Pameran Pertama yang Berbeda

Banyak hal pertama selalu mencengangkan. Pertama kali mengendarai mobil, pertama kali merayakan ulang tahun, pertama kali terbang, dan seterusnya. Bagi fotografer, pameran tunggal merupakan sesuatu yang sangat berarti, dan pameran tunggal pertama semestinya menghadirkan pengalaman yang luar biasa.

Kliping di koran lokal.

Kliping di koran lokal.

Saya meletakkan sebagian hati saya pada fotografi selain pada tulisan. Pameran bersama tiap tahun bareng beberapa komunitas fotografi tak lagi menyenangkan sejak saya mulai bekerja. Dan pada 28 Agustus kemarin, untuk pertama kalinya saya menggelar pameran tunggal.

Pasangan saya yang memiliki andil sangat besar bagi karier saya dan terselenggaranya pameran foto tersebut seringkali bertanya, apa yang saya rasakan ketika saya bisa berpameran tunggal? Atau pertanyaan bentuk lain, bagaimana kesan saya melihat foto-foto karya saya dipajang dan dilihat banyak orang?

Saya kesulitan menjawabnya. Saya seringkali hanya menggunakan kata “senang”. Saya sendiri tak menyangka bahwa euforia itu tak muncul pada pameran ini. Pameran tunggal bagi fotografer yang masih tergolong pemula tentu gembira tak terkira, tapi itu tidak menghinggapi saya.

Bukan bermaksud naif, tapi foto-foto dalam pameran bertajuk “Dekat Perempuan” memang bukan untuk saya. Tak ada keberatan bagi saya untuk menanggalkan nama saya dari pameran foto tersebut. Di luar aspek fotografi, saya belajar banyak tentang kehidupan melalui proyek ini. Dan cara survivor bersikap membuat saya seperti memeroleh keluarga baru.

Pameran foto itu adalah materi di buku fotografi dari women cancer-photo project yang saya kerjakan lebih dari setahun. Dua kebaikan dari proyek yang saya kerjakan ini adalah; persembahan untuk orang yang saya cintai; dan awareness perempuan pada kanker. Saya mendapat dua burung dengan satu lemparan batu.

Alasan kedua inilah yang menjadi dasar kenapa saya ingin pameran ini diadakan di ruang publik. Bila perlu di pasar tradisional. Semakin banyak dilihat orang, terutama perempuan, semakin banyak kepala yang kemudian mengenal apa itu kanker. Bahaya kanker bukan semata keganasan selnya, tapi ketidaktahuan. Dan di era visual kini, kampanye lebih mudah menggunakan medium gambar.

Persiapan pameran oleh Firdaus Herlambang.

Persiapan pameran oleh Firdaus Herlambang.

Pameran foto “Dekat Perempuan” akan digelar di beberapa kota dengan penyelenggara berbeda. Batam pada 28-31 Agustus menjadi kota pertama yang diselenggarakan oleh Cancer Information and Support Center (CISC) Batam dan harian Tribun Batam. Berikutnya di Bali oleh Bali PinkRibbon, dan menyusul Medan dan kota-kota lain. Saya bahagia upaya saya berguna bagi orang lain.

“Foto-fotomu membuatku menangis,” kata Naim, jurnalis kantor berita nasional di hari pertama pameran foto saya. Matanya benar-benar basah oleh air mata. “Jelaskan tentang foto ini!” tambahnya seraya menyodorkan cetakan foto pada saya. Saya kemudian menjelaskan subjek dan cerita dalam foto tersebut.

Hal senada juga disampaikan Mercy, relawan di CISC melalui pesan pendek. Ia bahkan membuat mention di lini masa akun saya @taufanwijaya_ pagi tadi. Saya tak ingin membuat audience menangis, tapi bila itu adalah dampak dari kesadaran pada kanker, saya tidak keberatan. Semoga langkah kepedulian yang saya ambil bersama Cecelia bersambut, dan pesan ini diteruskan.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s