Buku Fotografi, Sekarang Saatnya

“Setelah membuat buku foto pertama, saya ketagihan,” kata Aji Susanto yang menggemari street photography dalam diskusi buku fotonya di Solo. Sejenak saya berpikir, adakah alasan ini menjadi afirmasi banjirnya buku fotografi di Indonesia.

Dalam perjalanan pulang usai diskusi, Pandji Vasco, fotografer amatir yang sedang mengerjakan proyek buku foto pribadinya berkomentar singkat, “Berani ya, Mas?!” Saya mengiyakan. Aji Susanto memang berani. Ia mencetak sendiri bukunya bahkan menjilidnya dengan kedua tangannya, sementara biayanya dicukupi dari koceknya sendiri.

Dari informasi yang berseliweran di media sosial, banyak fotografer di daerah selain Aji Susanto yang menerbitkan buku fotonya secara swadaya. Saya kemudian teringat buku foto saya tentang kanker, betapa tak mudah menerbitkan sebuah buku foto.

Saya harus mencari sponsor ke beberapa tempat, ditolak oleh penerbit, dan berkejaran dengan waktu. Waktu menjadi sangat penting tak lain karena beberapa subjek dalam buku foto saya selalu menanyakan kapan buku foto saya itu segera diterbitkan. Demi alasan waktu, saya sedikit mengorbankan materi foto. Saya hanya berpikir, yang penting terbit dulu, nanti direvisi sebagai “ongoing project”. Saya juga beruntung akhirnya satu komunitas yang berisi perempuan-perempuan Australia bersedia membiayai cetakan buku tersebut.

Seiring waktu, mungkin orang lebih sederhana dalam memutuskan menerbitkan buku foto. Di satu tahun terakhir saja, setahu saya tak kurang selusin buku foto baru telah terbit. Ini adalah buku personal, belum termasuk buku yang sifatnya institusi seperti “IPPHOS Remastered”.

Kini kita bisa menemukan buku foto seperti milik Mamuk Ismuntoro yang terkonsep dengan baik dan hanya berisi sedikit foto. Lalu ada buku tentang Indonesia oleh Ebbie Vebri yang dibanderol Rp 1.25 juta. Meski harganya di atas rata-rata buku foto lokal, Ebbie mampu menjual lebih dari 480 eksemplar!

Pemasaran adalah hal penting untuk menjual buku foto. Buku foto Ebbie populer mungkin karena diulas Arbain Rambey di Kompas dan media-media lain tentang sembilan tahun proses penyusunannya—padahal sebelumnya, Jay Subiyakto, Julian Sihombing, Oscar Motuloh, dkk juga menerbitkan buku kolaborasi “Indonesia: A Surprise” dengan materi foto kualitas prima.

Untuk memasarkan buku foto, Dita Alangkara, Yuniadhi Agung, Ahmad Zamroni, dan Mast Irham, berkeliling dari satu kota ke kota lain untuk membuat diskusi buku foto NESW. Selain sukses dari sisi pemasaran, menjamurnya buku fotografi karena sedang berada dalam momentumnya. Tengoklah Romi Perbawa yang juga sukses dengan “The Riders of Destiny” setelah sebelumnya foto-foto dalam buku tersebut dimuat media-media asing.

Saat ini, tersebutlah nama-nama seperti Rama Surya, Oscar Motuloh, Julian Sihombing, Edy Purnomo, Erik Prasetya, Arbain Rambey, Evi Aryati, Ng Swanti, Sigit Pramono, Rony Zakaria, Paul Zakaria, Mitu M. Prie, Safir Makki, Tjandra Amin, Regina Safri, Darwis Triadi, Yuyung Abdi, Jerry Aurum, dan seterusnya yang memiliki karya buku fotografi. (Maaf kalau ada yang belum disebutkan.)

Bila membandingkan ke toko buku di negara-negara tetangga, buku fotografi yang dibuat oleh terbitan dalam negeri di Tanah Air jauh lebih banyak. Di toko buku negara-negara tetangga, buku fotografi banyak dibuat oleh fotografer Barat yang sebagian posthumous. Di Indonesia, bahkan memotret mainan bisa jadi buku foto di tangan Fauzie Helmi.

Banyaknya buku fotografi Indonesia adalah hal positif. Artinya semakin banyak imaji Indonesia yang terarsip dengan baik oleh fotografer dalam negeri. Momentum ini juga membuat fotografer semakin kreatif menggali ide baru dan menuangkannya dalam bentuk buku. Kualitas dengan sendirinya juga akan menemukan wujudnya.

Bulan lalu ketika saya mengobrol dengan jurnalis foto Eddy Hasby tentang Timor Timur (yang jadi buku “The Long And Winding Road: East Timor” terbit tahun 2001 silam), ia berkomentar bahwa semestinya fotografer berani menerbitkan buku fotonya. Jadi, giliran siapa besok?

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Buku Fotografi, Sekarang Saatnya

  1. winnymarch says:

    saya mw belajar photography

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s