Vivian Maier yang Melampaui Waktu

Vivian Maier dan Street Photography

Pertengahan Oktober 1953 terasa kering. Matahari bersinar hangat menerobos gedung-gedung di New York. Seorang perempuan berkalung kamera berisi negatif hitam-putih berjalan menyusuri trotoar. Ketika sampai di satu bangunan berkaca yang memantulkan gambar dirinya, ia tertarik. Satu klik dengan pencahayaan terukur melahirkan potret dirinya yang kini populer.

portrait_maier

Potret diri Vivian Maier

Perempuan itu adalah Vivian Dorothea Maier yang masyarakat fotografi mengenalnya lewat film Finding Vivian Maier. Tak banyak yang mengenalnya selain keluarga-keluarga yang mempekerjakannya sebagai pengasuh sebelum duet John Maloof dan Charlie Siskel membuat film dokumenter tentangnya.

Vivian adalah perempuan kebangsaan Amerika kelahiran 1 Februari 1926. Semasa hidupnya, orang-orang mengenal Vivian sebagai pribadi yang dingin dan tertutup. Ia hanya bergaul dengan anak-anak asuhnya, itupun seringkali galak. Tapi hidupnya tak lepas dari kamera format medium atau format 120 merk Rolleiflex. Ia memotret dengan gaya candid kehidupan urban.

Ia memotret orang-orang yang ditemuinya di jalanan, di taman, gang, di stasiun, di bus, di pertokoan, dan perkantoran. Ia memotret interaksi sosial dan landskap di jantung kota. Ia merekam persinggungan kulit hitam dan kulit putih, dinamika anak-anak, dan hubungan antara pria dan wanita, kadang menyelipkan humor di dalamnya. Ia juga memotret kritik sosial lewat kegetiran hidup kaum papa di tepi jalan. Setelah hasil karya-karyanya terpublikasi, kini orang mengenalnya sebagai street photografer. Pengamat bahkan menyandingkannya dengan Harry Callahan, Garry Winogrand, Weegee, Robert Frank.

Foto-foto oleh Vivian Maier.

Foto-foto oleh Vivian Maier.

Meski kebanyakan foto-fotonya dibuat secara candid, Vivian percaya diri untuk sedekat mungkin dengan subjek fotonya. Fotonya beberapa pria mabuk di satu emperan (mungkin mereka gelandangan) bahkan dijepret menggunakan flash. Tak heran karya street photography Vivian berkesan lugas, spontan, dan ekspresif. Ada wajah-wajah tersenyum, menangis, ada juga yang menyiratkan ketus.

Ada 44 foto yang memasukkan dirinya, entah dalam bentuk bayangan, refleksi, atau benar-benar selfie di depan cermin yang memperlihatkan rasa percaya diri Vivian. Ia memang terlihat kaku dalam potret diri yang ia buat sendiri. Dandanannya pun rapi dan bersahaja. Sebagian yang hanya memperlihatkan bayangan mungkin mewakili sisi gelap Vivian seperti halnya ia yang tak ingin siapapun masuk ke kamarnya.

Vivian menghabiskan 40 tahun hidupnya sebagai pengasuh, tapi ia adalah pemotret yang tekun. Pada 1959 dan 1960 ketika ia melancong ke Los Angeles, Manila, Bangkok, Shanghai, Beijing, India, Syria, Mesir, Yaman, dan Italia, ia juga senantiasa memotret dengan gayanya. Hingga akhir masa hidupnya, ia telah membuat lebih dari 100.000 karya fotografi.

UndatedSeptember 1956, New York, NYVivian dan karya fotografinya yang memukau baru mendunia sebagai posthumous. Pada 2007, dua tahun sebelum kematiannya Vivian alpa membayar sewa tempat tinggalnya di Bagian Utara Chicago, oleh karenanya negatif film, cetakan foto, rekaman audio dan videonya dilelang.

John Maloof dan dua kolektor lain membeli karya-karya Vivian. John yang saat itu sedang melakukan riset sejarah tentang Chicago membeli 30,000 negatif yang kebanyakan belum diproses. John kemudian membeli negatif Vivian dari kolektor lain meski nama Vivian Maier hanya ia ketahui dari kardus wadah negatif filmnya.

Setelah memproses negatif dan memindainya, John kebingungan dan terpukau. Tapi ia tidak punya petunjuk untuk mengetahui identitas Vivian. Melalui google, John hanya menemukan berita kematian di Chicago Tribune pada April 2009. Pada Oktober di tahun itu, John menaikkan foto-foto karya Vivian di Flickr dan membuat tautan dengan blog-nya. Foto Vivian kemudian menyebar secara viral dan mendapat banyak tanggapan.

Ketika John hendak memamerkan karya-karya Vivian di galeri, ia ditolak. Beberapa galeri tak berminat pada karya Vivian karena ia bukan siapa-siapa. Di luar perjuangannya meyakinkan kurator galeri, John menelusuri kehidupan Vivian dan mencari orang-orang yang mengenali subjek fotonya. John pun terbang hingga ke Prancis di mana masa muda Vivian hidup sebelum kembali ke Amerika.

Ada haru dan kenangan menabrak tatapan perempuan yang mendapati foto mantan suaminya ketika muda dan kini tiada. Ada kelucuan saat pria tua melihat potretnya di masa lalu. Dan ada begitu dalam nostalgia saat foto-foto mereka dan kerabatnya kemudian akhirnya dipamerkan dan mereka datang ke pameran.

Semua itu digambarkan dengan alur yang apik oleh film yang digarap sendiri oleh John Maloof dibantu Charlie Siskel, seorang produser televisi. Film tersebut mendapat penghargaan Best Documentary Feature di Portland International Film Festival.

Vivian Maier adalah fotografer yang mencintai fotografi sebagai buku harian hidupnya yang misterius. Banyak fotonya kini menjadi menjadi pencerita tentang kehidupan warga New York dan Chicago pada ’50-an dan ’60-an. Kini karyanya menjadi perbincangan fotografer di dunia dan telah dipamerkan di Amerika, Eropa, dan Asia. The New York Times menyebut Vivian Maier sebagai “One of America’s more insightful street photographers”.

Sudut pandang pemotretan Vivian yang segar menunjukkan bahwa ia adalah seorang genius. Karya-karyanya seperti melampaui zamannya sehingga fotografer masa kini pun bisa belajar darinya dari foto lima dekade sebelumnya.

Kesederhanaan dan kelugasan karya street photography Vivian adalah kekuatannya. Ia tidak muluk-muluk mencipta imaji yang penuh seni nan abstrak, atau justru memberontak dengan foto asal aneh. Itulah yang membuat karya Vivian mudah dinikmati oleh banyak orang. Berbalik dengan pembawaan Vivian yang dingin, foto-fotonya akan menjadi ingatan yang selalu hangat bagi pemirsanya. ##

1955, New York, NYSeptember 18, 1962

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Vivian Maier yang Melampaui Waktu

  1. milka says:

    Terima kasih sudah berbagi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s