Memotret Isu Kesehatan

Bekerja sebagai jurnalis foto atau fotografer dokumenter bisa dihadapkan pada isu kesehatan. Mulai dari yang ringan seperti vaksinasi balita hingga virus mematikan seperti flu burung (avian influenza).

Bulan April lalu Daniel Berehulak mendapat penghargaan Pulitzer untuk foto-fotonya tentang krisis Ebola di Afrika. Daniel, fotografer freelance yang kebanyakan bekerja untuk The New York Times setelah mundur dari Getty Images ini menghabiskan waktu empat bulan untuk memotret cerita tentang virus yang mematikan.

Daniel melakukan banyak persiapan dan mendapat panduan sebelum memotret Ebola. Memotret isu kesehatan perlu memperhatikan banyak hal, begitupun untuk memotret penyakit atau virus lain di Tanah Air.

Indonesia, negara di mana populasi berkembang sedemikian pesat, masalah kesehatan selalu menjadi isu penting. Keterbatasan air bersih, sanitasi yang buruk, serta bermutasinya banyak virus adalah tantangan yang berat.

Foto: Daniel Berehulak

Foto: Daniel Berehulak

Jijik vs Hati-hati

Dua kata di atas berbeda makna. Hati-hati adalah positif, yang artinya selama kita memotret kita selalu memperhatikan keamanan diri sendiri dan tidak membawa dampak buruk bagi pasien atau subjek. Sedangkan jijik bermakna menghindar secara irrasional atau memotret dengan tidak suka berhadapan dengan penyakit. Jijik membuat memotret tidak tenang, gegabah, dan terburu-buru. Jijik ketika memotret justru bisa lebih berbahaya, selain rugi karena tidak mendapat foto yang bermutu.

Selama kita mengikuti prosedur keamanan, yakinlah bahwa pemotretan akan berlangsung lancar dan kita akan baik-baik saja. Bila berhadapan dengan bau busuk atau menyengat, paksakan diri untuk bernafas normal. Indera penciuman setelah beberapa menit akan beradaptasi secara otomatis. Bila tetap tidak tahan, olesi lubang hidung dengan minyak kayu putih atau balsem.

Berikut ini adalah hal-hal penting yang perlu dicermati untuk memotret isu kesehatan.

Tips:

  1. Riset

Riset adalah modal utama sebelum memotret. 20 tahun lalu fotografer perlu mengunjungi arsip data atau perpustakaan, sekarang ada mesin pencari seperti Google yang menyediakan banyak informasi. Riset memberi kita pengetahuan awal sebelum kita turun ke lapangan. Dengan riset kita tahu apa yang harus difoto, bagaimana memotretnya, memahami langkah-langkah yang efektif, dan mengetahui risikonya.

  1. Ketahui prosedur keamanan

Pengamanan paling dasar adalah kondisi tubuh. Jangan melakukan liputan saat tubuh tidak sehat atau lemah, bila perlu konsumsilah vitamin C.

Hal kedua yang paling sederhana adalah mencuci tangan atau membilas tangan menggunakan antiseptik sebelum masuk dan setelah keluar bilik di rumah sakit. Di pintu masuk rumah sakit biasa disediakan alkohol, tapi kalau kita pergi ke puskesmas kecil ada baiknya kita membeli cairan antiseptik terlebih dahulu di apotek atau swalayan. Mensterilkan tangan sebelum ke ruangan di rumah sakit penting agar kita tidak mengantar bakteri dan virus ketika memegang barang atau berjabat tangan. Sedangkan mensterilkan tangan ketika meninggalkan lokasi pemotretan penting agar kita tidak membawa bakteri dan virus kembali ke rumah atau kantor. Untuk memasuki ruangan yang diisolasi, kadang kita diwajibkan menggunakan kostum khusus yang disediakan rumah sakit.

Virus dari rumah sakit atau daerah endemi bisa menyerang tubuh kita, maka mengelap kamera dengan antiseptik perlu untuk meminimalisasi perkembangan virus (tapi ingat untuk mengeringkannya, dan paling bagus adalah dengan menjemurnya di bawah terik matahari). Pastikan kita mencuci pakaian menggunakan antibacterial secara terpisah dari pakaian lain.

Untuk virus berbahaya seperti flu burung dan flu babi misalnya, temui dokter dan peneliti yang terlibat untuk memastikan kita mengikuti prosedur keamanan mereka. Misalnya harus menggunakan masker, harus memotret di jarak tertentu, dan seterusnya.

  1. Jangan bergaya koboi

Berani itu baik, tapi pahami dulu standar keamanan dan aturan di tempat di mana kita akan memotret. Bila kita akan memotret di rumah sakit, berkonsultasilah dengan humas atau dokter yang relevan. Humas kadang merepotkan, tapi memotret tanpa izin bisa mendatangkan masalah. Kita bisa diusir dan meninggalkan reputasi yang buruk sehingga mempersulit akses.

Dokter yang relevan artinya berdiskusi dengan dokter yang sesuai dengan isunya. Misalnya tema infeksi pernafasan, maka dokter spesialis kulit tidak bisa memberi penjelasan yang tepat untuk melengkapi data foto.

Berikutnya adalah meminta izin pasien. Memotret orang sakit di pengungsian dan di rumah sakit berbeda. Untuk kepentingan jurnalistik kadang kita mengabaikan izin subjek demi kepentingan pembaca, tapi untuk pasien di rumah sakit, izin pasien sangat penting. Memotret pasien, terutama memperlihatkan wajah dengan jelas di dalam rumah sakit bisa berujung masalah hukum yang serius. Untuk hal ini, humas atau dokter bisa menjadi perantara agar kita bisa mendapat izin pasien.

  1. Mencatat

Catatlah diagnosa dan tindakan yang dilakukan dokter/staf medis/peneliti, gejala-gejala yang dialami subjek termasuk kapan ia sakit, obat-obatan yang digunakan, dan seterusnya. Bila istilah khusus terdengar tidak familiar, mintalah dokter atau petugas untuk mencatatkan di notes yang kita bawa. Semakin banyak data yang kita peroleh semakin mudah kita menulis keterangan fotonya (caption). Mencatat data juga penting agar kita tidak salah menulis istilah khusus.

DCS_63576

Foto-foto: Taufan Wijaya

IMG_9248

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in Jurnalistik and tagged , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Memotret Isu Kesehatan

  1. winnymarch says:

    yang nyamuk banyak bgt dah di jkarta raufan

  2. ahaaa menarik untuk disimak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s