah meninggal?” Dan beberapa survivor dijuluki ‘anak ajaib’ atau ‘anak obat’.

DSC_3385survivor_taufanwijaya2Sesinya berlanjut ke diskusi per kelompok. Di kelompok ini mereka mengingat pengalaman yang menyengsarakan dan pengalaman yang menyenangkan. Abiyu (16) Bercerita tentang kemoterapinya di rumah sakit yang tidak memiliki fasilitas terapi anak. Sehingga ia berobat bersamaan dengan orang-orang tua bahkan berdampingan dengan pasien HIV/Aids.

Syarif (16) bercerita tentang pengalamannya yang menyenangkan, yaitu banyak dapat mainan dan bisa membaca banyak komik saat pengobatan. Sutrilasari (21) yang tidak merasa sedih meski botak, tapi terpaksa berhenti sekolah selama tiga tahun karena fisiknya terlalu lemah.

Cindy (16) bercerita, “Papa mamaku jadi perhatian. Dan pengalaman itu buat aku jadi lebih dewasa.” Tatkala teman seangkatan kemoterapinya habis meninggal dunia ia bersedih. Dipan tidur pasien di kanan-kirinya digantikan dengan anak-anak baru, dan mereka juga meninggal. Saat itu ia merasa buat apa lagi meneruskan kemo, namun mamanya selalu menyemangatinya.

Ada keharuan dalam sesi ini. Beberapa bercerita dengan mata berkaca-kaca. Ada juga yang benar-benar menangis.

Workshop dilanjutkan dengan pembicara motivator dan dokter. Pembicara dr. Edi Setiawan Tehuteru, MD, MHA. menjelaskan tentang late effect pascakemo. Kemoterapi tak hanya menghancurkan sel kanker, tapi juga merusak sel-sel yang sehat. Tidak menutup kemungkinan obat-obatan kemoterapi berdampak pada kesehatan organ tertentu pada jangka panjang. Pada presentasinya dokter Edi menampilkan tabel obat dan dampaknya. Disebutkannya kapan pengecekan organ berikutnya dan apa yang harus dilakukan.

Lampion Harapan

Tibalah hari terakhir camp. Kami menikmati pizza di satu resto di Kuta. Satu survivor yang bercita-cita menjadi jurnalis asyik bertanya pada saya tentang penulisan. Seorang panitia menyebut saya cepat berbaur dengan para survivor ini. Saya begitu akrab dengan mereka bukan semata karena lebih banyak waktu untuk piknik, tapi kanker memang mendapat tempat istimewa di hati saya.

Kebanyakan mereka memiliki bekas luka. Obat kemo yang keras sering merembes ke jaringan otot dan meninggalkan seperti bekas luka bakar. Biasanya di tangan bila diinfus atau di dada bila menggunakan kateter.

Di malam terakhir camp, peserta melepas lampion. Mereka melepas lampion yang ditempeli kertas bertulis harapan di pantai Kuta. Sebelum pelepasan mereka memanjatkan doa dengan membentuk formasi lingkaran. Panitia dan dokter Edi menitipkan pesan.

Dan waktu perpisahan di esok harinya tiba. Kami harus kembali ke kota masing-masing. Saya tak menyangka saat berpamitan mereka bersorak dan melambaikan tangan. Saya merasa menjadi bagian keluarga mereka. Kepada pasangan saya di sore hari, saya berkata, “Bila ada kesempatan aku akan mengunjungi camp mereka di tahun depan.”

DSC_3411

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Larut Bersama Survivor Kanker

  1. ahmadyani1987aan@yahoo.com says:

    Kerennn
    Powered by Telkomsel BlackBerry®

  2. raden says:

    terharu biru …sebiru air laut padang-padang,Bali. Inspiratif!!!

  3. merielustrous says:

    great bg tofan:) menginspirasi

  4. Monata Sembiring says:

    Kereeeenn banget kak!!!

  5. avrian p says:

    Inspiratif.. Kapan ya bisa punya waktu dan kesempatan untuk mengikuti momen serupa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s