Martabat Sebagai Mahkota Jurnalisme

Di satu rapat redaksional yang diperciki sinisme terhadap integritas, saya teringat omongan satu petinggi media tentang “market editorial policy” tiga tahun lalu. Saya akhirnya harus menelan obat maag karena asam lambung saya naik karena getir.

Pertama, saya tidak pernah setuju dengan pemeo “Bad news is good news”, karena kabar seburuk apapun saat ini, sepintas saja menyentuh naluri kemanusiaan orang lain. Berita tragedi yang menewaskan ratusan jiwa dibaca orang di pagi hari dan sarapannya tetap terasa nikmat. Good news not only of bad news, but good news too!

Foto: Cecelia Uidjaja

Foto: Cecelia Uidjaja

Jadi misalnya, jurnalis desk ekonomi tak perlu diarahkan untuk membuat berita yang baik bagi klien (pengiklan). Karena selama produk yang dihasilkan klien iklan itu bagus, tentu berita yang dihasilkan adalah informasi yang baik. Kesengajaan menyetir berita jurnalis untuk menyanjung produk pengiklan tertentu hanya merusak mental jurnalis. Petinggi redaksi hendaknya menyadari ini jikalau tak ingin menjerumuskan media yang dikelolanya menuju kemunduran.

Kedua, saya tak setuju dengan jurnalis yang mencari iklan apapun bentuknya. Kenapa? Iklan berdampak sama dengan sogokan. Ia meracuni otak jurnalis. Racun itu memengaruhi indepensi dan motivasi.

Dari sisi indepensi, jurnalis tak akan bisa lepas dari “interest” bila ia menerima imbalan berupa uang dari klien. Dalam jiwa manusia yang normal terdapat satu konsep balas budi. Tanyakanlah pada diri sendiri, bila seseorang menerima kebaikan orang lain, sampai hatikah ia memberikan kritik dan teguran?

Dari sisi motivasi, komisi iklan bisa lebih besar dari gaji untuk kerja jurnalistiknya. Jurnalis yang cara berpikirnya tersesat akan memilih mendahulukan mencari iklan ketimbang mencari berita. Perusahaan tentu untung. Tapi apakah serta-merta kesejahteraan jurnalis akan meningkat tajam? Saya meragukannya. Mungkin hanya sedikit tambahan fee iklan ditambah kenaikan gaji setiap tahun—yang tidak sebanding laju inflasi.

Mari bertaruh bahwa jurnalis yang bekerja seperti ini hanya akan menjadi tua, pensiun, dan selesai. Orang-orang yang awalnya (seolah) teman yang baik akan pergi. Telepon dan pesan pendek akan diabaikan karena ia bukan siapa-siapa lagi.

Seorang rekan jurnalis suatu pagi berbelok arah kembali pulang karena berita buruk yang akan diliputnya menimpa satu merek yang menjadi klien korannya. “Itu kan pengiklan. Kalau beritanya jelek kami tidak dapat iklan.”

Jurnalis hendaknya tak perlu merisaukan persoalan iklan, sirkulasi, dan urusan bisnis lainnya. Bekerja dengan tekun dan kecintaan pada kerja jurnalistik akan membuahkan hasil. Media yang memiliki jurnalis-jurnalis dengan integritas dan kredibilitas yang baik, secara otomatis akan berkembang.

Ingatlah bahwa bisnis media adalah trust. Kepercayaan pembaca ini dibangun oleh pondasi integritas dan kredibilitas yang baik. Kesan yang positif pada suatu media tentu dengan sendirinya menarik minat pembaca dan menumbuhkan loyalitas.

Saya pernah terlibat diskusi melelahkan dengan orang istimewa tentang masa depan jurnalis. “Apa yang akan diajarkan jurnalis senior yang memiliki idealisme tinggi pada calon penerusnya? Hei, menjadi jurnalis yang idealis itu bersiap miskin?”

Tentu profesi jurnalis tidak menjanjikan kekayaan. Tapi bila mengacu pada survei Aliansi Jurnalis Independen yang menunjukan bahwa sebagian besar jurnalis di Indonesia dibayar dengan upah rendah, apakah layak jurnalis disebut sebagai profesi yang sehat?

Kami sepakat pada kesimpulan bahwa jurnalis harus berkarya di luar rutinitasnya. Menjadi penulis fiksi dan menulis cerita perjalanan dapat menjadi penghasilan tambahan bagi mereka yang bergaji kecil. Atau menjadikan hobi sebagai penghasilan tambahan. Itu pilihan yang paling masuk akal bila jurnalis bekerja bukan di media besar yang bergaji sama besar—karena sebagian media besar tetap menggaji kecil karyawannya.

Akhirnya pilihan hidup berpulang pada pelakunya. Menjadi jurnalis yang bermartabat dan sejahtera, atau menjadi jurnalis yang ala kadarnya. Yang  tidak menghasilkan karya-karya jurnalistik bermutu. Dan tidak memberi kontribusi apa-apa pada zamannya.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Martabat Sebagai Mahkota Jurnalisme

  1. Fransiskanes kartika says:

    mas, aku baca artikel ini,aku jadi teringat seseorang pernah bertanya padaku saat magang beberapa bulan lalu… “ngapain sekolah jauh-jauh dan mahal toh kalau ujungnya jadi wartawan? jadi wartawan tak bikin kaya!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s