Menyusuri Pecinan di Padang

Seorang pria Tionghoa paruh baya menyodorkan jabat tangan, “Ha mik lang?” yang berarti dari mana (asalnya)? Saya yang gugup hanya menjawab kota asal keberangkatan. Saya berada di Pondok, satu kawasan yang dihuni etnis Tionghoa di Padang.

Perjalanan menyusuri pecinan di Padang saya mulai di Jalan Niaga. Seperti namanya, di jalan inilah etnis Tionghoa menjalankan perniagaan mereka. Ruko adalah pemandangan yang jamak. Sebagian berupa kios dengan pintu alumunium gulung atau bilah-bilah kayu berengsel model lama. Ruko ini sebagian berupa bangunan bertingkat dengan tempat berdagang di lantai dasar dan tempat tinggal di lantai atas. Dari jalan bisa terlihat sebagian jendela tempat tinggal mereka terbuka, membiarkan udara yang bertiup dari Maninjau atau Singkarak menyegarkan ruang di dalam rumah.

Kelenteng di Jalan Kelenteng, Padang, Sumatera Barat. Foto: Taufan Wijaya

Kelenteng di Jalan Kelenteng, Padang, Sumatera Barat. Foto: Taufan Wijaya

Beberapa bangunan di jalan ini telah usang. Angin, panas, dan hujan menggoreskan kerutan di dinding. Lumut yang berkerak turut menindih sebagian bidang semen. Setiap ruko berbagi dinding dengan ruko milik tetangganya. Rumah-rumah jenis ini adalah bangunan kotak dengan atap yang menaungi beberapa rumah sekaligus. Pagar beton setinggi pinggang atau jeruji besi mengelilingi teras yang mungil. Ukuran rumah di deretan ruko ini sama persis dengan panjang ruko-ruko yang berjajar.

Tak semua ruko adalah bangunan bertingkat. Ada yang berupa bangunan satu lantai dengan tempat usaha di bagian muka dan tempat tinggal di sisi dalamnya. Tak ada pekarangan selain sedikit halaman berpaving tempat parkir pembeli. Biasanya ruang di rumah toko sekaligus menjadi garasi mobil. Bila saatnya kios atau kedai tutup, maka tatanan meja-kursi-lemari di kios atau kedai digeser menepi lalu mobil pribadi dimasukkan. Bukanlah rumah berjendela dan pintu yang menghubungkan lingkungan luar dengan ruangan pribadi milik empunya.

Di satu gang di Jalan Niaga, sebuah bangunan bertingkat menjulang kokoh milik Himpunan Keluarga Lim Padang. Dari sana saya terus menapaki jalan hingga memotong di sudut ke Jalan Kelenteng. Tepat di pojok yang bersisian secara diagonal dengan pos polisi, berdiri rumah perhimpunan marga lainnya. Beberapa mobil teparkir di sana. Sebagian pria duduk di emperannya saling mengobrol dan mengisap rokok. Sebuah warung tenda nampak ramai dikunjungi pembeli. Sebagian menekuri menu makanannya dan sebagian lagi tampak berdiri menunggu pesanan untuk dibawa pulang.

Tak jauh dari sana berdiri tempat pemulasaraan jenazah. Bentuknya sepintas mirip aula tempat pertemuan atau kafe yang belum buka. Begitu asri karena banyak tetumbuhan dengan dominasi kayu dan batu pualam. Cecelia yang berpendidikan desain arsitektur juga tak menyangka kalau bangunan joglo yang kami lihat adalah pemulasaraan jenasah. Kami baru mengetahuinya dari Bin.

“Saya masih bisa sedikit berbahasa Hokkien. Tapi sehari-hari Minang,” kata Bin pada Cecelia, perempuan manis setengah Tionghoa yang menemani saya menyusuri Pondok. Mereka kemudian berdialog dengan separuh Hokkien, Bahasa Indonesia, dan Inggris. Kami mengenal Bin ketika menanyakan arah. Saat itu kami berhadapan dengan gerbang memasuki kawasan pemulasaraan, letaknya persis bangunan yang fungsinya salah kami kira sebelumnya. Bin kami temui sedang duduk di gerobak bakso milik temannya. Ia sendiri memiliki kedai kopi di satu lorong di Jalan Kelenteng. Tapi ia telah menutup kedai kopinya menjelang malam.

Di Sumatera, mungkin di Kota Padang inilah dialog baik dalam Hokkien, Hakka, atau Mandarin begitu asing. Masyarakat keturunan Tionghoa di kota ini meleburkan bahasa ibu mereka dalam bahasa setempat. Generasi baru menggunakan bahasa Minang sebagai bahasa sehari-hari. Mirip kota-kota di Jawa yang masyarakat etnis keturunan tak menguasai bahasa Tionghoa.

Malam seusai hujan tetap menghadirkan hangat karena ramainya orang berlalu-lalang di kawasan ini. Ada yang berbelanja, tapi kebanyakan menuju kedai-kedai yang menyediakan santapan chinese food. Pecinan di Pondok sangat kentara sebagai konsentrasi aktivitas ekonomi masyarakat Tionghoa. Yaitu dengan banyaknya ruko dan kedai makanan Cina.

Bin adalah orang yang ramah. Ia menjelaskan panjang tiap pertanyaan yang kuajukan dalam obrolan kami. Ia kemudian mengajak dua temannya—sama-sama berumur—ikut mengobrol saat mereka melintasi jalan kami. Ia menjelaskan bahwa di terusan Jalan Kelenteng, tempat kami berdiri sekarang ini, adalah bangunan-bangunan perkumpulan marga; Liem, Kan, dan Li.

Pondok memang bukanlah bagian dari kota tua. Bukan kawasan di mana pendatang etnis Tionghoa berlayar kemudian membentuk satu koloni dengan mempertahankan tradisi yang kuat. Kebanyakan keturunan Tionghoa pelaku usaha di sini bermigrasi sekitar tahun 70an yang sebagian berasal dari Medan dan Pekanbaru. Sebelumnya, baru segelintir keluarga Tionghoa yang tinggal di ranah Minang pada abad ke-19. Komunitas Tionghoa di Padang yang berasal dari Pekanbaru menurut sejarah adalah perantau Tionghoa dari Xiamen, wilayah Provinsi Fujian, Tiongkok Selatan dan Songkhla, Thailand. Mungkin aturan Passenstelsel dan Wijkenstelsel kala itu merambat ke Sumatera membuat komunitas Tionghoa di Padang turut menciptakan pemukiman etnis atau pecinan.

Bangunan Tionghoa di kawasan Pondok adalah rumah beton yang dibangun tahun 1900an. Itupun hanya tersisa sebagian setelah kota ini digoncang gempa dahsyat tahun 2009. Bangunan-bangunan perkumpulan marga hingga kelenteng paling megah di Jalan Kelenteng adalah bangunan baru. Yang bisa saya rasakan permukaan catnya yang licin dan mengkilap.

Saya meneruskan menyusuri Jalan Kelenteng. Tak berapa jauh melangkahkan kaki, semarak warna lampu dan nuansa merah khas kelenteng tampak mencolok. Inilah kelenteng tak berprasasti nama. Aksara Cina yang tertempel di atas pintu masuk bangunan utama berbunyi Sin Kong. Yang maknanya sama artinya dengan kelenteng.

Kelenteng ini ramai oleh muda-mudi yang sibuk bergaya di depan kamera. Mereka berfoto di gapura, di antara patung penjaga, di ukiran naga, di tiang, di undakan, tak ada tempat yang luput dari ide foto mereka. Sesekali mereka harus bersabar sebelum menekan tombol rana karena orang yang berlalu-lalang mungkin mengganggu komposisi gambar yang ia harapkan. Atau bila kebetulan ada orang yang masuk dalam bingkai gambar, mereka akan bilang permisi untuk sedikit menyingkir.

Remaja perempuan yang berfoto di kelenteng ini sebagian berjilbab. Sandangan khas pemeluk Islam yang banyak dipakai masyarakat Melayu. Jilbab yang dipadankan dengan kaus dan celana denim. Pemandangan di Kelenteng menjelang malam itu memberi gambaran bahwa kerukunan beragama dan kehidupan sosial di Kota Padang begitu damai. Islam yang diwakili pribumi dan non-Islam oleh keturunan Tionghoa tampak begitu rukun. Apalagi kelenteng di sana yang dibuka hingga malam hari. Pembauran antar-etnis dan agama yang indah.

Saya memasuki kelenteng dengan terlebih dahulu melepas alas kaki. Saya berkenalan dengan Wan An (70). Pria yang memasuki uzur tapi masih bekerja sebagai penerjemah di proyek-proyek infrastruktur di Padang. Proyek yang dikerjakan oleh orang Tionghoa dari Singapura. Wan bercerita bahwa dirinyalah penerjemah kelenteng ini di tahap pembangunannya hingga selesai.

Kelenteng ini baru selesai dibangun pada Maret tahun ini. Kelenteng yang menggantikan bangunan kelenteng lama yang berdiri tak jauh dari bangunan peribadatan baru ini. “Yang lama telah rusak karena gempa. Patung-patung dewa berwarna hitam dan lonceng ini diambil dari kelenteng lama,” kata Wan. Ia kemudian menunjuk ubin, tiang, hiasan dan ukiran yang serba baru yang didatangkan langsung dari daratan Cina. Setelah bangunan utama kelenteng berdiri, sepasang orang Cina dipekerjakan untuk melukis mural di dalam dan luar ruang, di dinding dan di langit-langit. Menawan dengan dominasi warna merah pekat.

Saya kemudian berpamitan pada Wan. Ia mengantar hingga ke halaman kelenteng yang masih ramai oleh remaja pehobi foto diri. Saya kemudian meneruskan menyusuri Jalan Kelenteng. Ada kios penjual rokok yang masih buka. Di sebelahnya duduk pria yang asyik bermain dadu. Saya kemudian memotret kelenteng lama yang telah rusak. Atapnya ambrol. Tak kusangka rupanya Wan mengikuti. Ia kemudian kembali bercerita tentang kerusakan kelenteng lama. Saat saya melanjutkan perjalanan menuju bangunan-bangunan perkumpulan marga, Wan ikut serta. Di satu bangunan marga beraksara Cina, lima orang pria berkulit kuning dan bermata sipit asyik mengobrol dalam Bahasa Indonesia.

Akhir dari Jalan Kelenteng adalah gang semen yang semakin menyempit. Perkumpulan marga berhadap-hadapan. Dalam deret ini, hanya satu bangunan tua yang selamat dari goncangan gempa. Sebagian bangunan memiliki kolom besar di bagian teras seperti bangunan zaman penjajahan Belanda. Beberapa dari itu dilengkapi dengan patung singa batu di sisi kanan dan kiri di bagian muka. Bentuk singa batu tidak benar-benar seperti hewan singa, tapi menyerupai binatang dalam cerita legenda China. Jantan di sebelah kiri dan singa batu betina di sebelah kanan. Bagi masyarakat di Tibet, singa penjaga ini disebut Gangs Senge atau binatang dalam dongeng yang berasal dari langit. Di Myanmar, singa batu penjaga ini disebut Chinthe yang dipercaya menjadi pelindung pagoda dan kuil. Di beberapa kota, patung singa batu diletakkan di depan perkantoran, rumah mewah, di gerbang taman, hotel, dan banyak tempat lainnya.

Roh pecinan sepertinya ada di Jalan ini. Di sini terdapat kantung kebudayaan bernama ‘Perkumpulan Sosial Pemakaman dan Kebudayaan HIMPUNAN BERSATU TEGUH’. Saat saya melintas, sejumlah orang sedang mengemasi alat musik tabuh dan peralatan tata suara. Dari Jalan Kelenteng saya kembali ke Jalan Niaga untuk membeli oleh-oleh kripik balado. Kripik yang seolah menjadi bawaan wajib bagi siapapun dari Padang. Kripik balado adalah kripik singkong pedas, singkong diiris tipis digoreng dengan rasa dasar gurih renyah berlumur sambal pedas-manis. Keripik balado ini juga banyak dijual oleh pedagang Tionghoa, satu yang enak adalah di toko Nan Salero. Saya kemudian berkenalan dengan Sien Su (61) yang juga berjualan kripik balado yang tokonya berselang satu ruko di sebelahnya. Sien kemudian tak henti-henti memegangi hio-nya yang terus mengepul sembari menunggui toko dan melayani pembelinya. Saat saya kebingungan mencari di manakah penjual pia kosong, saya bertanya pada Sien. Ia lalu memanggil kerabatnya yang kebetulan singgah. Kerabatnya inilah yang mengantar saya ke satu gang dengan mengayuh sepeda. Di sana saya menemukan kios kecil, ruko yang terbuat dari kayu. Kios ini hampir tutup karena pintu bilah terakhir baru saja hendak dikatupkan saat saya datang. Si empunya adalah perempuan berkulit coklat dan pria Tionghoa berbadan gempal. Seorang bocah Tionghoa kemudian muncul di pintu karena dialog kami. Dari dialog singkat itu lagi-lagi saya menemukan bentuk pembauran ras yang begitu indah.

Sayangnya saya hanya punya waktu sore hingga malam untuk menyusuri pecinan ini. Karena sisa waktu perjalanan saya yang terbatas selama di Sumbar. Hari sebelumnya, telah habis untuk mengunjungi tiga kabupaten sekaligus. Sementara esok paginya saya harus ikut penerbangan paling awal. Jadi di waktu yang sempit itu saya harus menemui orang-orang Tionghoa di sekitar pecinan untuk merangkum cerita tempat ini.

Dari Jalan Hos Cokroaminoto saya kemudian menyandarkan pantat di kursi kedai es durian di Jalan Tepi Pasang. Es durian itu memenuhi mangkuk bergagang. Isinya durian dicampur lengkong dan susu cair coklat. Semangkuk itu bisa sangat mengenyangkan dan membuat haus meski disajikan dingin. Durian asli memang menghadirkan sensari “kering” yang membuat tenggorokan serasa haus berkepanjangan.

Durian menjadi penutup perjalanan menyusuri pecinan di Kota Padang ini. Dari kota yang jauh, awalnya saya berpikir Padang hanya dipenuhi orang Minang. Tapi keturunan Tionghoa hidup dan membaur di kota ini. Pecinan membentuk Padang itu sendiri sebagai sejarah peradaban di Barat pulau Sumatera.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s