Tips Mengerjakan Foto Cerita

Selain memahami bentuk Foto Cerita (photo story), keberhasilan bercerita melalui rangkaian foto bergantung pada persiapan, pengerjaan, dan pasca-produksi. Berikut ini adalah beberapa tips untuk membantu mengerjakan Foto Cerita.

Pilih topik

Pilih topik yang menarik minat kita. Bila Anda tidak tertarik dengan bahaya merokok, jangan mengambil itu sebagai tema cerita. Kita akan lebih mudah bercerita bila kita punya ketertarikan terhadap topik atau isu tersebut. Topik yang menarik minat kita adalah modal, sehingga kita akan lebih kreatif dan antusias dalam memotret. Bila kita memilih hal yang menarik, pada akhirnya pembaca bisa menangkap cerita itu sebagai sesuatu yang menarik.

Topik atau tema bisa diperoleh dari mana saja, dari jalanan; mal (sembari duduk minum kopi kita bisa mengamati tren dan fenomena sosial dari tingkah laku dan percakapan pengunjung mal); obrolan dengan tukang parkir atau satpam; pemilik warung; pedagang di pasar; dari polisi; dari pasien rumah sakit; dari hasil survei; dan mengonsumsi berita. Isu-isu yang berpotensi menjadi Foto Cerita seringkali muncul dari berita baik di media cetak seperti koran dan majalah atau media elektronik dan online. Berita tentang kekerasan pada asisten rumah tangga (pembantu /PRT/ART) misalnya, bisa menjadi bahan cerita.

Pelihara silaturahmi dengan menghubungi teman-teman lama. Luangkan waktu untuk mengobrol karena informasi dari mereka bisa memunculkan ide cerita.

Google juga merupakan ladang ide yang tak habis dipanen. Banyak hal bisa kita temukan melalui mesin pencari yang canggih ini.

Bacalah buku. Buku memang jendela dunia, maka lihatlah melalui jendela itu cerita-cerita tentang kehidupan.

Ide cerita juga bisa berasal dari pengalaman pribadi. Beberapa fotografer membuat Foto Cerita tentang ibunya yang menderita Alzheimer, saudaranya yang kecanduan alkohol, dan seterusnya.

Terakhir adalah melihat-lihat banyak foto. Gambar-gambar tunggal kadang menginspirasi dan memunculkan gagasan bahwa tema di dalam foto tersebut akan lebih menarik dan lebih kuat bila dijadikan Foto Cerita.

Terukur

Pilih topik yang bisa dijangkau. Segalanya memang mungkin di dunia ini, tapi memilih tema Foto Cerita tentang keseharian presiden adalah hal yang sulit dijangkau bila kita tidak berteman dengan presiden atau jurnalis yang punya akses ke presiden. Memilih topik yang sulit dan menantang seringkali memicu kita untuk bekerja lebih keras, tapi hal yang terlalu jauh dari jangkauan bisa menghabiskan energi dan waktu.

Bila tema yang ingin kita kerjakan menuntut kita pergi ke beberapa tempat, kita harus bertanya pada diri sendiri apakah kita bisa mengunjungi tempat-tempat tersebut. Tema yang bisa dijangkau bukan hanya soal akses, tapi menyangkut biaya. Apakah kita memiliki dana yang cukup untuk mengerjakan tema cerita yang kita kerjakan? Apakah dana berasal dari kantong pribadi ataukah dari sponsor? Dan seterusnya.

Dalam Foto Cerita, tema yang akan kita kerjakan sebaiknya adalah tema yang sesuai dengan jangkauan kita. Tujuannya adalah membuat Foto Cerita itu bisa selesai.

Alokasi waktu

Foto Cerita penugasan oleh media pada jurnalis foto atau fotografer yang dikontrak selalu memiliki waktu tenggat (deadline), tapi proyek pribadi seringkali tidak terikat waktu. Banyak fotografer memilih untuk membiarkan cerita yang mereka kerjakan mengalir alami hingga waktu yang tidak mereka ketahui. Namun perlu diingat, mengerjakan Foto Cerita tanpa deadline bisa mengurangi fokus sehingga banyak fotografer yang akhirnya tidak menyelesaikan ceritanya. Tema cerita yang menyangkut tren mode misalnya, menjadi basi karena tidak terselesaikan sesegera mungkin.

Alokasikan waktu berdasar kebutuhan cerita. Bila Anda bukan bekerja sebagai fotografer full-time yang hanya memotret di waktu luang atau di waktu libur, hitunglah kebutuhan waktu pengerjaan dengan waktu yang Anda miliki dan buatlah deadline.

Berapa lama waktu riset? Berapa banyak tempat yang harus dikunjungi? Siapa saja orang yang perlu difoto? Dan seterusnya. Bila cerita yang kita kerjakan berkembang di tengah jalan, evaluasi lagi deadline yang telah kita buat untuk menyesuaikannya.

Riset

Riset adalah kunci keberhasilan. Salah satu hal yang membuat para fotografer ternama menghasilkan banyak Foto Cerita yang kuat adalah mereka melakukan riset secara mendalam. “Let’s get lost” yang sering menjadi semboyan traveler tidak berlaku bagi fotografer. Tanpa bekal informasi kita akan kehabisan energi, waktu, dan biaya. Akibat paling buruk adalah cerita kita tidak selesai karena kita tidak tahu apa yang akan kita ceritakan.

Riset penting untuk memahami tema yang kita pilih dan bagaimana mengerjakannya. Dalam riset, kumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang:

  • Tema yang kita pilih (Apa? Bagaimana? Kapan? Di mana?)
  • Subjek cerita (Siapa saja? Apa latar belakang subjek? Apa perannya di dalam cerita? Bagaimana cara menemuinya?)
  • Lokasi cerita (Berapa banyak tempat yang harus dikunjungi? Bagaimana menjangkau lokasi? Apa latar belakang tempat? Bagaimana budayanya? Bila perlu akses khusus, siapa yang berwenang? Dan seterusnya).

Tanpa riset, kemungkinan besar fotografer akan kebingungan di tengah jalan.

Persiapan

Bila tema yang kita pilih menuntut pergi ke tempat dingin, persiapkan baju hangat. Bila perlu menempuh medan berat atau hingga naik gunung, siapkan fisik yang prima dengan berolahraga. Bila perlu ke hutan yang berendemi malaria, pastikan kita telah mengonsumsi obat penangkalnya.

Persiapan berikutnya adalah peralatan. Buat daftar alat-alat yang diperlukan dan pelajari cara mengoptimalkannya melalui buku manual, melihat Youtube, dan seterusnya.

Libatkan orang lain

Pekerjaan kreatif biasanya sangat personal, terutama di bidang fotografi. Tapi terlalu mengedepankan penilaian sendiri kadang membuat penglihatan kita tidak jernih. Hal yang terasa begitu penting bagi kita serta pengalaman pribadi seringkali membuat kita susah melihat persoalan secara terbuka.

Contoh sederhana adalah ketika kita memotret sesuatu di mana kita harus berkorban waktu lama untuk menunggu, bersusah payah memeroleh akses, ditambah pengalaman tidak mengenakkan, membuat apa yang berhasil kita foto terasa begitu spesial. Padahal bisa saja menurut orang lain foto tersebut sangat biasa atau klise. Karena sisi emosional kita lebih mendominasi, penilaian kita terhadap foto tersebut jadi jauh dari objektif. Untuk mengatasi hal ini, libatkanlah orang lain.

Mintalah pendapat fotografer yang kita percaya atau yang kita anggap berpengalaman. Tanyakan pada teman yang menyukai karya-karya kita dan tanyakan juga pada orang yang tidak mengenal karya-karya kita. Komentar dan penilaian mereka dapat membantu kita menyeleksi foto dengan lebih baik.

Yang paling ideal adalah melibatkan kurator pada proses editing. Kurator memiliki pengalaman visual dan wacana sehingga mampu melihat cerita yang kita hasilkan dari sudut yang lebih lebar.

Memotret sebanyak mungkin

Kita tidak tahu apa yang terjadi saat editing. Fotolah sebanyak mungkin ketika di lokasi. Jangan malu banyak memotret dan jangan buru-buru menghapus foto yang kita anggap gagal. Simpanlah foto-foto tersebut dengan folder yang berisi informasi tanggal pemotretan dan kata kunci.

Seringkali untuk menghubungkan foto satu dan lain diperlukan foto penghubung, dan bisa saja yang kita perlukan adalah foto yang semula tidak kita anggap penting. Atau bisa saja tema yang kita pilih menjadi lebih kuat bila disusun dari foto-foto yang awalnya kita kira sebagai “sampah” yang kita anggap tidak berguna.

News peg

Bila Foto Cerita yang kita kerjakan untuk kebutuhan jurnalistik (untuk dimuat), usahakan memiliki news peg. Yaitu sangkutan berita, atau peristiwa dan isu yang berkait dengan berita yang hangat. News peg menjawab kenapa Foto Cerita kita penting dibaca sekarang.

Fokus

Berkonsentrasi pada satu elemen cerita di dalam tema yang dipilih membuat kerja lebih terorganisasi. Jangan terlena dengan hal-hal yang bersifat umum hanya demi keindahan tampilan foto. Banyak fotografer terlena pada segala sesuatu yang tidak relevan dan membuang banyak waktu.

Bila di tengah jalan kita menemukan cerita yang lebih menarik di isu yang kita pilih dan ingin berganti topik, segera evaluasi perencanaan. Menjaga fokus bukan berarti menutup diri dari improvisasi. Tapi tanpa fokus, kerja menjadi tidak efektif dan hanya menghasilkan cerita yang membingungkan.

Mencatat

Ingatan manusia terbatas. Suatu foto yang penting seringkali menjadi tidak bernilai karena kita lupa informasi di dalamnya. Di sanalah pentingnya teks untuk melengkapi foto, yaitu memberi konteks.

Kecuali foto peristiwa sangat besar yang langsung mudah diidentifikasi, kekuatan foto bergantung pada teks berupa caption dan naskah pengantar.

Akan lebih baik bila kita juga memiliki arsip audio berupa rekaman suara. Rekamlah obrolan dengan subjek foto, narasumber, dan suasana lokasi cerita (deru mesin, suara di peternakan, dan seterusnya). Di era multimedia, Foto Cerita sering disajikan dalam slide show atau format video di mana suara adalah bagian penting untuk memperkuat pesan.

Yang terakhir adalah mulailah memotret. Bila tidak segera dimulai ide hanya akan berdiam sebagai ide.

(Tips Mengerjakan Foto Cerita ini adalah bagian kecil dari buku handbook tentang Photo Story yang segera terbit.)

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in Jurnalistik and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Tips Mengerjakan Foto Cerita

  1. Sandhi Irawan says:

    Salam kenal Mas Taufan…
    Tulisan yang sangat menarik (dan inspiratif). Apakah “handbook” tentang “Photo Story” sudah terbit? Jika ya, tolong saya dikabari.
    Terima kasih.

    ■ sandhii

    • taufanwijaya says:

      Salam mas Sandhi. Terima kasih sudah mampir.
      Handbook sedang masuk tahap cetak minggu ini. Semoga bulan depan sudah ada di toko buku Gramedia.

    • taufanwijaya says:

      Halo mas Sandhi. Photo Story Handbook sudah terbit, mungkin akan terdistribusi ke toko buku Gramedia se-Indonesia tengah Agustus ini. Terima kasih, salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s