Ke mana fotografi?

Suatu sore di jalanan kota kecil Yogyakarta yang macet, sembari mendengar lagu-lagu terkini dari radio, saya mengobrol dengan teman yang resah karena adiknya memilih karier di bidang fotografi.

Saya tidak bisa berkomentar banyak karena sulit rasanya menggambarkan industri fotografi masa kini. Kemudian sesampai di rumah, saya berpikir hal-hal berikut:

– Seorang teman fotografer dokumenter yang sukses, pesimis bagaimana fotografer dokumenter dan jurnalistik bisa hidup enak karena honor foto di Indonesia rendah. Ia sendiri hidup dari bisnis komoditas, bukan dari fotografi.

– Seorang teman jurnalis freelance mulai diberi penugasan ke Taiwan. Ini cukup langka mengingat banyak fotografer lepas tanah air hanya ditugasi untuk memotret isu dan peristiwa di Indonesia. Artinya, jurnalis foto kita mulai tak hanya diakui dunia tapi berkelas dunia.

– Fotografer komersial yang menjadi brand-ambassador sebuah merek kamera (kalau saya sebut mereknya nanti langsung nunjuk orang.hehe), banyak mendapat uang bukan dari karya fotonya secara komersial, tapi dari portal komunitas; event; penjualan aksesori dari portalnya. Ia juga mahir public speaking. Artinya, ia sendiri adalah merek dagang. Ia membangun reputasinya sebagai fotografer dan meraup pendapatan dari segala sesuatu yang terkait dengan dirinya dan portal komunitas miliknya.

– Seringkali media atau kantor berita meminta materi video saat saya mengirim foto dari isu-isu yang menarik. Minggu lalu, saya mengerjakan foto, video, dan sekaligus teks untuk media asing. Kemudian mereka menulis saya di kredit berita sebagai “producer.” Saya tidak punya asisten. Hanya berbekal kamera mirrorless, mikrofon, tripod ringan, dan continuous light. Artinya, tak cukup memotret saja, tapi harus kerja keras dan multi-tasking.

– Seorang jurnalis foto koran besar malang-melintang sebagai pembicara fotografi dan juri lomba. Tak hanya jurnalistik, tapi mulai travel sampai fotografi astronomi. Ia punya kolom berkala tiap minggu sekaligus host tayangan fotografi di televisi. Artinya fotografer bisa juga menjadi selebriti.

– Di Instagram saya menemukan banyak fotografer model yang bagus yang baru saya dengar namanya. Artinya modelling photography melesat tak terkira dan bisa jadi persaingannya sangat sengit. Kalau Anda fotografer perempuan dan dianugerahi wajah rupawan dan atau bodi aduhai, mungkin bisa nyambi sebagai model.

– Media besar seperti the Post dan Time selalu menugasi fotografer yang sama untuk memotret isu di Indonesia. Artinya regenerasi di fotografi jurnalistik sangat lambat. Mungkin nunggu yang senior pensiun dulu baru yang muda giliran dapat penugasan🙂

– Kelas fotografi dari seorang kurator fotografi selalu penuh peserta. Padahal kelasnya tidak murah. Artinya, di fotografi seseorang bisa berkarier sebagai pengajar lepas (bukan hanya sebagai dosen tetap di kampus).

– Ada teman yang ikut kontes foto berpuluh tahun dan masih menang lomba foto sampai sekarang. Ia dikenal sebagai juara lomba. Para jawara lomba foto tak hanya mahir teknis, kebanyakan dari mereka punya keahlian sebagai sutradara yang bisa mengatur ini dan itu.

– Seorang kenalan di Semarang yang berbisnis album foto dan printing pakai Lexus dan BMW X5. Keduanya adalah luxury car. Artinya, usaha di sektor fotografi sangat menguntungkan. Usahanya di bidang supporting, bayangkan keuntungan di bidang main sector seperti distributor kamera.

– Seiring jumlah penduduk yang terus meroket, wedding photography akan selalu dibutuhkan hingga suatu masa di mana orang Indonesia mulai malas menikah🙂 Ada yang dibayar berpuluh juta sekali acara, banyak juga yang beberapa ratus ribu. Selain portofolio, jaringan dengan bridal dan EO adalah modal utama di bisnis ini.

– Banyak buku fotografi dari proyek personal yang laris. Produksi buku sekarang jauh lebih murah, katakanlah dibanding tiga tahun lalu, jadi membuat buku foto tidak akan menguras kantong. Memiliki buku foto mendatangkan keuntungan ganda: reputasi dan uang. Buku fotografi adalah saluran foto yang tangible di masa depan bila media cetak berguguran.

Poin-poin di atas hanyalah cerita saya yang subjektif tentang fotografi. Masih banyak yang tidak saya ketahui dalam fotografi yang luput untuk diceritakan. Tapi dari itu semua, saya hanya bisa bilang bahwa fotografi luas dan meskipun semakin sulit karena persaingan namun tetap menawarkan banyak kemungkinan. Orang bisa memilihnya menjadi karier atau sekadar untuk bersenang-senang.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Ke mana fotografi?

  1. ibellicious says:

    Mantab ulasannya.. 👍

  2. ist@photography says:

    Veri-very reasonable

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s