Dilema Pemuatan Foto Jurnalistik

Menyoal Etika Foto Jurnalistik

Dalam suatu obrolan dengan jurnalis foto kawakan ketika sama-sama ke Bali, ia mengatakan bahwa dalam karier jurnalistiknya selama lebih dari 20 tahun, ia tak pernah menemukan dilema moral “Memotret dulu atau menolong dulu?”

Dalam beberapa diskusi—terutama dengan mahasiswa—ada beberapa yang khawatir bahwa bila dihadapkan pada satu kejadian fotografer memilih menolong maka ia akan terlewatkan oleh momen, dan sebaliknya bila ia memotret maka kelak kemudian hari akan dicerca dan dianggap tidak manusiawi.

Pada tulisan ini saya akan membahas tentang dilema moral penayangan foto jurnalistik. Saya akan mengambil contoh kasus pada studi etika oleh Indiana University “Of life and death – Photos capture woman’s last moments.”

GridMarcusHalevi2Kasus etik ini adalah pemuatan foto seorang perempuan di saat terakhirnya sebelum tenggelam. Penayangan foto karya Marc Halevi  ini memunculkan pertanyaan, “Kenapa fotografer tidak melompat dan mencoba menolong perempuan yang tenggelam?” Walaupun dalam tulisan editor Eagle-Tribune, disertakan juga cerita sidebar bahwa fotografer mencoba mencari bantuan agar perempuan ini tertolong.

Diskusi ini kemudian diterbitkan oleh Billy Goat Strut Publishing sebelum digunakan Indiana University. Dalam wawancaranya Halevi berujar, “Saya awalnya mengira memotret penyelamatan. Tapi malah memotret orang yang tenggelam.”

Saya menggunakan gagasan “10 Question to Make Good Ethical Decisions” dari Bob Steele untuk menyetujui penerbitan foto di atas. Berikut ini 10 poin untuk mengujinya:

1. What do I know?
Pantai di Plum Island ketika Halevi membuat foto ini sedang dilanda badai dan ombak tinggi. Halevi juga tahu bahwa perempuan ini bukannya sengaja menceburkan diri untuk bunuh diri.
2. What is my journalistic purpose?
Kejadian yang dialami perempuan ini bukanlah yang pertama. Pantai ini telah merenggut tujuh korban akibat cuaca buruk tahun sebelumnya. Melalui foto ini saya berpikir bisa menjadi peringatan akan bahaya badai dan membuat pengunjung pantai lebih berhati-hati.
3. What are my ethical concerns?
Pertanyaan etis tentang menolong atau memotret mengingatkan saya pada foto Kevin Carter tentang bocah perempuan pengungsi Sudan yang kelaparan. Foto yang dimuat The New York Times membuatnya memeroleh penghargaan Pulitzer 1994. Carter terteror oleh foto itu. Meski apa yang dilakukan Carter untuk memotret benar, sebagai jurnalis ia hanyalah penyaksi dan berharap foto tersebut membawa kebaikan yang lebih besar. Misalnya, menarik perhatian dunia untuk memberi bantuan.
Dilema dalam kasus foto Halevi berada dalam spektrum yang sama.
4. What organizational policies and professional guidelines should I consider?
Sejauh ini saya berpegang pada Kode Etik Aliansi Jurnalis Independen (AJI).
Poin 10, Jurnalis menggunakan cara yang etis dan profesional untuk memperoleh berita, foto, dan dokumen. Poin 20, Jurnalis dilarang menyajikan berita atau karya jurnalistik dengan mengumbar kecabulan, kekejaman, kekerasan fisik,psikologis dan seksual.
5. How can I include other people with different perspectives?
Saya akan berdiskusi dengan editor tentang adakah perspektif lain yang bisa memperkuat keputusan. Atau saya bisa meminta editor untuk menyampaikan kisah di balik foto, bisa berupa sidebar tentang urutan kejadian dan upaya apa yang telah dilakukan untuk menyelamatkan subjek foto.
6. Who are the stakeholders—those affected by my decision?
Pemuatan foto ini kemungkinan besar memantik kesedihan teman dan keluarga.
7. What if the roles were reversed? How would I feel if I were in the shoes of one of the stakeholders?
Seperti pertimbangan di nomor 6, foto tragedi bisa memunculkan kemarahan. Bila saya di posisi kerabat korban dan mengajukan keberatan atas penayangan foto ini, media harus akuntabel dengan memberi tanggapan.
8. What are the possible consequences of my actions? Short term? Long term?
Kesedihan, kekecewaan, dan kemarahan akibat penerbitan foto ini bisa menjadikan antipati atau sentimen negatif pada media (tempat foto ini dimuat). Fotografer juga bisa dianggap lebih mementingkan sensasi.
9. What are my alternatives to maximize my truthtelling responsibility and minimize harm?
Jawaban dari pertanyaan ini adalah solusi atas dilema tentang foto Halevi. Foto ini memicu pertanyaan tentang kenapa fotografer tidak berupaya menolong. Alasan editor Alan White bahwa foto kecelakaan di Plum Island ini berada cukup jauh dari Halevi (sehingga ia perlu menggunakan lensa tele) juga tidak efektif. Karena fotografer profesional pasti tahu, dari karakter gambar dan dept of field foto ini dibuat tidak terlalu jauh dan bisa dijangkau dengan lensa kurang dari 70mm.
Alternatif terbaik adalah mencari foto lain dalam sekuen ini yang menampilkan drama sesungguhnya. Yaitu foto ketika regu penolong berupaya lebih keras atau foto yang menampilkan ombak yang lebih besar sehingga audience tidak menganggap ini adalah kejadian kecelakaan sepele.
10. Can I clearly and fully justify my thinking and my decision? To my colleaguea? To my stakeholders? To the public?
Jelas. Keputusan untuk menampilkan foto kecelakaan ini benar.

Kronologi
Halevi awalnya membuat foto perempuan berdiri di bibir pantai dalam penugasannya dari Eagle-Tribune pada 3 Desember 1990. Eagle-Tribune adalah suratkabar harian di Massachusetts. Ia memotret di kawasan pantai di Plum Island. Saat itu kawasan pantainya dilanda badai dengan ketinggian ombak paling tinggi dalam 60 tahun.

halevi-storm-photoIa ingin ada manusia dalam bingkai fotonya. Ketika menjepret foto ini, masih melalui jendela bidiknya ia menyaksikan bibir pantai tiba-tiba tergerus ombak dan si perempuan terperosok terseret arus. Halevi kemudian berteriak kepada penjaga pantai di dekatnya. Ia merasa penjaga pantai lebih mampu menolong perempuan ini karena mereka telah terlatih.

Beberapa saksi mata di area pantai menyebutkan bahwa perempuan ini sempat mabuk-mabukkan sambil berenang di tepian pantai pada pagi hari sebelumnya. Sebagian bahkan menuduh bahwa perempuan ini ingin sengaja bunuh diri. Tapi foto Halevi justru menjadi bantahan argumen tersebut dengan menunjukkan bahwa perempuan dalam foto ini berupaya meraih tangan penjaga pantai.

Semestinya foto kecelakaan ini tidak akan terlalu dilematis bila editor foto dari awal memilih foto yang tepat. Foto yang ditampilkan ini memang menimbulkan kesan bahwa pantainya landai dengan ombak yang tidak kencang, serta regu penolong yang dari bahasa tubuhnya terlihat seolah-olah tidak bersungguh-sungguh.
Ini adalah foto lain milik Halevi yang semestinya bisa meminimalisasi “gugatan” moral:

Foto-foto: Marc Halevi

Foto-foto: Marc Halevi

 

 

Foto Halevi adalah kasus yang saya pilih untuk salah satu paper saya dalam mata kuliah Media Ethics di progam MA In Journalism di Ateneo de Manila University.
Mengenai etika memotret, telah saya jabarkan dalam buku “Foto Jurnalistik” yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama (ISBN : 978-602-03-0488-5).

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in Jurnalistik and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Dilema Pemuatan Foto Jurnalistik

  1. winnymarch says:

    klo aku menolog dlu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s