‘Mantan’ yang Luar Biasa

Siang hingga sore tadi saya datang ke acara pernikahan Adip, adik sepupu saya. Usai pemberkatan nikah di gereja, rangkaian acara pernikahan dilanjutkan di satu gedung sewaan di pinggiran Kota Jogja.

Adik kandung saya, Bapak, dan Ibu semuanya berdandan adat Jawa. Saya hanya memakai baju batik lengan pendek dipadu celana denim dengan sepatu kets di ujungnya. Saya tak begitu memperhatikan keseluruhan acara. Saya lebih memilih mondar-mandir melihat aneka hidangan prasmanan, desain interior, dan tetamu yang datang. Saya juga sesekali memotret dengan kamera mirrorless yang sedari tadi kucangklong di pundak.

Tata cara kejawen kemudian dilangsungkan. Semua perhatian tertuju pada prosesi itu. Prosesi yang dibumbui dengan filosofi dan kepercayaan pada perlambang-perlambang. Setelah usai, tibalah acara makan-makan.

Saya sebelumnya telah mengincar selad Solo dan sate ayam. Hidangan bubur, empal, aneka sayur, ayam goreng, termasuk mie yang dimasak langsung di tempat oleh koki tidak menarik seleraku. Pun aneka kudapan dan es. Lalu saya menjadi rombongan pertama yang menyerbu stall selad Solo.

Saya menawari ibu dan bapak apakah mereka tertarik untuk menyantap makanan karena waktu telah memasuki jam makan malam. Mereka menolak karena sebagai among tamu—orang yang bertugas menerima tamu, rasanya tidak pantas bila makan saat tamu datang untuk bersalaman. Saya menaik kursi di deretan tamu untuk kuletakkan di belakang tempat duduk ibu-bapak lalu kemudian makan. Saya ingin menghabiskan waktu untuk dekat dengan Ibu karena di kesempatan seperti inilah kami bisa bertemu setelah terpisah jarak antarkota (dan sesekali antarnegara).

Tak dinyana perempuan yang wajahnya kukenal bernama Elis mendekat. Di sampingnya seorang pria bule menemani. Ia menjabat tangan kami bertiga. Saya langsung bertanya, “Masih ingat saya, Mbak?”

“Oh tentu aku ingat,” jawabnya.

Mbak Elis datang dengan penampilan yang tak jauh berbeda dengan caranya berdandan tiap minggu ke gereja dalam rekaman ingatanku…sekitar seperempat abad lalu. Mengenakan gaun ringan sedengkul dengan warna pastel yang tidak mencolok. Caranya tersenyum juga masih sama, lebar dan tidak dibuat-buat. Seperti senyum yang tak hanya tarikan pipi, tapi senyum yang muncul dari hati.

Mbak Elis adalah mantan pacar paman saya yang kini menetap di Balikpapan. Saya tidak tahu kenapa mereka berpisah. Saat itu aku hanya ingat, sebelum memutuskan tali pacaran, paman saya sempat berdikusi dengan bapak dan kakak-kakaknya yang lain. Kami semua terkejut waktu itu. Pasalnya Si Om dan Mbak Elis—yang kala itu kupanggil dengan awalan bulik, begitu kompak. Mereka telah bertahun-tahun pacaran dan di tiap akhir minggu serta di acara apapun mereka selalu bersama. Mbak Elis mengenal dengan baik semua anggota keluarga dari garis bapak. Yang kutahu adalah tak lama kemudian Omku mempunyai gandengan baru bernama Rosma. Perempuan suku Batak yang besar di Kalimantan dan kini telah beranak dua bersama pamanku.

Mbak Elis begitu kuingat karena ia menemaniku operasi amandel. Saya tidak ingat persis di mana waktu itu aku dioperasi, yang kutahu adalah saya berteriak, menangis ketakutan, dan berlari melihat pisau-pisau dan gunting operasi. Saya lalu dibius waktu itu.

Setelah Om dan Mbak Elis putus, saya sempat beberapa kali bertemu Mbak Elis di acara keluarga bapak dan di Hari Natal.

Mbak Elis masih sering berkomunikasi dengan keluarga Bapak termasuk berkunjung di Hari Natal. Tiap bertemu dengan Nenek, ia seperti bertemu dengan ibunya sendiri. Suatu ikatan silaturahmi yang bagi saya luar biasa meski mereka dulunya hanya dihubungkan oleh ikatan “calon anggota keluarga besar”.

Sambil menikmati hidangan resepsi pernikahan, saya mengobrol bersama Mbak Elis dan Allen (entah apa ini ejaan yang tepat untuk namanya), bule pasangannya yang dinikahinya di Belanda dua tahun lalu. Mbak Elis adalah orang yang murah senyum dan mendengarkan lawan bicara secara antusias. Kulihat satu-dua uban terselip di atas keningnya. Sebelum pamit untuk kembali menemui ibu, saya meminta nomor teleponnya dan berjanji akan mengirimkan pada mereka salah satu karya dokumenter saya.

Sepanjang acara sampai kembali ke rumah saya masih teringat pada Mbak Elis. Bagaimana bisa seseorang menganggap ikatan kekeluargaan menjadi abadi meski dicabik kekecewaan. Apakah ini hanya hinggap pada orang-orang yang tulus? Hati kecil saya berbisik, aku tidak bisa seperti dia.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s