Ketika Mereka Sinis pada Solidaritas Tragedi Perancis

Siang ini saya prihatin mendapati beberapa orang mencibir gambar profil bendera Perancis di media sosial. Bukan lantaran saya (secara temporer) mengaplikasikan profil bergaris biru-putih-merah itu selama seminggu, tapi cibiran menunjukkan sikap anti-solidaritas atas kekejaman teroris yang menyerang negeri itu.

Saya menerapkan aplikasi itu seketika saat Facebook menawarkannya sebagai solidaritas pada negeri itu, di mana 128 warganya tewas atas serangan di enam titik di Paris. Selain saya, beberapa teman telah menggunakannya. Setelah seminggu, profil saya akan kembali ke sediakala.

Golongan pencibir yang sinis ini mengolok-olok aksi kami sebagai kebodohan orang yang suka ikut-ikutan, dan menggugat ke mana kepedulian kami pada bencana kabut asap.

Para penyinyir ini tidak tahu bahwa ketika harian Republika menampilkan halaman depan keruh berkabut asap, banyak juga orang yang mencibir. Mereka mencela karena melihat kebijakan redaksi Republika sebagai intervensi politik.

Percayalah, semua iktikad baik akan selalu dicemooh.

Screenshot_2015-11-16-14-48-19_1_1Orang-orang yang mencemooh di laman Facebook ini adalah orang yang saya kenal. Bila mereka ingin mengajari kami untuk peduli dengan kabut asap, rasanya kurang pas. Ketika kabut asap terjadi, mereka berada di tempat yang tidak terkena sedikitpun imbasnya.

Saya termasuk orang yang menghirup kabut asap waktu berada di Kuala Lumpur di Malaysia. Sesaknya kabut asap masih ditambah derita membaca suratkabar. Banyak kolom opini suratkabar Malaysia yang mencela kita, Bangsa Indonesia. Mendapati Tanah Air dihina semakin menyesakkan dada.

Kembali ke soal tragedi di Perancis. Saya prihatin atas tragedi serangan teroris itu. Bukan semata pada korban serangan, tapi pada jutaan umat muslim lain pasca-teror.

Suatu sore sesudahnya di emperan pusat perbelanjaan mewah di Kuala Lumpur seorang ibu bermukena duduk berselonjor. Petugas keamanan menghampirinya untuk memintanya berdiri. Tapi yang terjadi sungguh mengejutkan, pria yang mungkin suami si perempuan ini marah. “Kenapa, hah? Apa karena kami Islam?”

Sentimen agama kemudian bisa menjadi bahan perseteruan. Saya membayangkan teman atau saudara saya yang berjenggot akan (semakin) dipandang curiga bila melenggang di tempat publik di Eropa sana. Betapa besar dampak serangan teroris ini. Kerugian terbesar dari serangan teroris adalah pada umat Islam itu sendiri.

Kembali ke soal gambar profil di Facebook, mestinya ketidaksetujuan tidak selalu diwujudkan dengan celaan. Tapi begitulah sifat dasar manusia modern, energi yang berlebihan kadang tidak disalurkan untuk hal-hal yang positif. Saya memilih tidak berkomentar di status yang sama.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Ketika Mereka Sinis pada Solidaritas Tragedi Perancis

  1. tamara syah says:

    Nice Topic.
    Yups, saya jga sedikit menyayangkan kepada mereka yg “nyinyir” soal #prayforparis, entah memang di dasari karena peduli, atau malah ‘naif’. Seolah kita hanya memandang sebelah mata tragedi kemanusiaan ini dan tutup mata soal tragedi di Suriah, Afhgan, dll.

    Seharusnya sedikitnya kita bisa melihat dari segi lain, bahwa yg di takutkan adalah pasca tragedi, islam semakin di cap mengerikan, padahal terorisme jauh dari substansi islam.

    Semoga yg terbaik selalu tertuju bagi kita semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s