17 Agustus

Sehari sebelum tanggal 17 Agustus pada 18 tahun silam, Fuad Muhammad Syafrudin atau Udin direnggut paksa dari kehidupan. Kematian membuatnya merdeka dari sensor penguasa.

Udin adalah wartawan Bernas yang dikenal kritis terhadap kebijakan Bupati Bantul kala itu, Kol (Art) Sriroso Sudarmo. Pengusutan kasus Udin penuh rekayasa. Polisi Republik Indonesia, sampai hari ini belum berhasil menyelesaikan kasusnya. Dari elegi Udin, jurnalis bisa belajar bahwa kemerdakaan menyampaikan gagasan (freedom of speech) di negeri ini adalah semu.

Munir Said Thalib, aktivis Hak Asasi Manusia yang biasa dipanggil Munir, pada 7 September 2004 tewas oleh racun arsenik. Kemerdekaan bersuara munir telah dibungkam oleh suatu konspirasi yang hingga kini juga belum terungkap. Hari ini, saat kita merayakan kemerdekaan, dua orang asing di Papua sana dipenjara karena merekam dengan video kegiatan sekelompok orang yang menuntut kemerdekaan.

Semu adalah kata yang bisa mewakili apa yang dirasakan kakek-nenek kita kala Soekarno-Hatta mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 di Jakarta. Proklamasi memang telah dilangsungkan, tapi sweeping, intimidasi, dan kekerasan oleh tentara Jepang Heiho masing berlangsung.

Jepang menyerah dalam Perang Dunia II. Dan sesuai tata-laksana peperangan, Indonesia dikembalikan kepada Belanda karena sebelumnya direbut Jepang. Belanda sekali lagi menduduki Indonesia, tapi kita menolak. Kita menyebut tahun-tahun ini hingga 1949 sebagai Agresi Militer Belanda. Bangsa kita bahu-membahu berjuang. Kita terus melawan dengan sepenuh tenaga. Tak terhitung jumlah nyawa untuk menebus satu kata yang kemudian terus kita gelorakan: M-E-R-D-E-K-A.

Kita yang hidup sekarang ini mewarisi darah pejuang. Kemerdekaan yang kita miliki sebagai sebuah republik yang berdaulat bukanlah hadiah. Meski menyesakkan dada melihat kenyataan bahwa negara Malaysia yang tidak dihuni oleh para patriot justru lebih makmur dari bangsa kita, bangsa para pejuang.

Atau jangan-jangan, kemerdekaan kita itu kini masih tetap semu? Dunia internasional, dimulai dari India, memang mengakui kemerdakaan kita sebagai sebuah republik. Tapi apakah jiwa-jiwa kita yang hidup di tanah ini juga merdeka?

Baiklah, saya tidak akan mengusik kemerdekaan yang kita rayakan. Bila sorak-sorai perayaan 17 Agustus adalah bagian dari nasionalisme, saya tidak ingin mengendurkan nasionalisme itu. Meski kita semua tahu, nasionalisme itu adalah kecintaan yang mewujud pada tindakan untuk membesarkan Tanah Air. Bila perayaan Agustusan dilihat sebagai momentum untuk kembali memompa semangat berjuang, saya pun turut serta mendukung Agustusan itu.

Tapi kata “merdeka” terus menari-nari sepanjang malam sebelum tanggal 17 Agustus tiba. Sigmund Freud, bapak psikoanalisis dalam bukunya Civilization and Its Discontents yang diterbitkan pertama kali di Jerman pada 1930 menyebut, “Banyak orang menyadari tidak menginginkan kebebasan, karena kebebasan menuntut tanggung jawab, dan banyak orang takut untuk merasa bertanggungjawab.”

Saya kemudian berpikir bahwa orang-orang yang merasa merdeka tapi menghindar dari kewajiban untuk memberi atau berandil pada kehidupan adalah pengecut. Lebih-lebih mereka yang memilih untuk bersembunyi dari keberperanan.

Sembari menunggu saya benar-benar yakin bangsa ini telah merdeka, saya akan memperingati 17 Agustus bukan sebagai hari kemerdekaan, tapi Hari Proklamasi. Mari berjuang dan merdeka!

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s