Pertemuan Pembawa Ide Baru

Seperti halnya pelajar yang lain, saya selalu mencari di mana kesempatan untuk belajar itu ada. Satu di antaranya adalah kepada Leila S. Chudori saat ia dijadwalkan menjadi pembicara di George Town Literary Festival 2014.

Kuala Lumpur di akhir November gerimis dan saya harus terbang pagi-pagi ke Penang. Saya berangkat sehari sebelum acara setelah panitia festival membalas surat elektronik saya.

Leila menjadi pembicara tentang “self censorsip” dalam menulis fiksi. Sensor dalam tulisan fiksi di Indonesia setelah Reformasi adalah bahasan yang berbeda dari yang saya pelajari di bangku kuliah. Saya belajar tentang sensor oleh diri sendiri ini di mata kuliah Media Ethic, yang di dalamnya banyak membahas teori-teori filsafat.

Saya kadang merasa orang-orang yang tinggal di Jakarta lebih beruntung karena banyak mendapat kesempatan datang ke diskusi atau pelatihan dalam sastra dan fotografi. Apalagi ‘masa muda’ saya yang banyak habis di pulau Sumatera🙂

Mbak Leila, begitu saya memanggilnya, adalah orang yang hangat meski ke orang yang bukan di liganya seperti saya. Saat makan siang, saya bisa banyak berbincang tentang dunia sastra dan novel “Pulang”-nya yang sukses dan akan segera terbit dalam bahasa Belanda.

Proyek Jagal

Novel Pulang—yang saya sudah tak sabar untuk membacanya—memuat isu huru-hara 1965. Kebetulan sebelumnya saya mengobrol dengan teman-teman di Medan tentang Anwar Kongo yang konon kini disembunyikan saudagar kaya di sana.

Tapi saya termasuk orang yang ketinggalan menonton film “The Act of Killing”. Pada 2012 silam ketika film itu menghebohkan karena menjadi finalis festival film dan menjadi tamparan bagi kita tentang tragedi kemanusiaan serta ironi tarian cha cha, saya hanya bisa melihat teaser-nya. Kanal youtube pernah tak bisa saya buka ketika film itu jadi berita utama di Medan.

Ketika orang bersiap-siap menonton “The Look of Silence” sebagai sekuel film “The Act of Killing”, saya belum menonton film utuhnya. Atas saran Mbak Leila, malamnya saya merampungkan film itu hingga lewat pukul 3 dini hari.

Saya teringat dahulu Oscar Motuloh menunjukkan karya potret Jan Bannings tentang Jugun Ianfu. Masih jelas di ingatan saya sampul foto itu adalah perempuan tua mengenakan sulaman penutup kepala dengan seekor lalat hinggap di atasnya.

Bila banyak fotografer memotret korban, saya ingin tahu bagaimana hidup para pelaku itu kini. Dari mengobrol dengan Mbak Leila saya jadi mendapat ide tentang potret jagal. Ia pun berbaik hati mencarikan Tempo edisi khusus tentang jagal ini.

Pertemuan biasanya membawa kebaikan, mungkin itulah kenapa nabi-nabi zaman dahulu ingin umatnya saling bertemu. Agar lahir ide-ide baru.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s