Belajar Mengajar di Training of Trainers

Tak bisa disangkal bahwa Barat adalah acuan ilmu fotografi. Bukan semata karena dari sanalah fotografi itu bermula, tapi karena pengembangan—termasuk pendidikan—berjalan berkelanjutan.

Banyak sejarawan menyebut ilmu kedokteran berasal dari Arab, tapi kini Arab dan kita bangsa Timur dalam kedokteran adalah medioker. Saya percaya musababnya adalah pendidikan atau transfer ilmu yang kurang baik.

Kembali ke fotografi, oleh karenanya saya ingin mengucapkan terima kasih pada Pannafoto, Permata Bank, dan Erasmus Huis, yang telah menyelenggarakan pelatihan pengajar fotografi. Program pelatihan ini dinamai Training of Trainers (ToT) yang dihelat 4-6 Februari 2015 di Erasmus Huis, Jakarta.

Peserta ToT diseleksi berdasar portofolio, dedikasi, motivasi, dan upaya mendukung pengembangan fotografi di luar Jakarta. Dan 10 orang terpilih tersebut adalah Agus Susanto, Beawiharta, Danny Watangterah, Ida Susanti, Prasetyo Utomo, Rachma Safitri Yogasari, Sihol Sitanggang, Sri Sadono, Sandi Jaya Saputra, dan terakhir saya.

Di ToT kami diajar oleh Ahmad ‘Deny’ Salman dan Edy Purnomo, serta mentor tamu M. Firman Ichsan. Karena ini adalah ToT kedua, tentu pelatihan kali ini adalah penyempurnaan pelatihan pertama. Latar belakang peserta yang beragam termasuk pengalaman jurnalis foto senior yang ikut kelas membuat pelatihan lebih kaya.

Menjadi fotografer memang tidak melulu bisa menghasilkan foto yang bagus. Lihatlah John Stanmeyer, Alex Webb, Sebastiao Salgado, James Nachtwey, mereka ada kalanya menjadi pengajar atau mentor di workshop.

Di ToT kami tidak diajari memotret. Kami diajari bagaimana menjadi pengajar yang baik. Kami dilatih menangani kelas dengan berbagai situasi. Dan di bagian akhir, kami diajak merumuskan kurikulum fotografi dasar.

Di kelas ini saya semakin menyadari bahwa mengajar juga merupakan seni. Rekan yang saya kenal terkesan lugu di luar kelas ternyata bisa melucu saat praktik mengajar. Lalu teman lain yang terkesan “anteng” ternyata bisa mengajak bermain game saat presentasi.

Setelah saya menyelesaikan kelas ini tentu saya tidak serta merta menjadi pengajar fotografi yang ideal. Tapi lewat kelas ini saya mendapat panduan bagaimana memperbaiki cara mengajar untuk mendekati yang ideal.

Mengajar itu menyenangkan. Mengajar adalah berbagi. Bila belum banyak uang untuk dibagi, dengan mengajar kita membagi ilmu. Dan agar bisa berbagi ilmu di depan kelas, dengan sendirinya kita mengasah diri dan memperbanyak ilmu baru terlebih dahulu.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s