Kisah yang Tak Sampai Dalam Roll Film

Belakangan saya sering menyamakan fotografi analog dengan romantisme kendaraan tua. Klasik, tapi alih-alih lebih nyaman dikendarai, mereka malah kadang merepotkan.

Suatu kali kenalan saya, Grace, bertanya, “Apa kelebihan fotografi analog dibanding digital?”, dan nalar saya langsung menjawab, “Tidak ada.” Karena fotografi analog di zaman ini memang tidak relevan dari sisi kualitas. Dalam fotografi, dasar ukuran satu gambar adalah ketajaman, warna, dan kontras. Dari semua itu, jelas gambar yang terekam dalam film seluloid kalah dibanding sensor digital yang sekarang sudah teramat besar.

Fotografi analog juga lebih sulit karena kita tidak bisa langsung melihat hasil jepretan. Dari sini, rasa penasaran dan perasaan was-was tentang hasil foto adalah satu di antara lain hal yang tak bisa kita alami ketika memotret menggunakan kamera digital. Banyak hal dalam hidup di mana orang rela membayar demi rasa penasaran. (Mengenai ini, kamera digital Leica seri M 60 adalah perkecualian.)

Memotret menggunakan film juga membuat fotografer selalu berhitung, karena biasanya satu roll film hanya berisi 24 dan 36 jepretan. Belum lagi harga film yang mahal ditambah proses cuci-cetak atau scan. Film semakin langka. Saya biasa mendapat film kadaluwarsa dari luar Jawa dan membeli film yang masih fresh dari Malaysia.

Sementara laboratorium foto yang menerima jasa proses film negatif semakin jarang dan untuk film positif, mungkin hanya ada dua tempat di Indonesia.

Itu belum termasuk ujian berat; film salah proses; kekeliruan atau kerusakan teknis kamera; dan apes karena film tidak nyantol. Yang terakhir ini baru saya alami beberapa minggu lalu, film dari lab hanya melambai kosong tanpa gambar, lemas rasanya mengingat perjuangan memotret yang sia-sia.

Tapi para pemotret analog tak jera, termasuk saya. Saya baru memotret lagi menggunakan film sejak Januari lalu. Sebelumnya, terakhir kali saya memotret menggunakan film adalah 2006. Alasan saya memotret film sederhana: bernostalgia sekaligus mengumpulkan foto untuk personal project. Saya ingin memunculkan gambar dengan nuansa masa lalu di masa kini. Butiran kasar gambar hasil film bagi saya memunculkan mood yang khas. Alasan yang tak jauh berbeda ketika John Stanmeyer memotret Bali untuk bukunya “Island of the Spirit”.

Untuk pekerjaan, jelas kami para fotografer tetap menggunakan kamera digital. Majalah atau kantor berita hanya mau menerima foto yang jernih dan tajam untuk pembaca mereka.

Beberapa waktu terakhir ini saya membeli kamera-kamera analog bila keuangan longgar. Sebagian saya beli secara online—yang kadang sesampai di rumah barangnya tidak sesuai deskripsi lalu hanya berakhir tak terpakai. Saya kadang tidak tahu kenapa saya membeli kamera-kamera tersebut selain murah. Mungkin karena saya suka bentuknya yang sederhana.

Film yang Tidak Terduga

Cerita ini dimulai ketika saya membeli kamera rangefinder dari seorang kenalan di Solo. Kamera itu tak pernah dicobanya. Secara umum kamera tua itu dalam kondisi baik. Saya bayar lalu saya pulang. Untuk mengecek kondisi “dapur” dan melihat apakah tabir rana membuka-menutup sempurna, dalam perjalanan di mobil kamera saya buka. Dan alangkah terkejutnya saya ketika mendapati satu roll film masih terpasang di sana.

Jantung saya berdegup lebih cepat. Imajinasi saya terseret ke foto-foto zaman dulu yang biasa saya lihat di buku. Saya membayangkan foto keluarga, foto piknik, dan foto keseharian yang lugu. Kepala saya dipenuhi tanya.

Menilik dari merek dan tipe roll filmnya, foto ini setidaknya telah berusia lebih dari 10 tahun. Negatif yang tidak diproses selama waktu tersebut, biasa muncul gambarnya saja sudah beruntung. Sesampai di Jogja negatif film itu saya masukkan lab. Dua hari kemudian, hasil proses sudah di tangan. Bagian belakang film hitam, mungkin akibat terakhir kali saya buka.

IMG_0189Di sana ada foto momen pernikahan. Saya termangu. Mungkin kamera ini dulunya milik seorang fotografer keliling atau milik kerabat mempelai. Saya tak punya ide dan energi untuk menelusuri pemilik gambar-gambar buram ini. Mungkinkah mempelai berharap melihat rekaman peritiwa penting dalam hidup mereka ini? Bagaimana nasib si fotografer? Kenapa kamera ini bisa ada di pasar?

Bagaimanapun foto-foto ini adalah sejarah hidup manusia. Saya hanya bisa menyimpannya. Gambar yang berisi pesan yang tak pernah sampai.

IMG_0177IMG_0184IMG_0180IMG_0181

 

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan. Bookmark the permalink.

2 Responses to Kisah yang Tak Sampai Dalam Roll Film

  1. udatommo says:

    Selalu menarik tulisannya mas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s