Tentang Tubuh Tak Bernyawa di Depan Lensa

Kita tentu masih ingat bagaimana TVone dikecam banyak orang Desember lalu. Stasiun itu menayangkan mayat korban kecelakaan AirAsia QZ8501 yang terapung  di Selat Karimata.

Beberapa anggota keluarga korban yang memantau proses pencarian di Bandara Juanda di Surabaya jatuh pingsan karenanya. Banyak orang merasa stasiun televisi ini tidak berperasaan dan hanya mengejar sensasi belaka. Dan sulit memang menemukan manfaat atau kebaikan dari video yang ditayangkan tersebut, selain menghadirkan kengerian serta pilu.

Jurnalis memang mengemban amanat untuk memenuhi hak masyarakat atas informasi, tapi fungsi jurnalisme kembali dipertanyakan atas keputusan redaksi stasiun televisi ini. Tayangan televisi tersebut cukup mewakili ke mana orientasi jurnalisme kita sekarang. Sebelum kecelakaan ini, foto-foto bencana alam yang mengerikan hasil bidikan jurnalis foto mudah kita temukan di dunia daring.

Menampilkan gambar mayat baik dalam foto maupun video adalah persoalan etika. Dan membicarakan etika seringkali tak bisa sesederhana melihat perbuatan benar atau salah. Etika kadang berupa daerah abu-abu.

Konon Indonesia menganut paham Ketimuran yang katanya lebih sopan dari Barat. Tapi justru TIME yang ketika memuat foto-foto Jerome Sessini tentang kecelakaan Malaysia Airlines memuat peringatan konten. Bunyinya, “Peringatan: Beberapa foto berikut menyeramkan dan mungkin dapat mengganggu pembaca.”

Kelly McBride, ketua bidang etika di Poynter Istitute mengatakan bahwa tak mungkin menunjukkan skala bencana Tsunami tahun 2004 lalu tanpa menampilkan mayat. Bencana tersebut adalah tentang korban jiwa yang sangat banyak dan kerusakan yang begitu besar. Agaknya kita bisa sepakat bahwa kita bisa menerima tayangan korban Tsunami demi memancing perhatian dunia. Menggugah orang untuk mengulurkan bantuan pada korban yang selamat dan memulihkan kota yang porak poranda. Bahwa sebagian orang terganggu atas tayangan foto mayat korban Tsunami, tujuan mulia yang lebih besar harus kita tempatkan lebih utama.

Kantor berita Associated Press lewat proyek APME pernah melakukan survei untuk menguji bagaimana tanggapan pembaca atas foto mayat, satu di antaranya adalah foto korban Tsunami. Survei tersebut melibatkan 2,400 pembaca dan 400 jurnalis. Hasilnya adalah 67 persen jurnalis dan 56 persen pembaca setuju foto korban bencana Tsunami tayang di media.

Bila survei yang sama kita lakukan atas suatu foto bencana banjir di Indonesia yang merenggut nyawa 10 orang misalnya, tentu persentase pembaca yang setuju pemuatan foto korban akan menyusut jauh lebih kecil. Surat kabar harian umum di Indonesia dengan sirkulasi nasional tentu lebih memilih tak menayangkan foto korban demi pembaca mereka.

Di Amerika, asosiasi jurnalis foto memiliki panduan yaitu National Press Photographers Association Code of Ethics. Di pasal keempat terdapat kalimat yang menyebut, “Memaksakan masuk ke peristiwa berkabung hanya jika ada pembenaran bahwa publik butuh untuk melihat.” Sementara Kenneth Kobre dalam bukunya Photojournalism: The ProfessionalsApproach menyebut foto mayat dan tubuh yang tidak utuh sebagai “shocking-picture”. Di sana, pertimbangan apakah foto dimuat hitam putih atau berwarna adalah hal yang harus dipertimbangkan editor.

Sebelum memotret korban tragedi, jurnalis foto bisa mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan ini; Apakah benar-benar paham peristiwa yang terjadi? Apa tujuan fotonya? Apa pertimbangan etikanya? Siapa saja yang akan terkena dampaknya, baik jangka pendek maupun jangka panjang? Bagaimana bila di posisi mereka? Bagaimana meminimalisasi dampak pemuatan foto?

Suatu kali kebakaran menimpa rumah di Boston. Seorang ibu dan anak yang akan diselamatkan oleh regu pemadam jatuh karena rangka tangga daruratnya ambruk. Si ibu meninggal dan si anak selamat meski cedera berat. Foto waktu si ibu dan anak meluncur jatuh bersama rangka, termasuk pot tanaman dari balkonnya dimuat di lebih dari 100 media. Foto tersebut tak menampakkan darah, apalagi jenazah si ibu. Tapi beberapa media menerima banyak keberatan lewat surat dan telepon. Sebagian pembaca yang keberatan ini mengatakan bahwa pemuatan foto tersebut tidak sensitif, sadis, dan seterusnya. Tapi editor tetap bertahan bahwa keputusan pemuatan foto tersebut benar. Foto tersebut kemudian memicu pemerintah setempat merevisi standar operasi penanganan kebakaran. Pada contoh kejadian ini, foto tragedi bisa membuat perubahan.

Kejadian berbeda terjadi di Columbia, Missouri. Seorang anak terjatuh dan tenggelam ke dalam air saat permukaan es yang ia injak runtuh. Koran lokal di sana kemudian menerbitkan foto ketika tim penyelamat mengangkat jenazah anak tersebut dari dalam air yang beku. Sehari setelah foto tersebut dimuat, ibu korban datang ke kantor media. Ia berterima kasih pada editor dan meminta beberapa cetakan koran. Ia berharap dengan dimuatnya foto tersebut, orangtua tak lagi membolehkan anak mereka bermain di atas permukaan es di atas sungai.

Indonesia tak bisa lepas dari bencana karena kita hidup di Cincin Api dan daerah patahan di beberapa wilayah. Kita juga memiliki cuaca yang sering ekstrem. Bagaimana kita, sebagai fotografer dan jurnalis, mewartakan bencana-bencana tersebut adalah pertanyaan yang harus kita tanyakan kepada diri sendiri. Apakah kita benar-benar mewakili publik, atau sekadar memenuhi hasrat merekam gambar semata?

Jurnalis foto mesti mengingat pernyataan ombudsman The Washington Post ini, bahwa, “…Gambar di TV datang dan pergi. Tapi gambar diam di surat kabar akan abadi.”

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in Jurnalistik and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Tentang Tubuh Tak Bernyawa di Depan Lensa

  1. winnymarch says:

    iya yg di surat kabar seperti abadi ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s