Student Visa Filipina yang Amburadul

Mengurus Philippines Student Visa memang membuat orang beruban. Prosedurnya berbelit, tidak jelas, mahal, dan memakan waktu lama. Saya dibuat stres mengurusnya setelah dapat beasiswa MA in Journalism di Manila.

Berkas-berkas ter-authenticated yang tidak diperlukan di Filipina.

Berkas-berkas ter-authenticated yang tidak diperlukan di Filipina.

Semua berkas harus di-authenticated. Berkas ini adalah ijazah, police clearance atau Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK, dulu SKKB), medical test (meliputi urine, blood, stool, dan rontgen), serta akte kelahiran.

Alurnya mestinya begini: Setelah transkrip nilai saya yang telah terlegalisasi oleh kedutaan bersama berkas-berkas kontrak saya kirim ke kampus saya, kampus akan mengirimkan kembali ke kedutaan Filipina di negara asal saya (Indonesia) melalui kedutaan di Manila, kemudian kedutaan Filipina di Jakarta akan menelepon saya untuk proses wawancara student visa. Yang mengajukan student visa bukan saya, tapi kampus saya di Manila.

Tapi yang terjadi adalah, saya menelepon berkali-kali kedutaan Filipina di Jakarta belum menerima berkas dari Manila. Baru setelah Elly, teman seangkatan saya yang bekerja di The Jakarta Post datang ke kedutaan, kami baru tahu bahwa berkas itu telah di sana. Kedutaan Filipina kemudian meminta persyaratan seperti SKCK dan medical check up. Karena syarat ini telah diberitahukan oleh kampus sebelumnya, dengan percaya diri saya berangkat ke Jakarta. Itu sekitar 10 hari sebelum hari keberangkatan sesuai tiket yang telah saya beli.

Berkas saya diterima, lalu saya membayar fee untuk visa sebesar Rp 3,25 juta. Staf mereka memberitahukan bahwa visa saya akan keluar 2-3 hari kemudian. Saya pulang ke Jogja. Di hari ketiga saat saya hendak berangkat ke Jakarta, staf kedutaan (kali ini perempuan) menelepon meminta akte kelahiran—yang tidak disebutkan sebelumnya. Akte ini harus berbahasa Inggris. Saya kebingungan karena hari Jumat sore, tak ada penerjemah bersertifikat yang masih buka, Sabtu-Minggu jelas libur. Kepada staf kedutaan saya bertanya apakah scan akte kelahiran bisa saya kirim lewat email agar kedutaan bisa lekas memproses visa saya, si mbak Filipino ini mengiyakan sembari memberi alamat email (yang belakangan saya tahu ia salah mengeja alamat email-nya).

Senin berlalu dan saya baru bisa membawa akte kelahiran saya yang telah diterjemahkan ke Jakarta pada hari Selasa. Sesampai di kedutaan Filipina di Jakarta, si mbak Filipino ini minta berkas saya dilegalisasi oleh Kemenkumham dan Deplu untuk mendapatkan otentifikasi. Alasannya, semua berkas authenticated ini diperlukan saat saya di Filipina. Waktu telah mepet, tak mungkin bagi saya meminta legalisasi dari Depkumham dan Deplu dalam waktu tiga hari.

Sesuai pengalaman saya sebelumnya, untuk legalisasi di Depkumham dan Deplu masing-masing perlu waktu tiga hari, jadi total enam hari kerja. Dua orang pegawai kedutaan Filipina kemudian menyarankan seorang calo. Satu di antaranya meneleponkan calo ini. Si Calo menawari biaya dua berkas Rp 800 ribu dari biaya sesungguhnya Rp 180 ribu! Saya menduga ada kongkalikong antara orang kedutaan Filipina dengan calo, bila dilihat dari modusnya menunda menyebutkan syarat-syarat student visa.

Saya pusing karena untuk perjalanan Jogja-Jakarta-Jogja saja telah memakan banyak biaya.

Singkat cerita saya akhirnya mendapat student visa. Di Filipina, tak ada satupun berkas saya yang authenticated terpakai. Sementara biaya otentifikasi per berkas di kedutaan Filipina di Jakarta Rp 325 ribu. Kalau sekadar membuktikan keabsahan berkas, bukankah cukup dengan stempel dari Depkumham dan Deplu? Saya sadar bahwa otentifikasi ini adalah income bagi kedutaan, jadi semakin banyak berkas yang diminta, semakin banyak uang masuk ke kas mereka.

Di Filipina saya pun harus kembali menjalani medical check up yang biayanya harus saya tanggung sendiri. Masalah serupa juga dialami oleh Elly, ia mengulang tes blood, stool, dan urine. Gara-gara itu ia harus berkejaran dengan waktu untuk memperoleh I-Card. Berat rasanya harus membolos kuliah hanya demi mengurus visa. Sementara itu beberapa teman dari Bhutan, Vietnam, dan Nepal terpaksa tak bisa mendapat nilai kuliah karena urusan visa mereka belum selesai.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Student Visa Filipina yang Amburadul

  1. Karina says:

    Hi mas Taufan, saya ingin tahu lebih banyak soal kepengurusan visa selain dari kedutaan Filipina, karena dari pengalaman mas yang kena imbas bisnis calo, saya pikir gak ada salahnya untuk siap-siap. Kalau mas bisa balas ke email yang saya sediakan di atas, saya akan sangat terbantu. Ditunggu balasannya!

    • taufanwijaya says:

      Hi Karina,

      Mengurus visa untuk masuk ke negara-negara kecil memang perlu kesabaran. Asal waktunya cukup, bisa diurus sendiri kok. Coba googling, banyak yang mendapat pengalaman menjengkelkan. Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s