Ke Bukit, Milky Way Kukejar..

Foto: Taufan Wijaya

Foto: Taufan Wijaya

Bagi penyuka fotografi astronomi dan landscape, mulai bulan ini hingga Agustus, Milky Way terlihat di pulau Jawa. Saya tidak termasuk penyuka, tapi sebagai pekerja di fotografi saya merasa tertantang untuk memotretnya.

Tahun lalu saya pernah memotret di pantai di Tanjungpinang tapi gagal. Milky Way adalah galaksi yang berisi sistem tatasurya kita. Bentuknya berupa ‘band’ kabut yang bercahaya dan melintang di langit malam.

Misi memotret Milky Way kali ini dipicu posting-an mentor saya Eddy Hasby yang mengunggah fotonya di media sosial. Dari situ, saya sepakat berangkat memotret bersama fotografer Pandji Vasco Da Gama, seorang amatir yang minggu depan diundang Emirates ke Dubai karena karyanya.

Setelah cukup melahap makanan berlemak sebagai bekal kalori di Solo, jam 20.15 WIB kami berdua meluncur naik ke Karanganyar. Targetnya adalah Candi Cetho yang berada di atas kebun teh, satu jam perjalanan. Saya membayangkan siluet gapura candi, lekuk bukit dengan langit yang dibelah oleh Milky Way pekat.

Dingin mulai merambat saat kami melampaui ketinggian 500dpl. Ketika sampai di parkiran candi, kami memutuskan mencari minuman hangat, beruntung masih ada warung yang buka. Si bapak pemilik warung kemudian kami sewa menjadi fixer.

Komplek candi telah ditutup karena jam berkunjung hanya sampai sore hari. Maka kami berjalan memutar untuk naik dan memotret patung Dewi Saraswati. Jalan yang gelap dan licin sempat membuat teman saya jatuh tergelincir. Hasil foto dari sini tidak memuaskan.

Kami kemudian turun dan mencoba memotret dari sisi samping komplek candi. Sayang, lampu-lampu yang bagi bukan pemburu Milky Way terkesan semarak, justru membuat foto saya berantakan. Fotografer biasa menyebut kendala lampu seperti ini sebagai “polusi cahaya”. Memang, Milky Way akan terlihat lebih kuat di tempat yang benar-benar gelap.

Kami lalu berpindah-pindah dari tempat parkir hingga sepanjang rute turun bukit. Saya malam itu terlatih untuk mendeteksi letak Milky Way dengan mata telanjang. Kalaupun foto saya tidak sempurna, setidaknya saya belajar melihat fenomena alam dan teknik merekamnya.

Tanpa sadar separuh malam telah lewat. Letak Milky Way pun beringsut meninggi dan menjauh dari horison. Kami menyudahi perburuan foto ini.

Milky Way lalu menyisakan lelah dan kantuk. Tapi saat perjalanan turun saya melihat mbok-mbok berjalan memanggul sekarung sayuran. Dan beberapa ibu lain dari arah berbeda yang akhirnya berkumpul di Pasar Kemuning.

Waktu itu pukul 01.30 WIB. Saya merasa malu hanya bekerja dengan berjalan menenteng tripod dan kamera mirrorless saja sudah merasa capai. Para ibu ini berjalan sarat beban menuruni bukit dalam kabut dingin, demi anak-anak mereka. Lalu saya berjanji akan memotret lebih baik lagi.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s