Dan yang Paling Perkasa Adalah Kata-kata

Kebanyakan orang tak sadar, bahwa kata yang dipilih dan disusun dalam ucapannya bisa berdampak begitu digdaya ketika dikenakan pada orang lain. Dan bila perkenaan itu menyakitkan, sangat sulit ditarik kembali.

Kita biasa mendengar frasa “kata-katanya menggelegar” atau “kata-katanya menyejukkan”. Tak perlu ditanya, semua orang waras yang berhati tentu memilih kata-kata yang enak, sejuk, menentramkan.

Cecelia selalu berkata pada saya bahwa kemampuan komunikasi interpersonal saya begitu buruk. Baginya, saya lebih pantas mengaku sebagai lulusan fakultas teknik ketimbang lulusan fakultas komunikasi. Setelah saya renungkan, anggapan ini lahir dari gaya saya yang tidak mengedepankan empati. Tidak menempatkan diri sebagai komunikan.

Di dunia jurnalistik, pemilihan kata-kata sangatlah vital dalam berita. Jurnalis dilatih untuk berhati-hati menyusun kalimat. Salah sedikit saja akan berakibat fatal. Pertikaian bisa pecah karena karena sajian informasi yang keliru. Pesan dalam berita mutlak mengandung kebenaran, menghindari isu SARA, dan berimbang (tidak memihak). Saya sering menjadi “polisi” bagi rekan-rekan saya menyangkut etika ini.

Di buku yang saya tulis tentang foto jurnalistik (2011), muatan etika menempati porsi yang begitu besar. Saya mengumpulkan referensi buku-buku asing dari kampus untuk menyusunnya. Di sana terdapat pertanyaan bagi diri sendiri sebelum membuat laporan, apakah jurnalis ketika melaporkan mewakili pembaca atau memenuhi “hasrat” pribadi? Tapi dalam praktik kehidupan saya sebagai individu, dogma ini ternyata nol besar J

Beberapa hari lalu saya harus menyusun proposal untuk proyek amal. Saya hanya berpikir, kalau perusahaan yang ditawari menjadi donatur memang berniat menyumbang, pasti mereka akan menyumbang. Toh dalam proposal itu saya jelaskan perihal proyeknya. Tapi pesan pendek masuk ke ponsel saya, “Bila itu yang kamu rasa terbaik, ….. maka itu yang kita kirim.” saya tersadar, itu bukan yang terbaik yang mampu saya buat. Dan saya segera mengubahnya dengan penuh tanggung jawab. Persuasi adalah kunci dalam kalimat ini.

Hal yang sama saya terapkan pada mahasiswa saya di sekolah tinggi komunikasi. “Tugas akhir kalian adalah pameran foto. Nilai bisa dibuat, tapi apa yang akan kalian tampilkan mewakili kreativitas kalian. Kalau fotonya jelek, maka kalian sendiri yang malu.” Dan kalimat saya tadi rupanya begitu ampuh. Mahasiswa yang biasanya hanya mengumpulkan tugas foto ala kadarnya, berubah mengumpulkan foto-foto yang sangat menarik. Bahkan melebihi harapan saya bila diukur dari jam terbang mereka memotret.

Teman saya, Marcos, semasa kecil awalnya tidak menyukai sayuran. Baginya, sayuran adalah perusak pemandangan menu makannya. Tapi ia masih ingat, kala itu kakeknya berkata padanya saat dalam piringnya terdapat sayuran; “Wah hebat ya, kamu. Banyak makan sayur.” Dan seketika itu pujian kakeknya mengubah Marcos kecil menjadi pecinta sayuran.

Pelan-pelan saya mulai belajar semantik. Saya jadi lebih sering menempatkan diri saya sebagai lawan bicara saya sendiri. Dampaknya, saya semakin banyak teman. Bila awalnya hanya teman-teman yang tahan pada sinisme yang tetap dekat, kini semakin banyak orang di sekeliling saya menjadi teman.

Kata-kata memang produk ilahiah yang memiliki kekuatan dahsyat. Ia bisa mengangkat derajat hidup seseorang, dan dalam bentuk yang lain ia bisa membunuh seseorang tanpa orang itu bersimbah darah.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s