Buku Fotografi “Dekat Perempuan”

Roland Barthes dalam Camera Lucida mengatakan, “Fotografi tidak perlu memberitahukan apa yang sudah tidak ada, tapi hanya apa yang pernah berlangsung.”

Sebagian teman bertanya apakah itu buku foto “Dekat Perempuan”? Lalu buat apa buku foto itu dibuat? Tulisan ini saya buat agar mencairkan rasa penasaran teman-teman saya.

DSC_4863Gagasan penyusunan buku tentang kanker pada perempuan muncul lebih dari setahun lalu. Saat itu perempuan survivor yang sangat istimewa menginspirasi saya. Dan photo-project tentang kanker ini bermula.

Saya berangkat dari kesadaran bahwa kampanye tentang kanker di Tanah Air sangat rendah kalau tak bisa dibilang tidak ada. Sementara bahaya terbesar kanker bukan sel ganasnya semata, tapi ketidaktahuan. Setiap hari perempuan Indonesia menjemput maut karena kanker. Jumlahnya didominasi oleh kanker payudara dan kanker serviks.

Di Jakarta saya bertemu dengan mbak Sri, perempuan survivor yang menggerakkan Cancer Information and Support Center (CISC). Darinya saya kemudian berkenalan dengan beberapa survivor yang menjadi awal mula buku cerita tentang kanker ini. Ada bu Laksmi yang bangga menjadi survivor dan aktif di kesenian, lalu ada mbak Dewi yang masih berkutat dengan empat kanker.

Tapi mengerjakan proyek buku ini sangat tak mudah. Hanya sebagian saja survivor yang mau difoto. Rasa takut, terasing, merasa dicintai, bangga, berkejaran dengan waktu, pasrah, senang, menghampiri orang yang hidup dengan kanker.

Sebagian lagi harus menunggu waktu. Misalnya jadwal kemoterapi. Seorang pasien yang seharusnya kemoterapi di hari Senin bisa saja molor hingga seminggu kemudian bila ia tidak dalam stamina yang baik. Flu dapat mengganggu jadwal kemo. Belum lagi jadwal berobat pasien yang memilih terapi di luar negeri.

Untuk satu survivor saya bisa menunggu janji bertemu hingga enam bulan. Cukup lama saya dan Cecelia mengumpulkan materi dalam buku ini. Saya mengunjungi beberapa rumah sakit di Singapura dan kota-kota di Malaysia karena banyak warga Indonesia berobat ke dua negara tersebut.

Tujuan buku foto (dan pameran) tentang “women cancer” ini adalah membangun awareness masyarakat pada kanker. Karena deteksi dini pada kanker meningkatkan peluang hidup dan menekan biaya yang timbul untuk pengobatan. Buku foto ini juga berisi pesan bahwa kanker bukan akhir segalanya. Kanker semestinya tidak menghentikan perempuan dari eksistensinya dalam bekerja dan bergaul.

Buku ini berisi foto-foto penggalan kehidupan survivor, foto pasien, foto tindakan medis, foto potret, dan hal-hal yang bersangkut dengan kanker. Semuanya adalah kisah seputar kanker pada perempuan dewasa. Tapi terdapat satu foto survivor kanker anak, yang kini menjadi orangtua dan menghadapi romantika hidup sebagai perempuan—yang berbeda dengan non-survivor.

Pada foto pasien dan survivor, buku ini memuat kanker payudara (12 orang), kanker serviks (2 orang), kanker tulang (2 orang), kanker otak (2 orang), kanker usus (2 orang), retinoblastoma (1 orang), serta leukemia (2 orang). Dengan berbekal tabungan tanpa sponsor akhirnya foto-foto dari Jakarta, Medan, Batam, Bali, dan Jogja tentang kanker ini bisa rampung.

Tentang judul proyek ini, saya awalnya hanya menentukan fokus utamanya, yaitu perempuan. Hingga setengah perjalanan, saya tak kunjung menemukan judul yang tepat. Markus Schaden, pemilik toko buku dari Jerman yang menjadi mentor saya di photobook masterclass memberi usulan judul “Fear Hope”. Judul yang tepat, tapi saat di-Indonesia-kan tak ada padanan kata yang sesuai. Judul “Asa dan Maut” dicetuskan bang Oscar Motuloh, tapi saya membayangkan ibu-ibu yang bisa saja bergidik membaca larik kata tersebut.

Di saat-saat terakhir saya memeras otak untuk mencari judul yang sesuai. Intinya adalah perempuan dan sesuatu yang ada di antaranya; bersifat melekat dan penting untuk diperhatikan. Dan muncullah “Dekat Perempuan” dengan tambahan anak judul berupa kalimat penjelas buku fotografi tentang kanker. Karena kanker begitu dekat dengan perempuan, sangat dekat seolah berada dalam darah dan siap menyerang kapan saja. Ia hanya butuh pemicu. Tak peduli status sosial, tak peduli baik dan jahat, tua ataupun muda.

Kanker tak perlu ditakuti tapi dikenali dan diwaspadai. Ia dekat tapi bukan musuh. Karena siapapun yang menganggapnya sebagai musuh justru akan terbunuh, ironis.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Buku Fotografi “Dekat Perempuan”

  1. Aik says:

    Selamat Siang Mas Taufan…

    Saya Aik, seorang awam yang tertarik dengan fotografi jurnalistik. Saya suka dengan blog Mas Taufan ini. Blog ini memberikan banyak informasi jurnalistik buat saya. Saya juga tertarik dengan buku foto Mas Taufan “Dekat Perempuan”, kira2 saya bisa beli buku ini dimana ya Mas? Terimakasih.

    Salam.

    • taufanwijaya says:

      Mbak Aik yg baik. Terima kasih atas kunjungannya… senang tulisan2 sy bisa bermanfaat. Buku foto “Dekat Perempuan” sedang dalam tahap revisi… semoga bisa lekas ada lagi. Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s