Fotografi Melalui Salon

Pehobi foto dari berbagai penjuru provinsi berkumpul di Semarang di tengah Oktober ini. Mereka menghadiri kontes foto akbar tahunan, di mana foto-foto karya mereka diadu di satu hotel di tengah kota.

Foto karya Asad Khalid yang menang Kategori Cetak Warna

Foto karya Asad Khalid yang menang Kategori Cetak Warna

Kursi-kursi disusun berjajar menghadap dua televisi layar datar yang dijadikan proyeksi penjurian. Para penyaksi menyimak tampilan layar dengan rasa senang, penasaran, kecewa, dan segala perasaan yang mungkin timbul pada pencipta yang karyanya dihargai atau dicampakkan. Sesekali mereka berkomentar pada sejawatnya.

Layar menampilkan foto-foto berikut nilai yang diberikan para juri yang berada di ruangan sebaliknya yang lebih sejuk. Satu waktu muncul foto “mama” Papua yang menetekkan susu ke anaknya, di waktu lain model berleher jenjang berkostum tak lazim yang hanya pernah hadir di dunia fantasi. Ada ribuan foto yang beradu di kontes bernama Salonfoto Indonesia (SFI) tersebut.

Di Indonesia, foto salon dipopulerkan oleh klub-klub yang kemudian membentuk Federasi Perkumpulan Senifoto Indonesia (FPSI) pada 1973. Kata “seni” yang digunakan FPSI mungkin merujuk pada Fédération Internationale de l’Art Photographique (FIAP) yang dicetuskan oleh seorang Belgia 27 tahun sebelumnya.

FIAP adalah organisasi yang disebut sebagai induk fotografi salon. Ia mewadahkan klub foto dari 85 negara di lima kontinental. Tapi term “salon” juga merujuk pada Photographic Society of America (PSA)—lihat After the Photo-Secession : American Pictorial Photography 1910 – 1955, W.W. Norton & Co., Inc. New York, 1997.

Bila seni identik dengan ekspresi dan keindahan, foto salon  mengedepankan keindahan. Atau dengan penyebutan yang lebih seksi, foto salon adalah “foto-foto cantik.”

Seorang juri SFI berujar bahwa “salon” dalam foto salon ibarat salon kecantikan, salon mobil dan sejenisnya. Tujuannya adalah memperindah sesuatu.

Karena yang terpenting adalah keindahan gambar, maka fotografer salon tidak memotret asal-asalan. Mereka mempersiapkan ide dan mengatur apa-apa yang akan difoto sebagus mungkin, baik dari segi pencahayaan, sudut pemotretan, dan momen. Kemampuan teknis adalah prasyarat utama dalam foto salon.

Sebelum berburu foto mereka biasa melakukan riset tentang kapan waktu atau musim yang tepat, apa saja objek fotonya, alat apa saja yang diperlukan, dan lain-lain. Dalam sekali perburuan, lumrah bagi para pehobi ini menghabiskan biaya puluhan juta rupiah.

Tidaklah tepat orang yang mencemooh foto salon mengada-ada karena semua isinya adalah rekayasa. Yaitu subjek fotonya didatangkan, kejadiannya diatur, tempatnya ditata termasuk kostumnya. Mereka lupa bahwa foto salon ibarat panggung teater dengan fotografer sebagai sutradaranya.

Dengan melihat foto salon sebagai seni, maka kita mesti menyejajarkannya sebagai karya patung atau lukisan—yang sengaja dibentuk dan diciptakan. Foto salon bukanlah foto dokumenter atau jurnalistik yang menuntut kebenaran fakta.

Kontes

Bila foto di dunia fotografi komersial akan paripurna ketika klien membayar fotografer sebagai upah, di jurnalistik ketika foto tayang (published), maka di dunia salon penghargaan bagi fotografernya adalah memenangi SFI. Di sana foto dianugerahi penghargaan gold, silver, bronze, honorable mention (HM), dan accepted.

Suasana penjurian Kategori Monokrom.

Suasana penjurian Kategori Monokrom.

Kontes SFI digelar setiap tahun dengan penyelenggaranya adalah klub yang telah diberi mandat oleh FPSI. Untuk tahun 2015 ini, dilombakan empat kategori, yaitu: cetak warna; monokrom; fashion; dan travel. Peserta bisa ikut dengan mencetak foto dalam format tertentu sesuai aturan penyelenggara lomba.

Penjurian kontes SFI dilakukan secara terbuka dengan juri berjumlah lima orang di tiap kategori. Juri adalah perwakilan klub-klub yang telah dipilih oleh penyelenggara lomba. Sementara penjurian terbuka artinya siapapun dapat menyaksikan proses penjurian.

Ada tahap penyaringan dan penentuan pemenang dalam penjurian foto. Yang menarik adalah penggunaan nilai (poin) untuk menentukan foto yang lolos. Pada tahap penyaringan, juri akan memberi nilai 1 atau 5. Foto yang lolos tahap ini minimal bernilai 17 atau ada tiga juri yang memberi nilai 5.

Pada tahap penyaringan ini kita bisa melihat (dan mengukur) kompetensi dan selera juri. Tak jarang ada foto yang diberi nilai 5 oleh satu orang juri tapi empat juri lainnya masing-masing memberi 1.

Kita bisa berasumsi bahwa foto yang “baik” atau yang lolos penyaringan di kontes ini adalah yang diakui oleh lebih dari separuh juri. Dan bila lebih dari separuh komposisi juri adalah orang-orang lama yang memiliki selera seni klasik, maka foto-foto yang keluar sebagai pemenang adalah representasi mereka—yang relatif sama sejak dekade lalu. Sehingga satu atau dua juri “muda” dan fotografer yang didatangkan dari non-salon tak cukup memberi perubahan yang signifikan.

Orang-orang lama yang dimaksud di tulisan ini adalah pemotret yang telah berkecimpung di foto salon sejak 30-20 tahun silam. Lalu, ke mana seni itu akan berkembang? Tentu bergantung kepada para senimannya. Tua usia mestinya tidak selalu usang dalam cita rasa dan pemikiran.

Peran Foto Salon

Situs FIAP mencantumkan slogan “Amateur Photography throughout the World.” Di Tanah Air, sebagian fotografer yang aktif di foto salon adalah fotografer profesional.

Para fotografer pehobi sebagai amatir dan profesional adalah pasar industri fotografi. Sebagai pasar, para pemotret ini menggerakkan roda ekonomi negeri. Bisnis di dunia fotografi hidup dan tumbuh subur. Jangan heran bila fotografer salon ngumpul, mereka bisa membicarakan merk kamera dan lensa A,B,C selama berjam-jam.

Bila foto salon dianggap sebagai genre, tentu ia berperan memperkaya khasanah fotografi—berdampingan dengan foto arsitektur, foto satwa, foto jurnalistik, dan seterusnya.

Foto salon dengan kontesnya juga menjadi wahana yang menyatukan banyak fotografer dari pelosok negeri, dari berbagai macam pekerjaan, agama, dan ras. Foto salon menghubungkan banyak orang dengan bahasa keindahan.

Sebagai pendokumentasi, foto salon juga turut melengkapi arsip visual kita. Lewat foto salon kita bisa melihat bagaimana orang berbusana di tahun 70-an, bagaimana Reog Ponorogo dipentaskan, bagaimana bentuk Subak di Bali, bagaimana orang menjala ikan di danau, dan seterusnya. Mungkin kekurangannya hanyalah masih banyak fotografer di foto salon yang terjebak romantisme pedesaan, misalnya, mereka masih suka memotret aktivitas berlatar jalan setapak atau rumah beranyam bambu.

Sebagai penutup tulisan ini, kita bisa berharap para pegiat foto salon menelaah kembali hakikat pencantuman kata “seni” dalam foto salon. Yaitu sudi melihat seni secara lebih terbuka, dengan menerima bentuk yang kontemporer. Bila masa itu telah datang, di mana fotografer kontemporer justru masuk dalam kategori foto salon (yang berseni), tentu foto salon bukan dilihat sebagai cetakan era renaissance.

Foto salon bisa berevolusi tanpa harus menjadi bentuk yang baru. Karena fungsi yang lain telah diperankan oleh disiplin fotografi yang berbeda.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

14 Responses to Fotografi Melalui Salon

  1. agus nonot supriyanto says:

    Suka tulisannya…..
    Semoga seni fotografi tanah air maju dan berkembang.

  2. Christian Raphael says:

    coba ikuti Bandung International Salon of Photography , dateline 27-11-2015
    bisp.paf-bandung.com
    Mungkin anda akan dapat masukan / pencerahan / dsb .. karena juri lokal kombinasi dengan juri international.

  3. Reza Fiqih Nurzaman says:

    “Mungkin kekurangannya hanyalah masih banyak fotografer di foto salon yang terjebak romantisme pedesaan, misalnya, mereka masih suka memotret aktivitas berlatar jalan setapak atau rumah beranyam bambu”

    Bagian paling epic dari tulisan ini, nice writing dude.

  4. mantap… semoga silaturahmi tetap terjaga untuk semua pecinta fotografi

  5. Fresh Idea, from fresh generation…..

  6. Adem rasanya membaca ulasannya, mas…Suwun.
    Semoga perubahannya sudah menampakkan hasilnya di SFI ke 36 ini sesuai keinginan Be Different itu sendiri…

    Berubah, walaupun terlihat lamban, daripada tidak berubah sedikitpun

  7. bariparamarta says:

    Terima kasih sdh berbagi. Karya tulisnya sangat salon lho mas… tp salon speaker, punya daya kemepyar🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s