Garuda Pancasila Kakek

Saya sedang menemui teman saya yang menjual mobil tuanya di Kustomfest saat menemukan Garuda Pancasila di satu lapak loakan. Garuda itu terbuat dari logam dengan cat yang telah terkelupas di beberapa bagian.

Memang ada kesan berbeda sejak garuda berwarna merah digunakan sebagai simbol Koalisi Merah Putih (KMP), yang bagi saya nyata-nyata memberangus demokrasi—dengan menetapkan undang-undang Pilkada tak langsung. Namun pajangan Garuda Pancasila di lapak itu seketika memantik perasaan terdalam saya.

garuda_pancasila-taufanSaya sempat urung membeli. Namun setelah melewati beberapa booth, saya putuskan untuk kembali dan membelinya. Ada sesuatu yang tak bisa digantikan oleh sebentuk pajangan serupa di toko lain.

Dua setengah tahun setelah meninggalnya kakek saya, teringat oleh saya pajangan lambang Garuda Pancasila dari logam di rumahnya. Saya pun mencarinya dibantu oleh adik saya, tapi hasilnya nihil. Garuda Pancasila itu lenyap tanpa seorangpun di keluarga saya yang tahu ke mana perginya.

Pajangan itu telah berpindah beberapa kali mulai dari ruang tamu, digeletakkan di atas lemari, disimpan di gudang, hingga ruang tengah. Saat saya di bangku sekolah menengah pertama, saya pernah berinisiatif mencucinya agar pajangan itu terlihat bersih. Lalu saya gantungkan pada paku yang saya pasang di ruang tamu.

Situasi di Tanah Air-lah yang mengingatkan saya pada pajangan Garuda Pancasila milik kakek saya itu. Saat golongan yang mengatasnamakan agama berbuat kekerasan, dan penyuara ke-Bhinneka-an diserang dan dipukuli oleh golongan tersebut, muncullah ingatan saya pada lambang itu.

Pada tahun 1965-1968 silam (saat saya belum lahir), situasinya adalah sebaliknya. Dengan dalih Pancasila, ribuan orang komunis atau yang dituduh PKI dibunuh secara keji. Pancasila dan ke-Bhinneka-an dalam geganggaman cengkeraman garuda yang kokoh itu memang memiliki sejarah berliku di negeri ini.

Bertahun kemudian setelah saya menyadari pajangan Garuda Pancasila milik kakek saya raib, saya berusaha mencari gantinya. Pernah saya mampir ke toko kerajinan kuningan, di sana Garuda Pancasila lebih berdimensi. Bulu-bulunya dibuat detail berliuk dengan tubuh garuda yang menggembung mirip bentuk burung elang jambul betulan. Garuda Pancasila yang sempurna tapi tidak memunculkan romantisme kesederhanaan Garuda Pancasila yang saya lihat semasa kanak-kanak.

Hingga di lapak loakan inilah saya bertemu kembali dengan Garuda Pancasila kakek. Teman saya yang melihat saya bertanya tentang pajangan tersebut menyarankan saya untuk membeli Garuda Pancasila yang terbuat dari kayu jati. Mungkin baginya ukiran kayu jati lebih klasik atau menampilkan kesan kemakmuran.

Tapi hati saya telah terikat dengan Garuda Pancasila yang catnya telah terkelupas di sana-sini ini. Pada lambang usang ini ada jiwa yang tak dimiliki oleh Garuda Pancasila yang lain.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s