Sekolah, Tujuh Beasiswa, dan Selebriti

Saat kami di bandara Ninoy Aquino dalam perjalanan pulang ke tanah air, Elly, teman sekelas saya sempat berujar, “Gunjan memang ancaman terbesar selain imigrasi!”

Ngomong-ngomong, posting ini hanya sedikit cerita tentang sekolah master kami, para jurnalis di Asia.

Tersebutlah Asian Center for Journalism (ACFJ), program pengembangan mutu jurnalis hasil kerja sama antara Konrad Adenauer dan Ateneo de Manila University. Setiap tahun disediakan 15 beasiswa MA in Journalism bagi jurnalis se-Asia. Telah banyak lulusan dari Indonesia di program ini.

Tahun ini ada sembilan jurnalis dari luar Filipina, yaitu India, Myanmar, Bhutan, Vietnam, Nepal, dan dua orang wakil dari Indonesia: saya sebagai freelancer dan Elly dari The Jakarta Post. MA in Journalism di Ateneo de Manila University ini mungkin tak semewah short course di Harvard atau di UK, tapi di sini fellow akan mendapat gelar master di bidang jurnalistik. Program ini juga bisa dibilang program pendidikan jurnalistik terbaik di Asia.

Jurnalis Filipina yang fresh!

Jurnalis Filipina yang fresh!

Model pembelajarannya adalah kombinasi antara online dan on campus session. Di luar jadwal on campus, mahasiswa mendapat “kemewahan”—kata satu di antara dosen saya, karena bisa mengerjakan tugas kuliah di mana saja tanpa harus duduk di bangku kelas. Program ini memungkinkan para profesional untuk tetap bisa bekerja fulltime di negara masing-masing sembari kuliah.

Di kuliah online, kewajiban mahasiswa hanya mengirim tugas dan menghadiri sesi chatting menggunakan platform blackboard. Setiap mahasiswa diberi akun untuk mengakses kelas virtual, termasuk mengunduh buku-buku dari perpustakaan kampus.

Hal yang paling menyulitkan di kuliah ini adalah masalah visa. Dengan jujur saya katakan bahwa pengurusan visa di kedutaan Filipina di negara-negara asal para mahasiswa maupun pengurusan di kantor imigrasi di Manila sangat berbelit dan amburadul. Sementara tanpa student visa, kampus Ateneo tak akan mengeluarkan nilai kuliah kami.

Awalnya kuliah ini berat buat saya yang dulu semasa kuliah di Solo seenaknya. Di sini saya harus mengejar nilai A karena dua nilai B di satu semester bisa membuat saya kena penalti, alias beasiswa saya dicabut. Kesulitan kedua adalah saya harus bisa berargumen berbahasa Inggris. Saya termasuk orang yang tidak suka berdebat, dan kali ini saya harus berdebat dalam bahasa Inggris. Kadang omongan saya di kelas terhenti karena kesulitan mencari kosa kata🙂 Beruntunglah bagi mereka yang sebelumnya telah bekerja di media berbahasa Inggris atau suka cas cis cus.

Tantangan terberat lainnya di sekolah ini adalah banyaknya tugas paper atau makalah. Sering saya harus begadang hingga jam 4 subuh untuk mengerjakan makalah. Pernah semalam saya mengerjakan dua makalah sekaligus untuk dua matakuliah berbeda. Sementara jam 7 pagi saya harus bangun dan bersiap-siap.

Di Marikina, Metro Manila, saya tinggal satu flat bersama Elly dan Gunjan. Flat kami berjarak sekitar 15-20 menit jalan kaki menuju kampus. Gunjan adalah mahasiswa asal India yang telah mendapat tujuh beasiswa, dan ini adalah master ketiganya di bidang jurnalistik (beasiswanya yang lebih setengah lusin mengingatkan saya pada Ahmad Fuadi, kenalan saya yang sekarang sibuk menulis novel bestseller). Gunjan cerewet, tapi Elly paling tidak betah dengan bau badannya.

“Aku yakin dia tadi pagi ga mandi, deh. Kelenger aku!” kata Elly setelah kami menyelesaikan entrance exam, tes ujian masuk program S2. Kalau Elly saja kelenger yang duduk agak jauh, gimana saya yang kebetulan duduk di sebelahnya?

Saya sering menggoda Elly dengan kata-kata “semilir”, “semerbak”, “aroma” saat ia berada di dekat Gunjan. Responnya bisa tertawa, geleng-geleng, atau mimik putus asa. Gunjan memang sering jadi bahan gunjingan antarteman. Pertama karena ia tidak bisa di-stop saat berdebat di kelas, dan kedua tentu karena semriwing keringatnya. Apalagi ia sering menggunakan baju sleeveless atau tanpa penutup ketiak.

Latar belakang mahasiswa di kelas kami cukup beragam. Ada yang dari televisi hingga radio, ada yang masih belia hingga ada yang punya dua cucu. Tapi mahasiswa paling ngetop di kelas kami adalah Korina Sanchez. Ia adalah presenter televisi kawakan di Manila sekaligus istri sekretaris negara.

Ke manapun kami pergi bersama Korina, entah di kantin atau mau masuk ke kelas, ada saja yang memintanya untuk berfoto bersama. Tak hanya pelayan kantin atau mahasiswa program lain, bahkan sesama fellow asal Filipina seringkali heboh mengajaknya foto bareng.

Saat di kelas, dua-tiga kali asistennya mengantarkan kopi ke kelas. Di luar itu Korina sangat pemurah. Di minggu pertama kuliah kami, ia membagi-bagikan satu kotak berisi kue khas Filipina. Lain hari ia mengajak kami makan malam bersama di resto Thai paling terkenal di Manila. Kami diantar-jemput dengan dua mobil Alphard.

Ya, kopi adalah minuman yang cocok saat di kelas. Tak hanya pendingin ruangan yang menggigilkan, tapi durasi kelas dari pukul 8.30 pagi hingga jam 5 sore membuat kami sering mengantuk. Tapi modal saya hanya air putih, alasannya minuman ini paling murah dan kadang botolnya bisa saya isi ulang di keran air minum di kampus. Sekadar informasi, segalanya serba mahal di Ateneo. Kampus ini memang tempat kuliah anak-anak orang kaya di Filipina. Sebotol air putih di sini bisa seharga 20 peso, sementara bila membelinya di Seven Eleven hanya 10 peso.

Di semester ini, Filipina sedang dilanda badai. Dalam seminggu, pernah dua hari kelas kami dibatalkan karena Quezon City dan Marikina diterjang typhoon Luis dan disusul Mario. Suasana mencekam karena hujan turun sepanjang siang dan malam disertai tiupan angin kenjang. Dua pohon besar di dalam kampus roboh diterjang badai.

Di pagi hari, dengan bercelana pendek bersandal jepit serta membawa payung, saya berjalan menenteng kamera menuju Marikina River. Awalnya saya hanya memotret orang yang berlalu lalang dalam hujan. Sampai kemudian dua pria muda membawa life-jacket berjalan tergesa melewati saya. Naluri saya membimbing untuk mengikuti dua pria ini. Lalu sampailah saya di kawasan banjir, foto-foto saya kemudian diterbitkan di beberapa media asing.

Meski badai membuat kelas libur, tapi tugas makalah tetap berjalan. Waktu itu masih ada empat tanggungan makalah untuk Media Law yang harus saya submit selama empat hari berturut-turut. Kim Kierans, profesor kami di matakuliah Advance Reporting malah membuat sesi tatap muka di hari Minggu. Dan karena kampus ditutup, sesi tatap muka diadakan di kafe Starbucks.

Ah, kuliah memang berwarna-warni.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Sekolah, Tujuh Beasiswa, dan Selebriti

  1. Dari ratusan kata di atas, hanya satu yg salah tik. #petugaspiket hehehe. Love to read this. Semangat ya kuliahnya mas. Baru tau kalau dirimu malas berdebat, soalnya dulu aku dan yaya sering kau debat. Hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s