Perjalanan Menemui Orang Rimba

Seorang anak Orang Rimba. Foto: Taufan Wijaya

Seorang anak Orang Rimba. Foto: Taufan Wijaya

Ini adalah perjalanan saya untuk merekam keberadaan Orang Rimba. Perjalanan yang harus dimulai meski saya punya beberapa pekerjaan yang belum selesai. Setiap perjalanan selalu dihadapkan pada pertanyaan, “Kalau tidak sekarang, kapan lagi?”

Saya berangkat dengan niat memotret Orang Rimba, yang juga disebut Suku Anak Dalam. Niat yang terpendam sejak 2009, hingga saya bertemu dengan Dani, antropolog yang sedang menyelesaikan PhD-nya. Dani sedang membuat riset tentang Orang Rimba, dan waktunya terbatas karena ia harus ke Belanda, jadi bila saya ingin masuk ke Suku Anak Dalam dengan bantuannya maka inilah saatnya.

Banyak penerbangan ke Jambi dari Jakarta. Maskapai Garuda Indonesia juga menyediakan penerbangan dengan tarif terjangkau. Dari Kota Jambi, setelah bertemu dengan rekan jurnalis foto untuk mengobrol, saya berangkat ke Kabupaten Tebo esok harinya. Perjalanan ke Tebo saya tempuh menggunakan angkutan umum dan memakan waktu 6.5 jam. Yang saya tuju tepatnya adalah SPA, area perkebunan sawit di Kecamatan Tanah Garo.

Di sana saya menumpang di rumah Pak/Bu Pariyan. Rumah mereka biasa dijadikan “shelter” bagi staf Warsi termasuk Butet Manurung. Di rumah ini pula produser Mira Lesmana tinggal saat mengerjakan film “Sokola”. Pak Pariyan mengenal banyak Orang Rimba dari beberapa kelompok. Keluarga ini telah bersahabat dengan Orang Rimba sejak ‘90an.

Dari sini, saya mengendarai motor menuju kelompok Pengelaworon yang dipimpin oleh Pengusai atau Bepak Pengusai. Pria inilah yang menjadi Tumenggung di dalam film. Nama Pengelaworon diambil dari nama sungai. Kelompok-kelompok Orang Rimba seperti Makekal Hulu, Makekal Hilir, dinamai dari nama sungai. Ini menunjukkan bahwa dari sungailah banyak kehidupan bermula.

Saya dipandu oleh Pak Pariyan yang membawa bekal logistik; biskuit, beras, mie instant, buah, susu, kering tempe (orek), air mineral, rokok. Saya telah berhenti merokok, tapi rokok diperlukan sebagai ‘salam’ untuk pria-pria Rimba. Perjalanan menuju Pengelaworon sangat berat. Jalan di sini hanyalah bagian bukit yang dipangkas sehingga terbentuklah jalur untuk bisa dilewati, yang hanya berupa tanah lembek tanpa pengerasan. Bisa dibayangkan bagaimana lembeknya tanah setelah diguyur hujan.

Ratusan kali roda belakang motor saya sliding hingga akhirnya saya terjatuh. Knalpot dan mesin yang panas menimpa dan menggerus sebagian kulit betis saya hingga meninggalkan daging terbuka. Di satu jalan yang berlumpur Pak Pariyan juga terjatuh dengan motornya. Saya membantu menegakkan kembali motornya. Rupanya orang di perkebunan telah terbiasa terjatuh karena medan yang berat. Dua setengah jam yang melelahkan serupa olahraga motocross akhirnya saya sampai di hutan sekaligus kebun karet di Pengelaworon. Sebelumnya kami bertemu dua Orang Rimba yang menunjukkan lokasi kelompok Bepak Pengusai. Mereka adalah Nguncang dan Nengkabau, adiknya yang kebetulan hendak mengantarkan labi-labi dan daging ular piton kepada Bepak Pengusai. Kelompok Orang Rimba biasa membagi makanan dan hasil buruan mereka pada keluarga lain terutama kepala kelompok atau kepala suku.

Jalan tanah yang saya lalui. Foto: Dani

Jalan tanah yang saya lalui. Foto: Dani

Memotret Dengan Kesopanan

Sebagai fotografer lepas untuk kantor berita asing yang sedang di luar penugasan, saya tidak dikejar tanggungjawab untuk harus memeroleh foto sesuai perintah. Ini membuat saya lebih cair dan mengutamakan pendekatan kemanusiaan ketimbang sekadar membidik dan menekan tombol shutter. Sehingga saat bertemu dengan Bepak Pengusai, saya lebih memilih duduk dan menjalin keakraban.

Kelompok ini juga merupakan kelompok baru bagi Dani karena sebelumnya ia melakukan riset di Terab dan Kedundung Muda. Dengan bantuan Dani yang mahir berbahasa Rimba, saya berkenalan dengan Bepak Pengusai dan menantu-menantu prianya. Saat itu perempuan-perempuan dan anak-anak berkumpul karena daging ular dan labi-labi sedang dibagi. Setelah meminta izin memotret dan diperbolehkan, saya membuka tas untuk meraih kamera. Tapi apa nyana, sebagian perempuan dan semua anak-anak lari dan hanya menyisakan tiga perempuan dewasa. Saya urungkan mengeluarkan kamera, risleting tas saya tutup kembali dan saya duduk sembari tersenyum. Saya bisa saja memotret tapi apalah artinya foto tanpa kedekatan emosional dan sopan-santun.

Matahari telah miring dari titik tengahnya di atas kepala. Perut mulai meronta meminta isi. Saya kemudian mohon diri untuk membuat makanan. Tak jauh dari pemukiman kelompok Penglaworon ada pondok milik Warsi. Bepak Pengusai menawariku untuk menginap di sana. Saya kemudian mencari ranting kering untuk membuat api dan memasak nasi. Beberapa anak mulai datang, mungkin penasaran dengan apa yang kami lakukan. Bersama Dani saya menyiapkan makanan. Anak-anak ini malu untuk makan saat ditawari. Saya berhenti makan dan mengambilkan mereka piring berisi nasi dan orek tempe satu-persatu. Makan siang yang istimewa.

Tanpa kuduga, setelah makan dan saya duduk santai menikmati udara hutan yang sejuk, Indok Pengusai (istri Bepak Pengusai) datang membawa kayu kering ke pondok kami. Ia memotongnya pendek-pendek dengan goloknya di depan kami. Ia tersenyum. Tanpa bahasa verbal kami tahu ia memberi kami kayu bakar. Keberadaan kami telah diterima mereka. Dan ini artinya saya bisa mulai memotret.

Berburu

Saya hanya merencakan tinggal sebentar di pedalaman hutan Jambi ini. Sehingga saya tidak mendapat kesempatan ikut berburu babi, rusa, atau kancil. Saya hanya ikut berburu ikan dan labi-labi. Perburuan ringan dengan rute pendek, sekitar setengah-satu jam berjalan kaki.

Rencana mencari ikan saya peroleh sore hari setelah mengobrol dengan mereka. Malamnya, di bawah naungan pohon hutan dan diguyur hujan kami beristirahat dengan membayangkan ikut kegiatan Orang Rimba esok harinya. Hujan rupanya tidak menyurutkan serangan nyamuk. Obat oles nyamuk bahkan saya pakai untuk wajah karena beberapa kali nyamuk mendarat di hidung. Sungai penglaworon meski kecil tapi cukup jernih dan menyegarkan untuk membasuh muka. Sungai itu tepat berada di samping pondok kami dan hanya terpisah jalan setapak.

Orang Rimba tidak mencari ikan dengan memancing, tapi menjaring, menombak, atau meracun. Racun yang digunakan adalah tuba yang dibuat menggunakan akar-akar dan kulit pohon tertentu. Racun ini tidak merusak lingkungan, bahkan tidak membunuh bila tertelan manusia. Perburuan kali ini dikomandani oleh Merimbun dan Ngarap. Ngarap adalah perempuan muda yang ketangkasannya setara empat pemuda yang tinggal di kota. Ia berjalan naik-turun bukit, menyibak ranting-ranting berduri dan menebas rerimbunan untuk menembus hutan.

Sampailah kami di satu sungai yang dirasa berisi ikan. Merimbun memeroleh dua ekor lelabi (Orang Rimba menyebut labi-labi dengan lelabi), sedangkan Ngarap membuat perintang aliran sungai menggunakan dahan dan dedaunan. Perintang ini menahan ikan agar tidak hanyut. Di bagian tengah perintang dipasangi slili yang terbuat dari anyaman bambu dan rotan sebagai perangkap ikan.

Ngarap yang cekatan. Foto: Taufan Wijaya

Ngarap yang cekatan. Foto: Taufan Wijaya

Setelah perintang kokoh dan tidak bocor, mereka membuat Tuba dengan menumbuk akar-akar racun. Akar yang menyerupai singkong ini dimasukkan ke dalam karung kemudian dipukul-pukul menggunakan batang kayu. Air dimasukkan dan hasil perasannya dituang lalu diaduk dalam air sungai. Anak-anak kecil yang ikut bersama kami membantu mengaduk dengan menendang-nendang air di dalam sungai yang dangkal. Anak-anak ini tangguh. Ketahanan dan keterampilan mereka di alam dibentuk oleh hutan. Mereka juga ceria karena seluruh belantara adalah tempat mereka bermain.

Kami berhasil memeroleh beberapa ekor ikan. Gerimis turun lalu digantikan panas. Saya menjaga ketahanan tubuh melawan inveksi dari luka dengan meminum vitamin C dan memperbanyak air putih. Menjelang sore kami pulang.

Sesampainya di pemukiman Orang Rimba, hasil buruan kami segera dibagi. Saat itu rupanya ada kelompok tetangga yang memeroleh babi. Para pemburu ini berangkat pagi bersenjata senapan rakitan (kecepe). Kelompok Bepak Pengusai juga kebagian daging babi. Saya dan Dani diberi sepiring daging babi dan labi-labi. Saya meracik bumbu di dapur milik Bepak Pengusai yang berada di luar rumahnya. Dapur ini serupa pondok tapi hanya terdiri dari empat tiang beratap. Ngarap membantu saya. Kadang ia diolok-olok oleh indok-indok dengan sebutan Gaek Lapai. Yaitu perempuan yang cukup umur tapi belum kawin. Rupanya Ngarap tidak malu, Ia memang sengaja memilih tidak menikah. Saya berpikir, mungkin pria-pria di sini yang justru minder dengan ketangkasan dan kemandirian Ngarap.

Pria memasak tidak lazim di masyarakat Orang Rimba. Tak ayal saya pun menjadi tontonan. Bukan hiperbolis, saya seperti tukang sulap yang dikerumuni orang di pasar. Semua mata tertuju pada saya. Anak-anak menatap terpelongok penuh keheranan. Satu-dua pria Orang Rimba yang memiliki telepon selular memotret saya beberapa kali sambil tertawa cengengesan. Lambat laun kerumunan ini semakin sepi karena menunggui saya memasak daging terlalu lama.

Foto-foto: Dani

Foto-foto: Dani

DSC00914

Modernitas

Hari berlalu, kami kemudian berpindah ke kelompok Depati Pengarap. Depati adalah jabatan setingkat camat. Jabatan seperti depati tidak diperoleh secara demokrasi tapi diturunkan. Untuk sampai ke kelompok Depati Pengarap kami menembus hutan sawit lewat jalan setapak. Lagi-lagi kubangan air dan tanah becek menjadi tantangan bagi kami yang melewatinya menggunakan motor.

Kami berpapasan dengan perempuan Orang Rimba di jalan. Aturan adat melarang lawan jenis langsung mendekat, maka Dani akan memperkenalkan diri terlebih dahulu.

Kami berpapasan dengan perempuan Orang Rimba di jalan. Aturan adat melarang lawan jenis langsung mendekat, maka Dani akan memperkenalkan diri terlebih dahulu.

Perempuan Orang Rimba membabat belukar di hutan. Foto: Taufan Wijaya

Perempuan Orang Rimba membabat belukar di hutan. Foto-foto: Taufan Wijaya

Depati Pengarap menyirami benih pohon.

Depati Pengarap menyirami benih pohon.

Dalam pandangan saya Orang Rimba adalah orang yang dianggap oleh masyarakat umum sebagai penonton. Mereka dianggap tidak berandil apa-apa, kadang menjadi korban penipuan, kadang jadi obyek laju pembangunan. Mereka kebanyakan terbodohkan karena hanya sedikit yang bersekolah.

Tapi zaman terus bergerak. Cara melihat tradisi dan kearifan lokal Suku Anak Dalam berbeda dengan Suku Baduy Dalam. Orang Rimba berpolitik dalam segala hal. Mereka juga mulai mengadopsi gaya masyarakat modern dan berperilaku konsumtif. Mereka juga memiliki kemampuan ekonomi karena hutan mereka telah ditanami sawit dan karet.

Karet mereka adalah pohon yang ditanam kakek mereka semasa era kolonial. Dengan sawit dan karet mereka membeli komoditas beras, minyak, dan seterusnya. Orang-orang mulai menggunakan telepon seluler dan motor. Mereka memiliki televisi, pemutar cakram, dan genset sebagai sumber listrik.

Indok Orang Rimba menderes karet usai membuat sarapan. Kaum istri juga tetap berkebun.

Indok Orang Rimba menderes karet usai membuat sarapan. Kaum istri juga berkebun.

Mereka tak siap ketika arus informasi mulai membanjir. Mereka mengalami gegar budaya. Mereka mengidentifikasi gaya hidup transmigran di areal perkebunan, pendatang, dan tontonan di VCD. Beberapa anggota kelompok yang akar tradisinya lemah bahkan ada yang menukar tanah mereka dengan barang atau kendaraan. Ketaatan pada undang-undang adat yang mengikat pelan-pelan mulai luntur karena denda (yang dihitung dalam “keping kain”) mulai melunak. Seorang relawan yang pernah mendampingi Orang Rimba di Terab bercerita tentang dua kasus kawin silang yang dulunya merupakan pelanggaran berat incest.

Ilmu Pengetahuan

Banyak pegiat dan lembaga yang percaya bahwa pendidikan yang mampu menyelamatkan Orang Rimba dari gerusan zaman. Modal pertama adalah membekali mereka dengan kemampuan membaca-menulis agar tidak mudah tertipu dalam peraturan atau transaksi dengan pihak luar.

Di Pengelaworon saya bertemu dengan dua anak, satu anak bernama Bejajo. “Apakah kamu pernah belajar?” tanya saya padanya. Ia menjawab dulu sempat belajar pada Bu Shasa. Shasa adalah pegiat pendidikan di Pengelaworon setelah  Yusak—telah meninggal karena malaria, Saur Marlina “Butet” Manurung, dan Karlina. (Saya sempat berkenalan dengan Karlina dan Shasa sebelum masuk ke pedalaman Jambi. Sedangkan Butet yang kisahnya difilmkan, saya hanya sempat membaca surat tulisan tangannya pada Gentar muridnya).

Semangat belajar Bejajo tinggi tapi ia tak lagi mempunyai guru. Di malam kedua di Pengelaworon, Bejajo dan seorang temannya mendatangi pondok kami. Dani mengajarinya mengeja kalimat lalu diteruskan dengan membuatkan mereka soal-soal berhitung.

Konsumerisme membawa dampak buruk bagi lingkungan. Celakanya Orang Rimba tidak belajar tentang ilmu lingkungan. Sehingga mereka sembarangan membuang sampah plastik. Saat di kelompok Depati Pengarap, saya mengumpulkan sampah plastik di halaman rumah mereka, di ladang, dan di kolong gubuk mereka. Saya kemudian membakarnya.

Depati, Nyerah dan Belapit hanya melihat apa yang kukerjakan. Udara siang itu panas sehingga sampah plastik bahkan yang bercampur air sisa hujan kemarin juga terbakar. Usai membakar sampah plastik aneka rupa snack dan kantong kresek itu saya beristirahat sembari mengobrol dengan Depati di bawah anakan pohon gaharu. Depati adalah orang yang lucu. Ia bercerita semalam mimpi digigit anjing, rupanya saat terbangun kucing piaraannya sedang menggigiti kakinya.

Saya teringat bekal kami. Saya kemudian mengambil sekantung permen dari tenda dan memberikannya pada Belapit untuk dua anaknya. Permen itupun dimakan satu per satu dan habis dalam waktu sekira sepuluh menit. Dua anak Belapit yang masih kecil membiarkan bungkus permen berserakan di tanah. Tapi yang melegakan adalah Belapit memungutinya satu per satu. Pendidikan memang tidak melulu transfer ilmu dari guru dan murid, tapi juga teladan. Saya senang dapat mengajarkan sedikit kebaikan meski hanya pada satu orang.

Tenda selama di Sako Tulang.

Tenda selama di Sako Tulang.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Perjalanan Menemui Orang Rimba

  1. ahmadyani1987aan@yahoo.com says:

    Kerennn masss….enak membacanya
    Powered by Telkomsel BlackBerry®

  2. masterkokionline says:

    Luar biasa, catatannya terinci dan lengkap.. ada ending jatuh cinta ngak.. he he he

  3. giewahyudi says:

    Sungguh perjalanan yang luar biasa, seperti menelusuri kisah dalam film Sokola Rimba.

    Bungo itu maksudnya Muaro Bungo ya?

    Saya baru tahu kalau rokok digunakan sebagai semacam salam untuk pria-pria Rimba. Serem banget jalannya ya, apalagi hujan gitu, duh semoga kakinya segera pulih ya, Mas. Lebih serem lagi itu ular Phyton-nya segede apa.

    Itu foto ibu-ibu yang topless itu sebaiknya diblurkan saja, Mas. Takutnya nanti ada yang protes.

  4. taufanwijaya says:

    Terima kasih Ahmadyani, masterkokionline, dan mas Giewahyudi.
    Sebelumnya maaf, saya merasa tak perlu mengubah apapun dalam foto-foto saya termasuk mem-blur bagian tertentu. Postingan di blog seperti buku, dan saya belum pernah melihat dalam buku-buku foto perempuan Papua disamarkan. Terima kasih atas anjurannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s