Bila Demam Berdarah dan Malaria Menyerang Bersamaan

Ini adalah pengalaman terbaru saya. Saat menulis ini saya sedang dalam upaya menambah trombosit darah saya yang diganyang habis oleh demam berdarah. Di saat yang berbarengan, malaria meracuni darah saya.

Ini adalah kesakitan terberat yang pernah saya alami. Yang karenanya saya harus opname selama empat malam-lima hari di rumah sakit. Rumah sakit adalah mimpi buruk semua umat manusia kecuali dokter, dan selama empat malam itu saya harus memeluk mimpi buruk itu.

IMG_52341

Beruntung saya memiliki seseorang yang menemani dan melayani di saat-saat itu. (Tidur di lantai, membuat bubur tawar serasa dimsum, menyediakan pispot, dan sebagainya). Tetap saja, penghiburan terbaik adalah tatkala mencari “keringanan” dari suatu musibah. Tapi sewajarnya bila kesengsaraan saya itu memang tak bisa dibandingkan penderita penyakit ganas yang ditambah kesulitan uang untuk berobat.

Virus dengue akibat Aedes Aegypti dan Plasmodium Protista Eukariotik akibat Anopheles berawal dari tugas reportase saya ke pedalaman Jambi. Saya tahu, semestinya orang yang hendak masuk ke kawasan endemi malaria melakukan terapi primakuin atau klorokuin. Tapi saya menuruti saran teman saya yang lebih dulu masuk ke hutan, bahwa obat itu hanya berdampak buruk bagi tubuh. “Pakai saja lotion nyamuk sebanyak mungkin,” pesannya kala itu yang diiyakan oleh suaminya—yang rasanya selalu setuju padanya. (Sepasang teman saya ini pula yang kelak berbaik hati beberapa kali mengunjungi saya.)

Dan berangkatlah saya ke Jambi, 10 hari di sana. Sepulangnya, di Jakarta saya baik-baik saja bahkan saat harus ke Bandung dua malam. Tapi menjelang seminggu kemudian, saat di Jogja saya mulai merasakan pusing. Saya mengira itu akibat infeksi luka di betis yang saya peroleh saat masuk ke dalam hutan. Atau mungkin stres karena hari-hari itu saya banyak berdebat dengan partner saya bahkan hingga dini hari.

Demam muncul-tenggelam. Di hari ketiga saya periksa ke klinik dan dokter hanya memberi vitamin serta paracetamol. Ia berpesan bila tiga hari kemudian demam saya masih berlangsung, saya harus melakukan cek darah. Saat-saat itu badan saya terasa tidak enak tapi saya tetap bekerja termasuk jalan kaki dari satu tempat ke tempat lain (saya tidak punya kendaraan di Jogja).

Dan di hari ketiga saya pergi ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) setelah saya demam dan gemetaran. Di rumah sakit umum Dr. Sardjito, dokter hanya menganggap remeh sakit saya. Saya diukur tekanan darahnya, disuntik penurun panas, kemudian diambil sampel darah. Dua jam kemudian dokter bilang darah saya mengental karena dehidrasi, sel darah putih normal, dan trombosit saya turun. Saya disuruh pulang dengan membawa obat yang sama: multivitamin dan paracetamol. Sembari menunggu dua jenis obat ajaib ini seorang ibu bercerita menggerutu bahwa anaknya yang berusia 36 tahun mengalami stroke dan hanya dibiarkan tergolek pingsan tanpa penanganan. Huh…

Dua hari berselang dan di satu siang saat menunggu makan siang, tubuh saya terasa tak keruan. Langkah kaki gontai, kepala serasa diisi ratusan lonceng, dan demam. Saya memutuskan pergi ke IGD dan kali ini saya menuju ke rumah sakit kristen Bethesda. Bercelana pendek dengan tas punggung menggantung, saya berjalan kaki limbung menemui dokter jaga IGD setelah mendaftar. Saya menceritakan keluhan dan riwayat sakit sembari dokter melakukan pemeriksaan. “Saya opname aja, dok.”

Infus kemudian dipasangkan dan saya mulai tenang karena setidaknya saya telah mendapat bantuan medis. Suhu tubuh saya waktu itu 40 derajat celcius! Angka yang tinggi untuk bisa ditoleransi kesadaran tubuh manusia.

Satu dua orang melintas. Saya berada di ruangan yang bisu dengan dinding yang dingin. Hatipun kecut saat dokter menanyakan asuransi yang celakanya lupa saya bayar preminya dua bulan belakangan. Selamat datang di dunia freelance: kamu harus bertanggungjawab pada dirimu sendiri! Sakit bayar sendiri dan penghasilan terhenti karena tak kerja.

Pasien Kelas II

Saya masih di ruangan yang sama cukup lama karena ruangan rawat inap penuh. Akhirnya satu kamar di kelas II bisa kutinggali, bila ingin lebih baik harus mengisi “waiting list”. Kelak saya baru tahu dari teman yang jatuh sakit bahwa lima rumah sakit  di Jogja penuh di saat itu. Debu letusan Gunung Kelud yang menyelimuti kota ini memang membuat udara berdebu yang menurunkan daya tahan tubuh.

Dan di sinilah saya malam ini. Di kamar berpenyekat dinding triplek warna krem setinggi dua meter dengan atasan terbuka. Pintunya adalah pintu geser yang “Suster, tolong ditutup rapat” bila ingin tertutup sempurna. Sebuah ranjang mungil berkaki roda—yang bila menggeser tubuh ikut bergoyang—menambah efek gempa di kepala saat malam hari yang gerah. Dua kipas angin di langit-langit menjadi penyuplai “kesegaran” satu ruang besar yang terbagi dalam sembilan bilik ini.

Itu belum seberapa. Suara batuk yang bersahutan antarpasien menjadi siksaan tersendiri. Kelas rendah memang ujian berat. Sudah mengidap sakit, pasien juga harus menaklukan segala keterbatasan dan ketidaknyamanan. Tak hanya sakit badan, tapi di rawat inap di kelas seperti ini jiwamu juga didera.

Tiap jam 5.00 subuh, suster datang mengambil sampel darah. Di malam ketiga leher saya sakit ngilu yang teramat sangat. Serasa seperti terkilir akibat bantal spons berbalut synthetic leather yang nyaris sekeras balok kayu. Saya baru ngeh kenapa ada pasien yang membawa bantal dari rumah.

Pertama kali masuk trombosit saya hanyalah 81.000 dari angka minimal orang sehat 100.000. Kemudian trombosit saya anjlok menjadi 41.000 hingga saya tidak diperbolehkan berjalan untuk mengurangi risiko pendarahan. Lalu bertahap menjadi 46.000, 47.000, 60.000, dan 80.000 saat akhirnya diperbolehkan pulang. Sekarang, selain banyak makan untuk menambah trombosit saya masih harus minum obat agar malaria dalam darah dan liver saya negatif.

Demam berdarah dan malaria adalah dua serangan yang bisa mematikan. Keduanya hanya gara-gara gigitan nyamuk yang tak lebih sakit dari sebuah cubitan. Karena keduanya saya berdebar-debar dan berdoa agar beasiswa S2 saya tak dibatalkan hanya karena tenggat kelengkapan berkas terlampaui.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Bila Demam Berdarah dan Malaria Menyerang Bersamaan

  1. hilmi faiq says:

    get better soon, bro. Jangan mau kalah oleh gigitan dua nyamuk itu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s