Celotehan Di Hari Keagamaan

Selasa depan adalah perayaan Tahun Baru Hijriah. Semua umat beragama—bahkan penganut ajaran filosofis—di dunia ini punya hari yang menandai hari baru di tahun berikutnya, termasuk Islam.

“Gunung-gunung akan selalu ramai di Satu Suro,” kata Edy Purnomo, satu mentor di Permata Photojournalist Grant 2013 saat berbincang santai di lantai 21 gedung di Jakarta, semalam. Di sebelah saya, Priyambodo, jurnalis foto Kompas menambahi, “Di Solo ada kerbau bule, dan Jogja ada iring-iringan pusaka keraton.”

Perayaan hari penting umat Islam di Indonesia terutama di Jawa selalu menarik. Akulturasi Hindu-Islam membuat hari-hari besar menjadi gelaran kebudayaan yang unik. Masyarakat berbondong-bondong dan membuat kemeriahan di satu tempat. Tak hanya keraton sebagai pusat kebudayaan, tapi upacara-upacara tradisional juga dilangsungkan di gunung—yang bagi masyarakat dianggap sebagai poros inti spiritualitas.

Di Solo, kerbau bule (warna tubuhnya putih kemerahan) yang dikeramatkan akan berkeliling di pusat kota. Masyarakat dari kabupaten dan kecamatan yang jauh biasanya akan berdatangan. Mereka menunggu sejak siang hingga kerbau itu muncul diarak di jalan arteri. Kendaraan tak bisa melintas. Manusia berjubel di sepanjang jalan yang dilalui kerbau. Hingga saatnya kerbau itu berak, maka orang-orang akan berebutan mengambil kotorannya. Benar-benar berebut dan saling dorong. Bagi masyarakat pedesaan, kotoran kerbau itu dipercaya bertuah. Sebagian akan menanamnya di ladang atau sawah untuk kesuburan dan berkah.

Saya kemudian teringat pada Hari Besar Idul Adha dan Idul Fitri. Hari Raya Idul Adha atau hari kurban baru saja berlalu. Saya melewati hari besar itu di Jakarta. Saya pergi ke Masjid Istiqlal dan melihat bagaimana pasukan pengamanan presiden berjaga sebelum subuh datang. Sehingga saat menjelang waktu salat, ada beberapa yang kudapati terkantuk-kantuk dan duduk tertidur di satu sudut di lantai lima.

Sebagaimana daerah lain yang memiliki kepala pemerintahan, lajur terdepan di masjid adalah tempat “reserved” bagi pejabat. Di Istiqlal, baris terdepan tak bisa ditempati oleh masyarakat biasa, sepagi apapun datangnya. Di baris kedua, larik ganda pasukan berbaju loreng telah duduk. Mereka adalah lapisan untuk membentengi pemimpin dan warganya. Lalu presiden kita—yang mungkin malas dan bangun siang—datang sekitar pukul 07.00 berbarengan dengan wakil dan staf mereka. Rombongan ini melenggang santai lewat pintu khusus dan langsung mendaratkan pantat di baris terdepan. Hmm..mungkin diselingi sedikit bersalaman dengan kolega sebelumnya.

Apa yang pemimpin negeri lakukan tentu menjadi panutan di daerah. Sebelumnya saya melewatkan Idul Fitri di Batam, dan hal serupa juga berlangsung di sini. Baris terdepan telah dipesan dengan semacam tag yang telah diberi nama. Wali Kota menempati baris terdepan tepat di tengah. Jemaat lain yang ingin menikmati baris depan—yang konon pahalanya paling tinggi karena sebagai imbalan siapa yang paling rajin—hanya bisa melongo.

Realitas dan omongan imam memang tak sama. Dahulu, dari corong masjid tak jauh dari rumah saya di kampung, saya pernah mendengar penceramah bercerita tentang demokrasi dalam Islam. Bahwa semua manusia sederajat di rumah Tuhan. Tak peduli kekayaan, rupa, dan jabatan, semua memiliki hak yang sama. Tak hanya dalam memilih baris untuk menunaikan salat, tapi itu diperlihatkan dengan aturan bahwa semua jemaat di masjid harus melepas alas kaki. Tak peduli seberapa mahal sepatumu, semua harus nyeker di masjid. Tapi itu hanya dongeng. Apa yang kudapati setelah saya dewasa berbeda. Masjid, gereja, dan semua tempat ibadah itu adalah pranata yang hirarkis.

DSC_8082

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s