Terima Kasih Dari Jogja

Nama Florence Sihombing mengingatkan saya pada Florence, mahasiswa asal Singkawang yang kuliah di Jogja dan sering menampilkan tarian Dayak, 10 tahun lalu.

Florence yang saya kenal itu ramah dan tidak spontan seperti Florence Sihombing yang kemudian menjadi perbincangan dan sasaran bully karena ucapannya melalui Path. Saya, yang di luar masa kuliah menyusun buku di Jogja merasa prihatin dengan reaksi banyak orang kepada Florence.

Ucapan Florence yang terkesan merendahkan harkat dan martabat memang memicu sakit hati. Tak hanya pada orang Daerah Istimewa Yogyakarta, tapi semua orang yang punya kesan yang baik pada kota ini turut tersinggung dan mungkin bergabung dengan barisan yang balas menghujat lewat media sosial.

Saya prihatin karena semestinya kita sebagai orang-orang Jogja bisa menunjukkan bahwa kita adalah masyarakat yang ramah. Mencaci maki, menghujat, dan bahkan mengancam Florence sebagai suatu pembalasan justru menunjukkan kita jauh dari keramahan tersebut, atau malah membenarkan tuduhan Florence lewat Path-nya.

Mengenai keramahan, saya sendiri merasakan perbedaan keramahan Kota Jogja di masa saya kanak-kanak dengan yang sekarang. Saya bahkan sempat merasa masyarakat di kota-kota provinsi di Vietnam lebih ramah dari Jogja karena mereka selalu tersenyum pada orang asing. Jogja sekarang adalah kota yang sibuk sehingga orang-orang di jalanan mungkin telah lelah untuk tersenyum. Jogja pelan-pelan mulai seperti kota besar lain di Indonesia.

Kekerasan sekelompok Islam radikal yang menyerang saudara kita yang Katolik adalah potret Jogja yang saya kenal sekarang.

Seorang mahasiswa asal Lampung di angkutan umum bercerita bahwa ia merasa tak aman karena sebelah kosnya dihuni orang-orang dari Timur yang seringkali mabuk dan membuat gaduh hingga larut malam. Jogja adalah kota heterogen yang diisi oleh orang dari seluruh penjuru Indonesia. Fenomena ini mungkin yang menyusutkan kadar ramah Kota Jogja.

Tapi saya ternyata salah. Seminggu lalu satu teman asal Jepang tersasar di terminal Giwangan di Jogja. Mungkin melihatnya kebingungan, seorang pemuda meminjamkan telepon selularnya agar teman saya itu bisa menghubungi saya. Ketika saya menjemputnya di terminal, teman saya itu duduk di warung meminum segelas teh panas. Dan ketika saya hendak membayar tehnya, seorang pria setengah baya menolaknya. “Biar tahu keramahan Indonesia,” kata Si Bapak. Saya mengucapkan terima kasih dan merasa malu telah merasa bahwa Jogja telah jauh berubah.

Saya berani menjamin bahwa siapapun Anda ketika di Jogja dan mengalami musibah di jalan, akan banyak orang yang sukarela menolong atas nama kemanusiaan.

Apa yang menimpa Florence ketika disoraki pengantre di SPBU adalah reaksi orang-orang yang penat karena kesulitan mencari bahan bakar untuk sepeda motor. Bila Florence merasa benar karena ia perlu Pertamax, ia tidak tahu bahwa pemotor itu tidak semuanya mengantre Premium tapi juga Pertamax.

Kemarahan Florence dituangkan lewat Path. Ia tak berpikir panjang bahwa Path bisa dilihat semua orang dan viral. Kejadian itu kemudian menjadi pengalaman yang lebih buruk buat Florence. Kecerobohan yang mungkin akan ia sesali seumur hidup. Pengalaman Florence adalah pelajaran buat kita.

Florence adalah satu di antara jutaan orang lain yang ceroboh dan tak berpikir panjang di media sosial. Di Indonesia kita mengenal tokoh PKS, praktisi, pengacara, jurnalis, yang juga menuai protes karena ungkapannya di Twitter, Facebook, maupun blog.

Dari Florence, mungkin orang-orang pendatang di Jogja bisa belajar bagaimana konsep “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Dari kejadian ini UGM—kampus yang dikait-kaitkan dengan Florence karen ia sebagai salah satu mahasiswa S2-nya—bisa belajar bagaimana melakukan seleksi yang lebih ketat bagi mahasiswa pascasarjana atau bagaimana civitas mampu berperan dalam kedewasaan berpikir mahasiswa.

Dari Florence, orang Jogja juga bisa belajar bagaimana menyikapi tanggapan negatif pada kotanya. Kita bisa melihat ini sebagai ototkritik, dan bila kita mempu melihat sisi baik dari satu keburukan, maka kita sepantasnyalah berterima kasih pada Florence.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s