Kristenisasi dan Kekhawatiran yang Tidak Perlu

Pertama-tama, ini hanyalah obrolan saya dengan orang terdekat, yang mungkin membaca posting ini. Membicarakan soal agama memang lebih sensitif dari sekadar berdiskusi tentang ideologi politik.

Kenapa peringatan di atas perlu? Karena ayah saya sering sensitif dan mengeluarkan urat leher bila saya berkomentar soal kisruh politik. Kadang ayah saya memandang saya sebagai musuh ideologinya. Padahal saya, atau kami sebagai rakyat jelata toh tak bisa membuat perubahan kebijakan.

Ceritanya begini: beberapa hari lalu ada berita online yang disebar melalui Facebook tentang kekecewaan ulama lokal atas pawai yang menggunakan salib. Sebelum membaca berita tersebut, saya sudah bisa menebak arah beritanya dengan melihat alamat hompage-nya. Kecil kemungkinan media umum seperti Kompas, Tempo, Detik, menaikkan berita yang isinya menyebar kebencian.

Di Facebook di mana berita itu disebar, saya berkomentar agak ketus. Bahwa orang yang membagi tautan berita itu sama saja turut menyebarkan propaganda kebencian. Saya percaya, beberapa orang yang mengklik share tidak bermaksud demikian. Mereka hanya tidak sadar. Niatnya untuk menunjukkan cara berpikir dangkal si tokoh agama, tapi justru ia malah menjadi corong. Memang hal seperti ini membutuhkan kedewasaan dan wawasan yang cukup untuk mencermati dampaknya. (Mengenai hal ini, saya akan membuat tulisan pendek tentang propaganda.)

Di dalam berita yang tendensius tersebut—yang biasanya ditulis oleh wartawan beraliran fundamental, dan disebar oleh media yang sepaham—si narasumber gelisah tentang Kristenisasi di Solo.

Saya termasuk orang yang tidak percaya Kristenisasi dalam arti mengubah iman Islam menjadi Kristen. Saya percaya misionaris yang mengkristenkan masyarakat Indonesia Timur, termasuk percaya Islamisasi melalui dakwah oleh Walisongo ke masyarakat Jawa pada abad ke-14.

Di zaman yang modern di mana informasi dapat diakses sebanyak yang kita mau, mengimani agama bukan soal rayuan, suruhan, atau sugesti orang lain. Memeluk agama dan berpindah agama adalah pilihan.

Minggu lalu saya mewawancarai tokoh Tionghoa di Lasem yang dua dari empat anaknya berpindah agama menjadi Muslim. Apa si ayah ini bisa melarang? Tentu tidak. Apa orang Kristen dan Katolik protes? Sangat tidak mungkin.

Bulan sebelumnya, saya bertemu lansia di Jakarta yang hidupnya disumbang oleh komunitas gereja. Ia seorang muslim, yang karena kebaikan orang-orang yang menolongnya, ia memutuskan menjadi Kristen. Di situasi ini, tak ada yang salah. Kalau orang Muslim tak terima, mestinya mereka lebih dermawan pada saudara mereka yang Muslim.

Istilah Kristenisasi di Jawa, di mana setiap satu kilometer ada surau atau masjid, bagi saya adalah bualan. Ia adalah istilah yang dihembuskan oleh orang-orang yang tidak percaya diri dengan keyakinannya. Memang Kristen dan Islam bersaing merebutkan dunia ini, tapi di rumah kita, di kampung kita, itu tidak terjadi.

Islam mengajarkan seorang Muslim agar menyampaikan isi kitab barang satu ayat, maka sampaikanlah. Menyampaikan bukan berarti memaksa. Dan mendengar ayat dari keyakinan yang lain, juga bukan berati adalah ancaman.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan, Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to Kristenisasi dan Kekhawatiran yang Tidak Perlu

  1. Isti says:

    Jadi makin penasaran pengen ketemu Mas Taufan kalau ada kesempatan Mas Taufan sedang menjadi pembicara acara keberagaman saya ingin hadir. Mohon berkabar ya Mas. Ingin belajar lebih banyak dari orang yg sudah senior dan berpengalaman. Saya punya WordPress, tapi belum lama diisi, saya sudah pindah ke blogspot.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s