Tentang Presiden(ku) Nanti

Saya menahan diri untuk tidak berkomentar di sosial media tentang gegap-gempita pemilu legislatif dan pemilihan presiden (pilpres). Tapi sepertinya hasrat bersuara, sekalipun sedikit, tak bisa dikunci. Kurang dari 50 hari ke depan kita akan menentukan pemimpin baru, presiden yang akan membawa biduk negeri ke arah yang hanya bisa kita terka.

Kita disodori dua pilihan yaitu Prabowo Subianto (PS)–Hatta Rajasa (HR) atau Joko Widodo (JKW)– Jusuf Kalla (JK). Dua calon ini membuat pilpres lebih sederhana, hemat biaya, dan segera memberikan kepastian pemerintahan 2014-2019 pada rakyat. Tapi seperti pidato J.F. Kennedy di Texas pada 22 November 1963, “We in this country, in this generation are by destiny rather than choice, the watchmen on the walls of world freedom.” Kita hidup di zaman demokrasi di mana rakyat dapat memilih pemimpinnya secara langsung, tapi pilihan itu hanya serupa takdir: pilih PS-HR atau JKW-JK.

Saya tergelitik dengan pidato Prabowo saat deklarasinya, “…Dan hari ini dengan penuh rasa tanggung jawab, saya dan Hatta Rajasa menerima amanah dan kepercayaan dari partai pendukung.” Yang saya garis bawahi dari kalima ini adalah amanah dan kepercayaan dari partai pendukung. Rakyat kemudian menjadi hal yang tak perlu ditegaskan ulang sebagai pemberi amanat dan kepercayaan.

Dari argumen saya memojokkan Prabowo, sepintas saya seperti pendukung Jokowi, tapi sejatinya tidak. Saya tidak berharap banyak pada dua calon presiden ini. Belum ada sikap yang teguh dan jiwa kenegarawan di luar kekuasaan yang dapat saya lihat dari mereka. PS-HR diusung Gerindra didukung oleh PPP, PAN, PKS, PBB, dan Golkar (yang terakhir uniknya justru memiliki suara lebih besar ketimbang Gerindra), sedangkan JKW-JK yang diusung oleh PDIP berkoalisi dengan Nasdem, PKB, dan Hanura.

Kepada Prabowo catatan saya memang lebih banyak. Selain memiliki sejarah kelam represi oleh militer, terang-terangan menjanjikan Aburizal Bakrie (yang kita kenal sebagai pendosa bencana Lapindo dan penilep pajak) untuk menjabat menteri utama, serta menggunakan Amien Rais sebagai pengguat suksesinya. Saya menyukai Amien ketika berceramah, tapi tidak suka dengan manuver politiknya yang licin sejak era Gus Dur.

Akhirnya saya hanya menjadi penonton. Mlongo melihat gegap-gempita pemilu dan dan sinis pada fotografer teman saya yang sibuk mencitrakan Sri Mulyani untuk menjadi presiden. Saya sendiri berharap kelak Abraham Samad—bila terus konsisten—dapat menjadi pemimpin yang alim. Abraham yang santun namun mampu menjebloskan ketua partai, legislator, dan menteri ke dalam bui.

Semestinya untuk membesarkan Indonesia adalah di saat bangsa ini tak dirundung banyak masalah. Sehingga adagium “The time to repair the roof is when the sun is shining” bisa lebih mudah dijalankan. Tapi bangsa ini sedang sakit. Bukan karena tragedi dan tirani, tapi korupsi dan praktik premanisme yang telah bermetamorfosa dalam bentuk yang lebih canggih. Upaya pemberantasannya terus dilakukan tapi penjahat-penjahat baru bermunculan.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s