Darah Itu Membasahi Kamera

Ini adalah catatan harian. Tulisan ini bercerita pertama kali saya mengalami terciprat darah dari subyek yang saya foto. Saya bukan sedang memotret perang, konflik, atau kecelakaan. Darah itu dari perempuan subyek dalam proyek foto dokumenter saya.

Saat itu saya sedang berada di rumah Ros pada Minggu (3/11) siang. Ia adalah pasien kanker yang telah mengalami operasi pada 2009. Sebenarnya kanker di payudaranya telah didiagnosa sebelumnya, tapi ia memilih berobat alternatif dan herbal. Setelah dua tahun berlalu dan kankernya semakin ganas, iapun ambruk. Tak bisa lagi berjalan dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit.

Kini ia telah mengalami kemo beberapa kali siklus. Pengobatan yang mahal, lama, dan melelahkan. Sel kankernya sempat negatif selama satu tahun, hingga akhirnya menyerang lagi dan ia menjalankan protokol kemoterapi seperti siang ini. Ia menyewa suster untuk menanganinya secara pribadi di rumahnya. Bersama anjing cihuahua kecil di kamarnya, terapi ini ia lakoni.

Suster telah memasukkan jarum yang tersambung selang ke urat nadi lengan kanannya saat saya datang. Dengan ditemani anak lelakinya yang masih duduk sekolah dasar, saya diizinkan masuk ke kamar. Keringat membasahi kening si suster yang siang itu tak berseragam. Raut mukanya serius. Beberapa kali ia menghela nafas berat karena usahanya seperti tak akan berhasil.

Si suster sedang berusaha menginjeksikan obat lewat suntikan ke nadi Ros. Tapi kemoterapi yang panjang membuat nadinya mengeras. Darah dapat disedot, tapi untuk memasukkan obat terlampau sulit. Si suster menekan suntikan kuat-kuat untuk mendorong obat masuk. Srettt… kepala selang di suntikan terlepas. Darahpun muncrat. Darah menyiram muka Ros. Sebagian lagi menyiprat ke lengan dan kamera saya.

Saya tertegun. Saya kaget tapi saya tahu saya harus bersikap tenang di situasi semacam ini. Dalam beberapa detik saya, Ros, dan susternya terdiam. Kami berusaha menguasai pikiran kami masing-masing sebelum bertindak. Si suster meminta maaf pada Ros seraya mengambil tisu untuk mengelap darah yang tercecer. Saya secara perlahan juga mengambil tisu untuk mengelap darah yang mengenai tangan dan kamera saya. Saya bersikap sedimikian rupa agar Ros tidak merasa bersalah karena darahnya mengotori saya. Dan saya berusaha tersenyum pada si suster agar semangatnya bangkit lagi untuk tetap berupaya menyelesaikan terapi. Ini adalah situasi yang tidak mengenakkan bagi siapapun.

Saya termenung dilematis karena saya tahu kemoterapi tidak semestinya dilakukan di rumah. Ada standar tinggi yang harus diterapkan. Yang paling mendasar adalah higenitas. Orang yang terlibat dalam kemoterapi harus steril, pun begitu dengan tempatnya. Di rumah sakit di negara yang lebih maju, perawat atau dokter harus mengenakan baju khusus dan masker penutup. Tapi di depanku saat ini, anjing—yang sebelumnya tahinya tercecer di depan pintu—asyik mengibaskan ekornya dan sesekali menggelinjang di atas karpet. Pasien dalam terapi kemo juga semestinya dipantau ECG monitor karena obat kemo menurunkan kinerja jantung.

Akhirnya si suster menelepon apotek untuk meminta jarum khusus yang bisa menginjeksikan doxorubicin dan endoxan ke kateter yang ditanam di dada Ros. Tapi rupanya dokter lupa menulis resep sehingga pembelian jarum di apotek tak mudah. Dengan bernegosiasi dan janji untuk memberi resep susulan, jarum itu bisa dibeli. Yu, suami Ros yang bertugas mengambilnya di apotek yang berada di rumah sakit tempat Ros biasa berobat. Proses kemoterapi ditunda sembari menunggu jarum. Kami lalu menuju dapur.

Ros adalah perempuan yang ceria. Ia suka bercerita. Dalam sakitnya ia berusaha menjadi istri dan ibu yang sempurna bagi anak-anaknya. Bila banyak pasien kanker yang terbaring lemas di kasur, tidak bagi Ros. Sebelum memulai kemoterapi ia lebih dahulu memasak. Saya dan susternya menunggu dengan duduk di satu bar mini di dalam rumahnya. Kali ini Cecelia turut serta. Saya menyaksikan Ros dengan cekatan membuat sayur sup dan tiga jenis lauk. Sebelumnya ia menyuguhkan teh hangat pada kami. Setelah masakan siap, kami makan siang bersama.

Foto yang saya buat tentang Ros adalah proyek dokumenter pribadi. Saya baru saja merampungkan proyek buku foto berjudul “Dekat Perempuan” yang berisi cerita tentang kanker pada perempuan dewasa. Buku foto yang dijual dan hasilnya digunakan untuk kampanye kanker dan rumah singgah kanker. Foto-foto dalam buku tersebut telah dipamerkan di Batam, Bali, dan Jogja. Foto Ros rencananya saya perlukan sebagai update bila pameran foto akan dilangsungkan di Jakarta.

IMG_0013DSC_2581

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Darah Itu Membasahi Kamera

  1. sardiasmet says:

    Salute buat ros menyikapi penyakitnya yang masih bisa berlaku biasa kepada orang sekelilingnya..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s