Creative Writing

Mata kuliah yang paling saya takuti adalah: Creative Writing. Sebabnya adalah kemampuan menulis saya dalam bahasa Inggris. Tapi saya memberanikan diri mengambil mata kuliah ini karena bisa saya kerjakan sembari bekerja.

Kuliah ini diampu oleh dosen yang paling killer. Dan benar, si dosen ini mampu membuat anak yang paling cerewet bernama Paolo pun diam. Saat sesi kelas pertama, teman sekelas saya yang bekerja di surat kabar berbahasa Inggris di Jakarta, sempat disuruh mundur dari kelas ini (withdraw) gara-gara masalah sepele. Hebatnya, teman saya ini bertahan meneruskan kuliah.

Kelas ini dimulai dengan sesi yang bengis. Bukan karena Ramon bisa memakan orang, tapi ia tidak sungkan berteriak dan sinis. Kami kemudian dikasih link bacaan berisi daftar kesalahan dalam grammar.

Tugas pertama sepintas cukup ringan, mendiskripsikan ruang favorit masing-masing. Tapi aturannya adalah; 1. Maksimal 375 kata; 2. To be dan conjugations (eg was, is, was being, had been, etc) hanya boleh dipakai SEKALI dalam satu paragraf; 3. Tidak boleh menggunakan kata besar, kecil, sekitar, normal, tinggi, pendek, biasa, menengah, bagus, baik, indah, benar, salah, buruk, jelek, coklat, putih, merah, biru, dan sejenisnya; 4. Tidak boleh menggunakan lebih dari 12 kata tiap satu kalimat; 5. Satu paragraf hanya boleh maksimal dua kalimat yang berisi 12 kata.

Ini adalah tugas yang berat. Meski dalam menulis berita selalu diajarkan menulis pendek (keep it short and simple—KISS), tetap saja aturan ini sangat mengikat. Tugas ini dibuat untuk melatih siswa disiplin dan berusaha kreatif menyampaikan gagasan. Namanya saja Creative Writing!

Kelas saya sebagian besar adalah orang yang setiap hari menulis dalam bahasa Inggris, sedangkan saya hanya menulis bahasa Inggris untuk majalah. Itupun belum tentu sebulan sekali. Tapi percayalah, tak ada satupun yang tulisannya tanpa cela. Tulisan semua teman sekelas banyak berisi koreksi merah. Tapi saya mulai pede, meski tulisan saya jadi belang-belang, masih banyak teman lain yang lebih parah. Kami bisa membaca hasil tulisan semua peserta kelas.

Berikut ini milik saya:

## Word Count 356

This is a room where I spend most of my times. In this room I study, work with text, photos and videos.

Visible from the door, my desk is the soul of the room [nice]. The desk [It?] sits next to a window overlooking [my] neighbor’s front yard. A yard filled with fruit trees. Through my window I can smell the fruit [It would have been so much more powerful had you just named the fruit? Durian? A native orange? This is what I mean by being specific.]. The same way I can smell the wet soil after rain.

My peanut-colored desk is made from teak wood. But it gets darker as seasons change. I left it unpainted but sanded [it] well to show the grains. Occupying this desk: laptop, books, camera, stationery, speakers and a walkman [You could have made a compete sentence using more or less the same words: A laptop, books, etc occupy this desk]. I salvaged the walkman from my parents’ garage. It works like a charm as a radio. Music becomes [serves as?] a loyal friend while I work.

The wallspace over my desk displays interchangeable notes of my daily agendas. I write my thoughts on notes and stick them on the wall.

On the same side of wall, there is a stretched rubber line. I put my negatives films on that line using wooden clips. These strips remind me of a deadlines for my photography workshop.

My bed faces the same window. It is a double bed flanked by two non-identical storage units [very vague! plastic? cubes? boxes?]. Stacks of books sit on top of a bin on the left. I like to read first thing in the morning. Morning reading fires up my braincells, read[y]ing them for the day.

A five-racks shelving unit stands next to the window. An industrial fan sits on the top of this cabinet. Compared to my room size, the fan often feels oddly gigantic. A geometric pattern batik cloth drapes loosely over the shelving racks. The playful batik’s [playful] pattern helps to soften the look [of what?].

The previous owner left the room with [the] shade of an avocado. I repainted it to the color of firm coconut flesh. I need the room to feel airy where my thoughts can breathe.

My dreams grow in this room [This would have been perfect as the last sentence!]. I map my future on papers I plastered on the wall. I need a map to get to where I want to be.

Still a bit random, with your focus jumping from here to there. B+

##

Berikutnya tugas-tugas bertambah sulit. Ramon pun dengan ringan bilang,”Did you learn anything, ****(nama disensor)? bahkan, “Sometimes I feel like I’m training a dead horse!”

Di sesi diskusi, kami membahas puisi. Tak sekali dua saya kena semprot si dosen karena saya benar-benar tak paham puisi. Meski akhirnya saya jatuh cinta pada puisi berjudul “The River Merchant Wife: A Letter” (ditulis Li Po, di zaman Dinasti Tang di abad pertama!) dan “When You are Old” karya Butler Yeats.

Di bagian akhir kelas kami berlatih tentang voice dan persona. Kami belajar bersuara sebagai orang lain. Semula saya ingin menjadi seekor anjing. Tapi Ramon meminta kelas untuk memilih tokoh dan membuat surat elektronik yang seolah-olah dikirimkan oleh si tokoh buat kita. Saya memilih menjadi Mike Tyson. Alasannya sederhana, saya bisa mengumpat sesuka hati karena di kelas saya harus sopan. Hehe

Kelas kemudian ditutup dengan Masquerade Ball atau pesta topeng. Syaratnya kami harus memerankan orang lain. Peserta yang baik di sesi ini adalah yang membawakan perannya dengan baik. Yang tak mudah ditebak, tapi juga yang tidak tak tertebak hingga pesta usai. Kira-kira adalah tidak terlalu gampang, tapi juga tidak terlalu sulit. Seorang teman saya sampai menjelang akhir tak bisa tertebak, akhirnya dia menyebutkan sendiri asal dirinya dan karyanya. Geli memang, tapi kelas Creative Writing memang penuh intrik : )

Dosen saya juga ikut dalam pesta topeng ini. Hanya saya dan dia yang berperan lintas-jenis kelamin. Saya memerankan Michelle Obama. Untuk menjadi Michelle, saya mempelajari biografinya, hobinya, kegiatannya terkini (melalui berita-berita), dan menonton video wawancaranya di Youtube.

Creative Writing adalah seni menulis. Saya belajar banyak dari kelas ini. Memang tak semua yang kami pelajari harus dipraktekkan di dunia kerja, tapi kami jadi paham bagaimana berkreasi dalam tulisan. Kelak bila saya mengajar, mungkin saya akan membuat pesta topeng juga. Terima kasih, Ramon.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan. Bookmark the permalink.

2 Responses to Creative Writing

  1. Isti says:

    Jadi keinget waktu ngambil kelas TOEFL Preparation selama 6 bulan. Guru saya orang Kanada dan sudah seusia nenek saya. Persis seperti ini belang-belang koreksian Beliau. Haha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s