Foto Berita Terbaik Dunia dan Harapan yang Kabur

Dalam keremangan, seorang pria pengungsi meraih bayinya yang diteroboskan melalui pagar kawat berduri ketika melintas perbatasan di sekitar Horgoš di Serbia menuju Hungaria. Momen ini direkam oleh jurnalis foto lepas Warren Richardson.

Migrants crossing the border from Serbia into Hungary.

Migrants crossing the border from Serbia into Hungary.

Bingkai gambar hitam putih tersebut adalah kilasan kenyataan yang dilalui oleh ratusan ribu pengungsi dari Suriah, Pakistan, Afghanistan, dan Irak, yang mengalir ke Uni Eropa. Mereka harus mengendap-endap atau berlari menghindari aparat yang akan menghalau mereka dari tanah impian. Pilihan mereka adalah mati mengejar mimpi di negeri asing atau berkalang tanah di tanah air mereka sendiri yang diamuk perang.

Juri kontes World Press Photo (WPP) 2016 sepakat memilih foto Richardson (48) sebagai foto jurnalistik terbaik. Fotografer berkebangsaan Australia yang menetap di Budapest ini berkemah di perbatasan untuk mengabadikan cerita imigran pengungsi. Kegigihannya meliput imigran pengungsi membuatnya pernah turut menjadi korban pemukulan polisi. Saat malam, nurani jurnalistik Richardson juga mengatakan bahwa ia tak semestinya menggunakan lampu kilat agar tidak membahayakan subjek fotonya. Dini hari pukul tiga 28 Agustus 2015 itu, dalam temaram cahaya bulan, bidikan dengan sudut rendah Richardson telah membekukan momen kemanusiaan yang begitu kuat dan menghantui.

WPP sepertinya memang selalu berpihak pada kemanusiaan dan harapan. Setelah isu Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) dianggap mewakili pewartaan terpenting di tahun lalu, kini foto pengungsi dianggap kembali menjadi isu utama dunia.
Harapan juga membentang ke aspek budaya, lingkungan, termasuk satwa. Sehingga Tim Laman, mewakilkan satir masa depan orangutan di Sumatera lewat photo story-nya, mendapat penghargaan 1st Prize Stories kategori Nature.

Kontes foto jurnalistik tahunan yang ke-59 kali ini diikuti oleh 5,775 fotografer dari 128 negara yang menyertakan 82,951 foto mereka. Penghargaan dari delapan kategori jatuh pada 41 fotografer dari Australia, Austria, Brazil, Kanada, China, Prancis, Jerman, Iran, Itali, Jepang, Mexico, Portugal, Rusia, Slovenia, Afrika Selatan, Spanyol, Swedia, Switzerland, Suriah, Turki, dan Amerika Serikat.

Foto jurnalistik adalah alat yang ampuh untuk mengguncang kesadaran pemirsanya. Ketika foto-foto penyiksaan tahanan penjara Abu Ghraib oleh pasukan Amerika dimuat media pada 2004, banyak orang bereaksi keras. Membuat Sekretaris Pertahanan Donald Rumsfeld kalang kabut karena dituntut mundur dari jabatannya.

Susan Sontag, dalam bukunya Regarding the Pain of Other (26 tahun setelah menerbitkan On Photography) menyatakan bahwa foto dapat merepresentasikan kesengsaraan manusia, mengajarkan kita bagaimana memahami kehilangan, dan sadar akan harga yang harus dibayar atas perang.

Tentang foto ayah dan bayi pengungsi, Ketua Juri WPP 2016 Francis Kohn, dalam pernyataan resminya berkomentar, “Ketika kami melihat foto ini di awal kami tahu ini akan menjadi foto penting. Foto ini mempunyai kekuatan karena kesederhanaannya, terutama simbol kawat berduri. Kami berpikir segalanya ada di gambar ini untuk memberi visual yang kuat tentang apa yang terjadi pada para pengungsi. Saya merasa ini adalah foto yang klasik, dan di saat yang sama tidak lekang oleh waktu. Foto ini menggambarkan sebuah situasi, tapi dikerjakan secara klasik dalam cita rasa kata,” katanya. Kohl adalah direktur Agence France-Presse.

Apa yang dihadirkan Richardson memanglah bukan pemandangan baru. Ketika Kosovo dilanda perang pada 1999, jurnalis foto Carol Guzy yang bekerja untuk the Washington Post memotret bocah Agim Shala (2) yang diseberangkan kepada kakeknya melewati pagar kawat di pengungsian di Kukes, Albania. Foto tersebut mendapat penghargaan Pulitzer di tahun berikutnya, membuat Guzy menjadi perempuan pertama yang mendapat penghargaan tersebut.

Imaji Guzy dan Richardson memang akan selalu berulang. Dan jurnalis foto, yang memiliki kemampuan mewartakan cerita dapat menyuarakan penderitaan mereka. Karena, seperti argumen Gayatri Chakravorty Spivak dalam esainya yang sangat berpengaruh, mereka adalah “subaltern” yang tak mampu bersuara.

Kini, setelah subjek foto Richardson mampu mengungsi ke Eropa, masalah belum selesai. Mereka misalnya, harus menghadapi diskriminasi di tanah yang baru. Harapan mereka masih kabur, sekabur foto Richardson dari rana yang mengatup pelan.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in Jurnalistik and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Foto Berita Terbaik Dunia dan Harapan yang Kabur

  1. hadi says:

    Foto yg luarbiasa dn menginspirasi🙂

  2. wenceu says:

    berarti bisa saja ya ada Richardson Richardson selanjutnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s