Humas

Kita lebih mengenal Humas sebagai sebuah kata ketimbang singkatan. Kampus-kampus banyak membuka jurusan Public Relation yang menandakan kebutuhan akan pekerjaan Humas tinggi. Saya melihat semua orang sebagai Humas.

Humas akan berpenampilan prima, gaya tutur bicara dan tindak-tanduknya diatur sedimikian rupa agar berhasil meyakinkan klien yang ia temui untuk bekerja sama dengan institusinya secara menguntungkan.

Setiap pribadi adalah penghubung sekaligus wakil atas sesuatu. Dibayar atau tidak dibayar atas ke-humas-annya adalah masalah pekerjaan.

Seorang insinyur misalnya, maka perilakunya mewakili pekerjaannya. Citra yang ia tampilkan—sadar ataupun tidak ia sadari—melekatkan persepsi bagaimana seorang insinyur berbicara, berpikir, dan bertindak. Seorang dokter pun demikian. Dan bila banyak orang sadar bahwa mereka adalah Humas dari hal baik, saya percaya dunia akan lebih baik.

Seorang Muslim misalnya, maka bagaimana Islam tercitrakan di depan mereka yang bukan Islam adalah melalui dirinya. Orang-orang Muslim juga menjadi penghubung kearifan dan ajaran kebaikan bagi orang di luar Islam. Pun demikian dengan seorang Kristen, Buddhis, dan seterusnya.

Satu orang akan menjadi Humas atau keterwakilan secara kompleks. Misalnya adalah seorang guru, yang warga Madura, sekaligus Kepala Desa maka ia mewakili profesi, suku dan wilayah, serta jabatan.

Di Tanah Air yang berpopulasi sangat tinggi ini, maka kesadaran diri bahwa seseorang adalah keterwakilan atau penghubung atas suatu entitas sangatlah rendah. Orang lebih abai dan menyerahkan tanggung jawab ke-humas-an ini pada orang lain di sekitarnya yang sesama pekerjaan, suku, dan sebagainya.

Saya pun merasakan hal yang sama. Saya tidak selalu bisa menjadi “wakil” dari segala hal yang melekat dalam diri saya. Tapi saya selalu berusaha menjadi Humas yang baik bagi Indonesia, dan itu bisa dilakukan oleh siapa saja. Hal-hal kecil seperti memberi petunjuk arah pada orang asing saat di dalam negeri dan berlaku sopan serta taat hukum ketika di negeri orang adalah contohnya.

Hal kecil adalah awal dari sesuatu yang besar. Bayangkan bila satu orang asing yang kita tolong mengabarkan keramahan Indonesia pada tiga orang asing lainnya. Dan bila rantai itu tidak terputus, maka hanya dengan berlaku ramah saja kita telah memberi sesuatu bagi Tanah Air, negeri tempat kita dilahirkan.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s